Ayam gundul

Pagi merupakan jadwal kami ke pasar, sekedar memenuhi kebutuhan perut yang mulai menggelitik. Pasar di dekat asrama ini tidak seberapa besar. Hanya gang kecil yang dipenuhi penjual-penjual. Penjual pakaian, makanan, sembako, gorengan, tas, sendal, susu kedelai, ikan asin tumplek blek di situ.

Aku dan Dubidu ketemu tetangga depan asrama. Renald dan ibunya. Renald ini bayi bermuka chineese yang berusia 8 bulan. Kerjaannya masih digendong emaknya saban hari. Melihat Renald yang memiring-miringkan kepala, kami tertawa dan menggoda Renald. “Ih, Renald kenapa?”, sambil mencubiti pipi Renald yang setengah montok itu.

“Sudah ngantuk te, tadi bangun jam 5”, jawab emak Renald. Habis itu kita nggosipin ekspresi Renald barusan. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi. Pagi-pagi sudah miring-miringin kepala, mulutnya ikut terbuka sedikit. Mungkin Renald sudah lelah, ditambah ke pasar pulak!. Orang ganteng mah gitu, tidak ada ekspresinya. Kan cool, kata Dududu.

Ada pula penjual burung dan anak ayam. Penjual burung dan anak ayam inilah yang pagi ini menarik perhatianku. Abang bakul dikerubungi krucil-krucil. Mungkin krucil-krucil itu anak berusia PAUD dan TK. 6 Krucil itu duduk-duduk di dekat kurungan anak ayam. Mereka cerewet dan bawel sekali. Bertanya ini-itu kepada abang bakul.

“Bang, em em em em em itu ya?”.

Aku tidak begitu mendengar celotehannya dengan jelas. Hanya mendengar panggilan “bang” saja. Abang bakul menanggapi pertanyaan para krucil dengan wajar dan sangat normal. Justru karena wajar itu yang kemudian membuatku berpikir bahwa apa yang dilakukan abang bakul kepada krucil sangat tidak wajar.

Bayangkan saudara-saudaraku sekalian! Coba bayangkan!. Abang bakul mungkin berusia 30an. sedangkan krucil-krucil itu? 5 tahun aja kayaknya belum genap. Bagaimana dua dunia itu bisa bertemu dan nyambung gara-gara anak ayam? Jawaban dan tanggapan abang bakul itu tidak terdengar seperti orang yang meremehkan anak kecil. Bukan orang yang sedang mecandai bocah kecil. Semacam obrolan biasa antara dua pihak yang memiliki posisi yang sama. Tidak ada hirarki aki-aki maupun bocah. Em, sama lah kayak perbincangan antara aku dan kamu mengenai hal itu. eea. Betapa dan betapa dunia ini sangat berwarna dan indah.

Dududu membeli kepala ayam yang dimasak dengan kecap di Ibu-ibu penjual nasi uduk. Saat Dududu memakannya, aku membayangkan bahwa Dududu sedang makan ayam gundul. Baru membayangkan saja, aku sudah senyum-senyum nggak jelas. Kemudian aku menyampaikan dengan penuh kehati-hatian, apa yang telah kubayangkan sebelumnya. Mengenai ayam gundul yang sedang dimakan Dududu.

“Jangan gitu sih mbak!”

“Lho, kan bener du, liat tuh ayamnya! gundul kan?”

“Iya sih, tapi jangan bilang gitu atuh mbak, kan sedang makan”

“iya, aku tahu kamu sedang makan ayam gundul”. Huwakakaka

Sengaja sekali mengucapkan “ayam gundul” berulang-ulang. Sebagai upaya untuk membalas Dududu yang sering menceramahiku ketika makan. Kata Dududu dengan nada suaranya yang selalu galak, “Ih, mb Elysa yang bener dong makannya!!”. Itu namanya sudah truth claim. Dududu menganggap bahwa dirinya lah pihak yang paling benar ketika makan. Kata lagu, “mengapa ku yang slalu mengalaaah?”. Bukan nding, karena aku saja yang sering bermaian-main dengan makanan ketika makan. Tidak begitu lahap atau sering menyisakan jatah makan untuk makhluk lain.

Perpus PBNU, Jakpus (Apaa? ke perpus PBNU hanya untuk menulis ayam gunduuull?)

10 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s