Pak Nur Kholis.

Tahun 98 aku bersekolah di sekolahan yang baru berdiri, MI Darul Ulum. Aku dan temen seangkatan adalah murid generasi pertama sedangkan Pak Nur Kholis adalah kepala sekolah pertama kami. “Kita sama-sama menjadi yang pertama kan pak?”. Engkau yang berwibawa, sabar, kebapakan, pendiam, berjalan dengan teratur (dep,dep,dep), murah senyum, sederhana dan apa adanya, daaan selalu berkisah tentang Abu Nawas sebelum jam pulang tiba. Kisah-kisah Abu Nawasmu itu pak yang selalu kami tunggu. Kami selalu menagih cerita-cerita itu. Betapa kisah Abu Nawas dan diri panjenengan seakan telah menjadi satu paket.

Sewaktu kelas kita menulis pelajaran Al- Qur’an Hadits, salah satu dari kami ada yang mengeluh “ngadangi paak”, dan engkau membalasnya “nulis kok ra oleh ngadangi”. Seketika kami menertawakan teman kami yang tentunya mati kutu dengan jawabanmu Pak. Kejadian tersebut juga terjadi padaku pak. Saat bocil-bocil bilang “ngadangi buu”, aku mencontek jawabanmu pak, sama persis tanpa kukurangi atau kutambahi. “Nulis kok ra oleh ngadangi”. Itulah pak yang terkadang membuatku ingin selalu mengenangmu.

Kami kelas empat, engkau melewati kelas kami menuju kantor yang masih “nebeng” di rumah simbah. Kami menyuarakan sorakan yang tentunya sangat tidak sopan. Sorakan itu selalu kami sorakkan tiap kali engkau melewati kelas kami. Betapa bahagianya kami berteriak keras-keras karena engkau adalah guru idola kami pak.

Teriakan itu adalah bentuk rasa sayang kami pada panjenengan. Dan engkau hanya tersenyum simpul saat mendengar teriakan kami.
Pak, engkau adalah setitik terang dalam sanubari kami meski hati ini sering berkabut.

Terkadang aku bertanya, “mengapa panjenengan dulu pak yang mendahului kami?”, “mengapa engkau orang pertama yang meninggalkan kami dalam balutan kehidupan MI kita, padahal engkau belum pernah mengutarakan apa yang mesti kulakukan supaya engkau bahagia?”. “Gusti Allah langkung remen panjenengan Pak sehingga nimbali panjenengan terlebih dahulu”.

Aku telah melewati sepertiga kehidupanku Pak, akupun akan kembali seperti Panjenengan. Semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi Gusti Allah. Amiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s