Harapan harap dipadamkan!

Aku agak rutin menulis saat Madrasah Aliyah. Namun aku belum memiliki konsep yang matang, atau setidaknya konsep yang jelas, untuk dijadikan pijakan. Sampai suatu saat,aku menulis cerita harian sampai hari ini. Aku tidak berpikiran yang macam-macam saat itu, hanya menulis dan menulis. Aku mulai menulis dengan topik yang berbeda-beda, sesuai dengan kegiatan dan semesta pikiranku.

Kalau dikumpulkan, barangkali bukuku ada 7 buah. Hasil sampah-sampah pikiran dan perasaan. Kadang terlintas untuk menyortir tulisan-tulisan itu, menambahi dan menguranginya supaya menjadi tulisan yang sedikit lebih pantas dari sekedar curhatan harian. Ushuluddin, gerakan, aktivis sosial, dosen-dosen, Tafsir Hadits, Krapyak, Gus Nang, SDIT Salsabila Banguntapan, OBJ, buku, penulis, teman-teman, keluarga, para guru, Koppontren, Diniyah, TPA Kadipaten, Bluepitel adalah sedikit hal yang menjadi perhatianku karena memang aku pernah berada di sana, mengalaminya sendiri.

Aku menulis berdasarkan apa yang kualami. Maklum, aku bukan sastrawan atau intelektual yang bisa memformulasikan pemikiran, imajinasi maupun perasaan. Aku hanya mencoba bercerita, menarasikan apa yang kualami, kupikirkan dan kurasakan. Tidak lebih.
emmm.

Siapa sih manusia masa kini yang bisa terbebas dari medsos? Meski Cuma jadi liker, pembaca dan komentator. Sesekali chattingan di facebook.

Teringat cerita dua temanku yang kebetulan sama. Ada lelaki yang datang dalam hidupnya, menyapa baik-baik, saling menaruh harapan daaaan eng ing eng. Dua lelaki itu meninggalkan dua perempuan temanku. Kata kakak Meisin, kita tidak boleh menyakiti sesama hidup.

Apa yang dirasakan kedua temanku itu campur aduk antara kecewa, syediih, benci, maraah daaan… tak tahu lah aku. Aku menyaksikan sendiri temanku saat di kos. Matanya bendul-bendul, wajahnya tak karuan, belum makan dll. Aku, mb Khanif dan Mb Nurul memarahi dan mengajaknya bercanda. Kami bertiga menertawakan apa yang telah dilakukannya dalam merespon peristiwa yang terjadi pada si teman. Sampai-sampai, ia merasa malas berhubungan dengan lelaki. Sudah terlanjur sakit hati.

Kemudian terdengar kabar ia menikah dengan seseorang yang nampaknya sangat ia cintai. Terlihat dari status-statusnya yang seringkali bikin baper orang-orang. Alhamdulillah, itulah kenapa ia perlu jatuh-bangun menangisi perasaannya. Kalau tidak, barangkali ceritanya akan lain. Semoga selalu semangat dan bergairah dalam mempelajari kehidupan rumah tanggamu ya Mbak!

Harapan harap dipadamkan! kata buku yang kubeli di Kwitang pada hari yang lalu. Kini bukunya ada di tangan tante. Tante suka baca tapi tidak memiliki akses yang cukup untuk menjangkau buku-buku. Ia juga suka buku-buku berbau detektif dan khayal, bertolak belakang denganku meski aku suka ngayal. Barangkali, buku bekas yang terbit tahun 1991 itu bisa memberi setitik warna dalam hidupnya. Bagaimana rasanya hidup tanpa buku, pasti ia sangat bosan.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakpus
14 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s