Mengenali rasa

Mungkin ini adalah curhat yang amat berlebihan. Tapi biarlah demikian karena perasaanku juga sedang berlebihan dalam merespon seruntutan peristiwa dua bulan terakhir ini. Berbagai lagu nampaknya sangat pas dengan apa yang kualami. Biarlaah, kecewaa. Biarlaaah meranaaa. Kubiarkan diri ini, menangis di dalam sunyi, karna aku pun tak tahuuu, hanya Tuhan lah yang tahu. ha a ha a…. menuliskan beberapa lirik lagu malah jadi pengen goyang dombrett. haha dasaaar

Perasaan. Satu hal yang amat menarik. Rasa tak bisa dibuat-buat, tak bisa diprediksi, tak bisa diundang, tak bisa dihadang. Ia semacam apa yaaa? oh ya! jelangkung! datang tak diundang, pulang tak diantar. Aku hanya mencoba mengenali satu demi satu rasa yang tersimpan dalam hati. Ketika kecewa terhadap hidup, kadang ingin marah-marah kepada siapa gitu. Tuhan? orang yang bersangkutan? Bisa jadi.

Tapi perlu disadari, bahwa marilah mencoba melihat ke dalam diri kita, ngendikane Cak Nun. Barangkali yang perlu disembuhkan adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Tapi aduhai melemparkan masalah kepada orang lain nampaknya lebih mudah ketimbang menceramahi diri sendiri. Bagaimana pula orang yang kecewa juga merasa bersalah atas hidupnya. Double sengsara.

Bukan begitu maksudku, yang jelas dengan mengenali rasa yang sedang meliputi diri kita, kita bisa belajar dari sana. Hal itu semacam pengalaman untuk menghadapi perasaan-perasaan yang akan datang di kemudian hari. Bagaimana pun, hati adalah raja di dalam diri kita.

So, cobalah berdamai dengan keadaan dan diri kita, meski membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sekali dua kali ingin menghapus kenangan-kenangan yang tidak mengenakkan hati. karena ketika mengingatnya, hati kita merasa kesakitan. Ingin pula menyingkirkan hal-hal yang akan mengantarkan kita pada kenangan itu. Aku pun ingin melakukan hal demikian. Sampai detik ini masih bisa menahan diri untuk tidak menghapuskan jangkar dari kenangan itu. Entah nanti. Semoga aku lekas bisa belajar dan menjalani hidup dengan normal dan bergairah. Yayayay. Bisa dong.

Perkara kayak gini mah direspon biasa aja. Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Apalagi sampai merana sedemikian rupa. Semua orang juga pernah mengalaminya. Anggap saja ini sebagai wadah atau laboratorium tempatku belajar mengenali rasa. eeea. Perasaan cinta, kecewa, benci, rindu, kangen, was-was dll ada di situ, menawarkan berbagai sensasinya. Dan itu gratis saudara-saudara. Maka jatuhlah, bangunlah, merataplah, bahagialah, menangislah, meweklah, tertawalah, tersenyumlah, merengutlah, berteriaklah daaan nikmatilah rasa-rasa itu.

Cak Nun mengantarkan kita menuju diri, Kanjeng Nabi dan Gusti

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?

Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis?

Adakah kemungkinan kita akan merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam?

Apakah api akan berkobar-kobar lagi?

Apakah asap akan membumbung tinggi memenuhi angkasa tanah air?

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakpus
14 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s