Ilmu dan Laku

Lagi-lagi terdorong untuk menceritakan kampus kecilku ini. Apa yang terjadi di dalamnya membukakan mata kami atas apa yang terjadi dalam kehidupan. Maksuttnyaa? Sebentar, saya mencoba mengingat-ingat dialog yang berlangsung di kelas Pak Radhar. Pak Radhar bertanya kenapa kita (Nusantara) tak mampu menghasilkan orang-orang yang konsen dan serius mengkaji. Pelancong-pelancong di negeri jauh telah mendedikasikan hidupnya, menghibahkan dirinya untuk menghasilkan sesuatu. Ada yang berpuluh-puluh tahun mempelajari Tan Malaka. Ada juga yang jauh-jauh datang ke Indonesia, ingin mengetahui siapa sih Pangeran Diponegoro.

Teringat pula Howard Federspiel menulis tafsir-tafsir di Indonesia, Pak Mark, Martin Van Buissines, Juynboll yang tidak mau mengajar (menghabiskan 40 tahun untuk meneliti hadits, duduk dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, membaca buku), Mitsuo Nakamura, Snouk Hurgronje, Wensink yang menulis Mu’jam Mufahras li Alfadzil Hadits, daan masih banyak sekali. Tokoh-tokoh tersebut hanya sebagian kecil yang menekuni kajian keislaman.

Belum masuk pada kajian budaya dan sejarah. Itulah mengapa dan mengapa Pak Radhar mencoba menyuguhkan pemaparan yang luas mengenai sejarah dan kebudayaan yang dibelokkan. Pak Radhar tergolong manusia yang telah mewakafkan dirinya secara dzahir batin untuk menguak sejarah yang sebenarnya terjadi di dunia ini.

Inilah yang didengung-dengungkan Pak Radhar mengenai jihad akbar. Upaya membuka tabir-tabir yang menutupi diri kita dari realitas sebenarnya. Siapa yang mempermainkan dunia ini? Coba lah dikenali supaya tidak terbawa arus. Kemudian secara sadar kita mengetahui apa yang kita lakukan dan pastikan tidak terseret dalam arus serangkaian satanic system yang dikendalikan imperium. Aseeek.

Pak Radhar telah menulis puluhan buku. Beliau mempersilakan kita, mengizinkan kita untuk mengkopi, menggubah tulisan beliau, sampai mengakui kalau tulisan Pak Radhar adalah tulisan kita. Tidak perlu membeli buku aslinya. Inilah contoh orang bahari yang aduhai tidak bisa dipahami oleh orang yang berpikiran secara kontinental. Pak Radhar telah menyerahkan seluruh tulisan, ide dan pemikirannya untuk pembaca. Tulisan-tulisan beliau bisa diolah sedemikian rupa oleh pembacanya. Hak miliknya tidak dipatenkan.

Orang bahari tak ada jejaknya karena gerak hidupnya berada di lautan. Kalu di laut, mana ada jejak-jejak yang tertinggal? setiap kali kapal berlayar, air tak bisa mengabadikannya. Justru ombak-ombak itulah yang menyapu segala jejak. Jangan dikira kalau tidak ada jejak dari kehebatan moyang kita, berarti moyang kita tidak mewariskan peradaban yang besar. Ini urusan apa yaaa? entahlah. nanti coba kupikirkan lagi.

Apa yang dilakukan STAINU dengn Islam Nusantaranya merupakan upaya untuk mengumpulkan warisan-warisan moyang kita. Termasuk di dalamnya adalah tulisan-tulisan, manuskrip daan eng ing eng. Banyak lah pokoknya. Pak Ginanjar adalah salah seorang dosen kami yang mencoba mencari warisan-warisan itu. Mungkin sekarang belum ada apa-apanya meski sudah terlihat hasilnya. Pak Ginanjar berharap STAINU ke depan menjadi skriptorium Islam Nusantara.

Nanti lah kuceritakan sedikit mengenai sosok Pak Ginanjar, dosen muda yang menggandrungi ilmu.

Hari ini jadwalnya kuliah Pak Zaztrow dan Pak Radhar, namun beliau berdua tidak masuk karena suatu hal. Jadilah aku pulang di tengah terik matahari Jakarta yang teramat menyengat kulit. Pulang ke asrama, ngadem dekat kulkas sambil minum es, shalat dzuhur, ngerendem cucian, nulis narasi ini dan dilanjutkan nyuci.

Kapan-kapan Pak Zaztrow harus ditulis pula, mengingat sosoknya yang mendorong kita untuk selalu belajar. Namun aku belum memiliki gambaran yang baik mengenai sosok beliau makanya belum bisa menulis. Kami baru masuk kelas Pak Zaztrow dua kali.

Sekarang lagi semangat padahal kemarin sedang berpikir untuk pulang kampung saja. Ngapain kuliah di sini? apa yang kucari dan kuinginkan? Itulah yang kupikirkan ketika menghadapi sedikit badai kehidupan. Langsung putus asa dan ingin mengakhiri semua perjalanan yang kutempuh saat ini. Ketika kecewa, diamlah sejenak. Rasakan saja, menangis juga tidak dilarang. Tapi ingat!! tidak perlu menghentikan gerak dan langkah. Berpikir untuk mengakhiri gerak tidak masalah, namun jangan benar-benar berhenti. Hahaha

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
19 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s