Ini nggak ada darahnya

Pak Radhar mengoreksi hasil kerja pertama kali. Kemarin Sabtu tanggal 26 November, kami membuat tulisan tentang mudik. Tulisan-tulisan Pak Radhar telah tersebar luas di internet dan dalam bentuk buku. Kami semua mendapatkan nilai D dan E. Oke Pak, aku nggak takut dengan nilai yang engkau berikan. Hanya saja aku ingin menantang diriku sendiri, bisa nggak aku akan hidup dengan sungguh-sungguh? Itu saja Pak.

Tulisan kami hanya dibaca sekilas saja. Satu menit untuk satu tulisan. Dengan raut muka dan tatapan beliau yang tajam, kami merasa terhakimi ketika tulisan kami mendapat giliran dibaca Pak Radhar. Beliau meminta pulpen namun tak ada satu pun tulisan kami yang dicoret. Semuanya dikembalikan. Yaaah. Masing-masing dari kami sudah berpikir bahwa tulisan yang kami buat merupakan tulisan tajam yang menggabungkan dua dunia. Rasionalitas dan spiritualitas. Dor!

Tulisan kami dikembalikan sembari menunjuk pada setumpuk kertas tulisan kami dan bilang “Ini nggak ada darahnya”. Matilah kami. Apa yang kami pikirkan selalu mental di hadapan Pak Radhar. Semuanya serba salah. Karena apa? Kami berpikir secara impulsif, obskul, eklektik dll. Cara berpikir yang ruwet karena belum bisa melihat persoalan dengan jernih. Ibaratnya, kami belum mampu membuat garis pemisah antara akal dan hati. Cara berpikir orang bahari dengan empat komponen diri secara lahir, batin, akal, hati, tubuh, perasaan belum kita optimalkan.

Seperti biasa, kuliah Pak Radhar mengalir begitu saja. Beliau sudah hadir di kampus sejak jam satu. Namun kali itu kami masih belajar di kelas Pak Ginanjar dan Pak Mastuki. Keluar kelas pukul setengah dua lebih. Setelah Pak Mastuki mengakhiri pertemuan kita yang menyinggung tesis baru bagiku mengenai ehm…. pesantren sebagai silent oposition (Awas!! jangan sampai terdengar NUGL, bisa ngamuk mereka), kami lari pontang-panting memenuhi hajat pribadi. Aku memikir otak dengan waktu yang sedikit itu, bagaimana bisa menggunakannya dengan efisien untuk ngeprint tugas, shalat, beli gorengan dan beli kopi untuk Pak Radhar.

Print-printan di Jakarta mahal sekali. 500 rupiah sampai seribu rupiah per lembar. Aku naik ke lantai 3, markas BEM untuk ngeprint. Ahihi, lampunya mati. Jadilah aku cabut ke FC seberang jalan. Memastikan Bu Zakiah baik-baik saja, mengingat beliau baru hamil (diam! sekelas hanya aku seorang yang diberitahu). Kami kuliah dari jam sembilan sampai jam enam petang tanpa jeda istirahat. Untuk waktu makan? teman-teman seringkali bandel dan memaksa
makan siang meski dosennya sudah datang.

Beda cerita denganku dan Bu Zakiah yang jarang makan siang ketika hari Sabtu. Soalnya tak ada waktu. Paling kami hanya memakan jajanan ringan atau apapun yang bukan nasi. Tapi sekarang Bu Zakiah harus tertib makan, memperhatikan kandungannya yang selama 3 bulan ini terabaikan gara-gara beliau belum tahu kalau beliau hamil. Aku jadi was-was sendiri. Bagaimana merawat orang hamil? Maksudku, aku harus bersikap bagaimana? Kuminta Bu Zakiah pergi ke warteg seberang, bu Zakiah agak kikuk karena banyak lelakinya disana. Maksud hati mau menitipkan Bu Zakiah ke ms Ikin atau Adha, eh mereka pada cuek-cuek. Dasar tidak berperasaan pada dua srikandi ini.

Dasar suka panik sendiri sih jadinya linglung kan? Ketemu kakak tingkat semester 3, Mb Ulfa dan Mb Fitroh malah nggak kuanggap karena melihat Bu Zakiah dan mencari-cari temen sekelas yang nongkrong di warteg.

Cuss ke abang gorengan yang tadaa…. gorengannya tinggal ketela dan tahu. Aku memintanya untuk membuatkanku bakwan, cireng dll. Kusambi memesan kopi dan meninggalkan segala pesanan menuju mushalla lantai satu. Ada bapak-bapak yang shalat, aku makmum ke beliau yang ternyata tetangga sendiri, orang Jepara. Aku shalat dengan sangat kemrungsung karena memikirkan banyak hal dan menjadwal apa yang akan kulakukan setelah shalat. Apesnya, bapak imam itu shalatnya sangat khusyuk, pelan, bacaan shalat yang terdengar dan lain-lain. Nampaknya beliau khidmat banget menghadap Tuhan. Meski kita satu rombongan, aku tidak bisa setenang beliau. Justru sebaliknya.

Selesai salam, aku langsung lari-lari kecil ke arah abang gorengan dan abang kopi. Menenteng mukena, kopi, gorengan dan kertas. Masuk kelas, dibukakan pintu oleh Pak Rohim. Pak Rohim ini teman kami yang paling pengertian dan peka. Kalau bicara padaku, aku dianggapnya anak. Humornya tinggi, selalu beragumen di setiap mata pelajaran, bacaannya kuat, gaya biacaranya enak dan lantang, paling rajin masuk kelas, yang bersihin kelas, membelikan kopi Pak Ginanjar yang saat itu terlihat lelah dan mengantuk, mengambil ini-itu, menuntun Pak Radhar sampai ke mobil dan lain-lain. Pak Rohim mengambil gorengan dari tanganku dan menyerahkannya ke Pak Radhar. Aku mencari tempat yang lega.

Pak Radhar sengaja meminta kami belajar dengan lesehan dan tentu harus ada gorengan dan kopi. Sesekali beliau menghirup rokok dalam-dalam di ruangan yang ber-AC itu. Kepada kami, beliau berkata bahwa bicara dengan kami harus dengan level 5. Beda cerita ketika beliau berbincang dengan orang-orang seperti Gus Mus atau yang lain. Intinya, beliau sudah menurunkan level pembicaraannya. Kenapa kami masih belum bisa mengikuti cara berpikir beliau?

Beliau menantang kami, siapa diantara kami, satu orang saja yang bisa menyamai beliau dalam kesukaannya dalam belajar. Beliau tidak keluar dari rumah selama 15 tahun hanya untuk belajar. Tiga hari bisa nggak makan karena asyik belajar. Sehari tidur selama 3 jam saja. Sekarang sedang menjadi ketua 5 even nasional. Sehari bisa rapat dua kali. Cuci darah 3 kali seminggu. Harus melatih teater kosong. Orang yang sedang sakit, masih bisa hidup untuk orang lain. Apakah banyak ditemui, orang sakit yang menyetrika dan mencuci bajunya sendiri. Habis cuci darah, mengurusi keperluannya sendiri. Mengidap 18 macam penyakit yang semuanya akut. Setiap hari harus merasakan 5 macam penyakitnya. Ambeyen, jantung, paru-paru membesar 1,5 kali lipat, wasir dan lain-lain. Beliau cuci darah sejak 15 tahun yang lalu.

Beliau bertanya kepada kami apakah beliau seperti orang yang sdeang sakit ketika di kelas? kami menggeleng, sama sekali beliau tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya. Seperti orang normal saja. Tujuan beliau bercerita demikian supaya kami bisa menyikapi dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Kalau sedang bahagia, jangan melupakan kesedihan. Kalau mengalami cobaan, jangan lupa mencari kebahagiaan (hikmah) dari cobaan itu.

Sengaja aku mencari profil beliau di internet. Entah kenapa, aku menjadi cengeng sendiri. Takut kalau-kalau Pak Radhar…. mengingat penyakit yang beliau derita. Apa perluku bersimpati pada beliau? Pak Radhar telah mengikhlaskan hidupnya, menghibahkan, mewakafkan dirinya, menshodakohkan hidupnya untuk menjaga kebudayaan. Beliau bilang bahwa beliau adalah kuncen kebudayaan

Kami belajar untuk apa sih? Tidak lain untuk membaca diri kami sendiri. Betapa diri kami telah terpenjarakan oleh sesuatu yang telah tersistemkan dengan rapi. Kalau kita bertekad untuk mengeluarkan dan membebaskan diri dari penjara itu, Pak Radhar akan membantu. Kamu harus bergeser meski hanya seinchi. Selama lima puluh tahun ini, beliau belum melihat orang yang berhasil bergeser dari dirinya yang dahulu, meski hanya seinchi. Pak Radhar akan sangat senang jika ada muridnya yang berhasil bergeser.

Aku juga tahu bahwa diriku begitu terperangkap, menjadi budak dan korban sistem, tapi aduhai keluar dari lingkaran ini tidaklah mudah. Aku belum mampu meninggalkan kenyamanan yang telah disediakan sistem. Dan ini sungguh sangat-sangat sakit. Diri kita seperti ditarik-tarik oleh dua kubu yang bertentangan. Diri kita dan sistem yang jahannam itu.

Pak Radhar pernah bercerita kalau beliau tidak boleh mengkonsumsi yang mengandung air lebih dari 600cc. Semakin Pak Radhar dilarang, semakin beliau melanggarnya, kata istri beliau. Tetap beliau minum banyak air. Hal itu berkaitan dengan paru-paru beliau yang membesar. Setiap Pak Radahar mengambil nafas, beliau menghirup air. Dan ketika beliau mengeluarkan nafas, beliau mengeluarkan air. Seperti orang yang bernafas di dalam air. Keluar-masuk air. Dan itu sangat sakit sekali. Kalau ada silet atau kater, beliau ingin mengiris leher beliau, tidak untuk bunuh diri, namun supaya airnya keluar.

Kebetulan di Jakarta tidak ada rumah sakit yang membuka jam operasi malam. Jadilah beliau dibawa istrinya ke rumah sakit milik Habibi di Bandung atau Bogor, aku lupa. Hanya mengendarai motor, helmnya Cuma satu pula. Istri Pak Radhar memakaikan helmnya untuk Pak Radhar. Sedangkan beliau sendiri tidak memakai helm. Istri Pak Radhar ini seperti pembalap aja. Mengendarai motor apa saja bisa, satria juga iya. Jadilah sepasang suami-istri tersebut kejar-kejaran dengan waktu di bawah hujan yang lebat. Pak Radhar yang memakai helm aja merasa sakit karena hujan yang lebat, apalagi istrinya yang menyetir di depan tanpa helm.

“Mungkin itu ujian bagi istri saya”, kata Pak Radhar.

“Orang baik memang untuk orang baik”, Pak Rohim mengkomentari.

Pak Radhar hanya melirik ke Pak Rohim sambil tersenyum simpul seperti biasanya. “Lu kok dari tadi nyimpulin aja”, serang Pak Radhar. Haha. Pak Radhar tidak butuh pujian atau statemen apa pun. Makanya apapun yang keluar dari kami menyangkut hidup Pak Radhar, selalu beliau patahkan.
Beliau menantang kami, siapa dari kami yang bisa 5 kali lipat dari beliau yang gila ilmu. Jangankan lima kali lipat, satu lipatnya aja nggak kok.

Kemarin itu kami berada di kelas Pak Radhar dari jam dua lebih sampai setengah enam. Kami keluar kelas dan shalat Ashar. Meski sudah ditutup, teman-teman mengerubungi Pak Radhar. Habis shalat Ashar, bincang-bincang itu masih berlanjut. Beliau bercerita tentang mitologi masuknya Islam ke Nusantara yang sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi. Bisa jadi, orang dan kapal yang mengangkut barang dagangan Kanjeng Nabi adalah orang Nusantara karena pada masa itu, moyang kita telah menguasai navigasi kelautan mencapai setengah belahan dunia ini.

Kapal milik moyang kita sangat canggih. Namun karena moyang kita nggak mencatat sepeti Marco Polo, Colombus, Vasco da Gama, Ibnu Batutah dll, makanya kita nggak tahu kalau moyang kita adalah orang hebat. Para pelancong mengarungi dunia dengan kepeentingan tertentu. Tidak seperti moyang kita yang memang pekerjaannya mengangkut barang dagangan dan berlayar. Memang pekerjaannya seperti itu, alamiah saja. Tidak perlu dicatat.

Asrama Mahasiswa NU, Matraman Dalam II, Menteng, Jakarta Pusat
28 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s