Asrama Mau Dibawa Kemana?

Asrama kami belum menemukan landasan teori, #eh landasan berpijaknya. Bagaimana ya? Asrama mahasiswa terbentuk dengan tujuan supaya menjadi titik-titik NU di Jakarta. Sungguh itu bukan tujuan yang main-main dan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun apa yang terjadi berkebalikan dengan cita-cita luhur itu. Jangankan kepada STAINU, UNU, NU, kepada diri sendiri pun kami belum bisa memberikan yang terbaik.

Sejak mendapatkan informasi mengenai keberadaan pesantren mahasiswa dari Bang Fuad, di kepalaku sudah tergambar bahwa asrama ini memiliki corak yang sama dengan pesantren-pesantren NU pada umumnya. Setidaknya ada pengasuh, pengurus, kegiatan ngaji, piket harian, serangkaian peraturan dan macam-macam lagi. Lalu, apa yang kutemui tidak sama persis dengan muatan kepalaku. Yasudah. Kami adalah keamanan bagi diri sendiri, pengurus bagi diri sendiri, pengasuh bagi diri sendiri. Intinya, tergantung pribadi masing-masing. Wkwkwk

Beberapa waktu yang lalu, kami dikumpulkan Pak Mujib Qalyubi selaku pengasuh Asrama. Beliau menanyakan perkembangan di asrama. Apa saja yang terjadi disana. Apakah kegiatannya jalan. Kita sering ngaji tidak serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Duh serba salah. Untuk menjembatani kedua hal yang teramat jauh jurang pemisahnya, apa yang mesti dilakukan bersama?

Persoalan seperti ini kerap terjadi di lingkungan pesantren yang mayoritas santrinya adalah mahasiswa. Dua dunia dan dua kepentingan harus dicarikan titik temunya. Entah bagaimana caranya. Seringkali ada gesekan-gesekan kecil jika salah satu kepentingan tidak terakomodir. Padahal, sudah ada wadah atau forum perbincangan yang merembugkan bagaimana baiknya. Tetap saja ada pihak yang merasa terasing dan tersisih. eeea.

Entah bagaimana ya jadinya? Asrama memang baru berumur satu tahun. Sekarang memasuki tahun kedua. Betapa imperium, kerajaan atau kekuasaan yang sudah berdiri gagah selama berabad-abad saja bisa tumbang, apalagi asrama kami! Itu sangat memungkinkan. Meski demikian, kami mencoba memperbaiki sistem dan pijakan kami. Dan itu sangaaat… sulit, meski tidak sampai mustahil. Kebiasaan-kebiasaan hidup kami seperti orang yang numpang tidur aja harus dibenahi lagi.
Ehm.

.. “iki udu panggonan turu rek”…

Butuh pembiasaan-pembiasaan yang tidak sebentar. Kalau sudah membiasakan, nanti menjadi kebiasaan. Dan itu otomatis. Tidak perlu dialarm atau dikomando. Tapi tetap saja demikian. Yasudah. Kita berjalan dengan orang-orang yang mau saja. Tidak harus memaksa, apalagi memaksa-maksa. Jangan sampai! Kita harus memaksa diri sendiri. Tidak perlu menerapkannya pada orang lain.

menumbuhkan kesadaran memang butuh waktu dan perjalanan. Tidak bisa instan atau sekali jadi. Dianggapnya mie instan atau tempat cetak poto kilat kali yaa… Bukan begitu boi. Ini perkara serius. Asrama kami diarahkan menjadi pesantren yang benar-benar pesantren. Kegiatan full ngaji, pulang tertib, organisasi kampus dikurangi dikit-dikit dll. Sementara ini, teman-teman sudah terlanjur berkegiatan di luar. Kerja, organisasi dll. Dua dunia diblender jadi satu rasa. Satukan hati satukan rasa! wkwkwk

Lalu pada malam itu juga, sekembalinya dari pertemuan dengan Pak Mujib, kami berkumpul di ruang tengah lantai dua. Menyampaikan apa yang dikehendaki pengasuh dan apa yang harus kita lakukan sebagai responnya. Kami membentuk tim kepengurusan. Divisinya meliputi pendidikan, bendahara, sekretaris dan kebersihan. Tiba-tiba, temen-temen berkonspirasi menjadikanku sebagai pembantu asrama meski aku bukan seorang aktivist atau organisatoris. Justru aku tergolong orang yang menepi dari kehidupan-kehidupan sosial. Hanya karena aku menapaki kehidupanku di sekolahan yang bernama s2, kata temen-temen. Sungguh s berapa pun bukanlah jaminan.

Bagaimana menghadapi hal-hal ini? Aku tak memiliki cukup ilmu organisasi atau apa-apa. Aku benar-benar awam. Hanya bermodal pikiran atau sekedar wacana untuk berbuat kepada diri dan orang lain saja. Kasihan masa muda mereka. Haha sok yess. Ini adalah kesempatanku belajar bagaimana bertanggungjawab.

Aku merasakan sesuatu yang membahagiakan, meski sangat sederhana. Seperti ketika KKN dulu. Betapa makku… iya, Seorang emak sungguh tak tergantikan nilainya. Tiba-tiba merasa menjadi emak bagi mereka. Wkwkwk. Meski belum tentu mereka mau kujadikan anak. Haiyyah. Pede banget sih.

Meski aku merasa kasihan, terkadang mereka merasa tidak perlu dikasihani. Jadi serba bingung diri ini! Tidak perlu bingungan jadi orang. Sedikit-sedikit bingung! Bingung kok sedikit-sedikit! nanggung dong!. Jangan jadi orang medio, nanti seperti preman tanggung yang sekali senggol, langsung main bacok. Ini ngomong opo seeh? Abaikan saudara-saudara!

Kegiatannya pun kami tambahi sedikit demi sedikit. Tidak bisa langsung dipadetin dengan kegiatan yang bejibun. Bisa-bisa, kami shock, lalu pingsan. Jalannya setahap demi setahap. Tadarus sehabis subuh, jamaah subuh, pengaosan ustadz Aqil, pengaosan ustadz Said dll. Segitu saja, kami belum terbiasa. Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Hanya ingin berbincang dan mencari sedikit titik terang. Sedikit penerangan bagi diri yang sering berada di kegelapan hidup.

Kok sepertinya ada poin yang hilang. Tapi aku nggak tahu yang mana. Tadi sih inget, Cuma kok agak lupa-lupa gitu ya. Udah, nggak papa. Nanti bisa disambung lagi.
Jadi teringat orang-orang yang istiqomah, kontinyu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil yang berisi. Pak Makruf, imam musholla kami. Simbah, muadzin masjid. Pekerjaan-aktifitas yang kadang dipandang sebelah mata, namun…. tidak demikian adanya. Ngomong, menulis dan menilai memang mudah. Tapi dalam hidup ini, bukan hanya itu yang dibutuhkan. Kami butuh contoh, laku kongkrit, akhlak dan etika. Bukan hanya omongan. Ngomong mah gampang atuh.

Perpustakaan STAINU, Matraman, Jakpus
05 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s