Asramaku Sayang

Sehabis ngaji dengan Pak Said, kami berbincang-bincang sebentar. Membicarakan keberlangsungan hidup jiwa dan ruh asrama. Ibaratnya, asrama seperti zombie atau mayat hidup. Hidup sih cuman nggak ada geregetnya. Pak Said datang dalam rangka ini. Misal nanti asrama sudah bisa dilepas, Pak Said akan mencari wilayah lain yang perlu didorong. Saat ini, asrama kami adalah sasaran Pak Said.

Waktu sekarang bukan untuk belajar atau meminta, namun memberi dan mengajari. memberi sedikit titik terang dalam kehidupan orang lain. Apa yang kurasakan saat ini mendapat solusi-solusinya dari Pak Said. Terkadang, aku merasa frustasi menghadapi anak-anak asrama. Kenapa mereka belum bisa peka terhadap apa yang ada di dalam asrama. Kebersihan, makanan, ingin enak sendiri, enggan memasukkan beras ke megjikom, sampah-sampah terlantar, kamar mandi yang aduhai seksi, baju kotor ada dimana-mana, tidak ikut kegiatan, mengambil barang milik orang lain, memakai barang orang lain, dkk.

Ini urusan pribadi masing-masing atau menjadi urusanku? Di sinilah harus pintar mengambil sikap. Mana yang berada di bawah wilayahku dan mana yang menjadi wilayah prifat. Shalat termasuk wilayah siapa? Kalau mau cuek-cuekkan, aku bisa lho sangat cuek. Apalagi aku memang orang cuek. Kenapa sedemikian sulit membawa asrama ke jalan ideal versi founding fathers?

Aturan tanpa peraturan

Banyak ilmu dan strategi baru yang ditawarkan Pak Said padaku. Sudah tidak masanya memberi aturan dengan peraturan. Ini yang kusuka. Aturan tidak berangkat dari atasan, politik, pengurus, kekuasaan. Sedikit demi sedikit mengalir saja. Pengurus tidak bisa mengeluarkan peraturan yang bermacam-macam namun hanya bisa memberikan hidangan kepada mereka. Kita memposisikan diri sebagai orang tua bagi mereka. Dengan situasi seperti ini, orang tua hanya bertanya dan ingin mengerti apa kemauan anak-anaknya.

Bahasanya Pak Said “karepme/ sing mbok pingini piye nduk? nek iku sing mbok karepke, kene a ono”. Anak-anak kita belum tahu mau melakukan apa. Ia sama sekali belum tahu atau masih meraba-raba. Maka dari itu, sebagai orang tua, kita hanya menunjukkan, mengarahkan, mendeskripsikan berbagai hal. Biar anak bisa milih apa yang sebenarnya mereka inginkan. Nah jalan seperti itulah yang harus ditempuh para pengurus.

Mulai dari situ, akan terasa efeknya. Meski perubahan di asrama belum begitu terlihat, namun sudah terasa perubahan2 kecil itu. Inilah perlunya contoh dan bukti real. Tidak perlu sibuk bicara dan menulis, hanya membutuhkan sedikit keberanian mengusir rasa malas dan mau sedikit bergerak. Teman-teman mulai menjalankan piket harian, sekali dua kali ikut jamaah, sekali dua kali ikut tadarus bakda subuh. Kami hanya perlu bergerak sebagai contoh, teman-teman akan datang sendiri tanpa dipaksa-paksa. Dan mereka tentu plong dan rela menjalankan semua itu, tidak terpaksa. Karena pada dasarnya, mereka ingin menjadi orang baik dan orang yang bermanfaat. Tentu mereka akan bergerak ke arah situ tanpa harus kita suruh-suruh.

Mengalir saja.

Islam datang ke Indonesia tanpa peraturan atau aturan yang sangat ribet. Datang begitu saja melalui jalur perdagangan. Berdagang adalah pekerjaan masyarakat Nusantara waktu itu. Islam masuk dan merasuki kehidupan para pedagang. Lalu Islam menjadi laku, tidak hanya menjadi agama yang berada di luar diri manusia. Justru Islam telah menyatu dengan diri manusia. Islam tidak terpisah dari diri manusia. Islam tidak menjadi entitas tersendiri yang berjarak dengan keberadaannya di langit. Inilah yang disebut Pak Radhar sebagai Islam kultural. Bukan Islam yang datang melalui jalur politik yang sarat kepentingan tersebut.

Begitu juga dengan peraturan yang akan tercipta di asrama. Kami tidak menerapkannya secara politis atau struktural kepengurusan. Biarkan aturan-aturan itu berjalan dan mendekati kita secara perlahan. Tidak harus diubah seketika karena yang akan terjadi adalah ketegangan-ketegangan kecil maupun crash. Teman-teman juga perlu adaptasi dari asrama yang serba longgar menuju asrama yang penuh jiwa.

Aku tidak bisa mengeluarkan peraturan a,b,c dst. Pun juga tidak bisa menceramahi satu per satu dengan memperketat peraturan dan kegiatan asrama. Tidak memungkinkan dengan jalan demikian.

Keramaian

Kuutarakan juga pada Pak Said mengenai temen-temen yang terlanjur sibuk di luar. Kemudian Pak Said menganalisis hal itu terjadi karena di asrama tidak ada apa-apa. Keramaian bisa diciptakan dengan gerakan satu atau dua orang. Semakin lama, teman-teman akan tergerak dan terdorong sendiri untuk mengerubungi dan mendekati keramaian. Sebagai contoh kecil, dulu hanya aku yang nongkrong di ruang tengah. Teman-teman hidup secara nafsi-nafsi dan berkelompok dengan teman-teman sekamarnya saja. Kita jarang saling bertemu dan ngobrol. Hal itu menjadikan kami kurang akrab satu sama lain.

Aku masih berkegiatan di luar kamar. Entah membaca, menulis, hapean, ngaji ataupun tidur. Lama-kelamaan, satu dua teman ikut bergabung. Mereka mengerjakan hal-hal kecil juga sepertiku. Kamar lain ikut-ikutan nimbrung. Inilah kemudian menjadi tempat pertemuan teman-teman antar kamar. Jadi teringat kota-kota kosmopolit yang mempertemukan banyak kalangan. Ilmuan, pejabat, sastrawan, pedagang, tokoh agama dll. Ruh kebersamaan sedikit demi sedikit terbangun. Barangkali kegiatan-kegiatan kecil kami yang belum memiliki massa banyak, bisa diarahkan seperti ini.
Tempat yang ramai perlu diciptakan untuk menarik massa. Demikianlah kiranya yang dimaksud Pak Said.

Pengorganisasian

Pak Said sudah terbiasa mengorganisir massa yang bermacam-macam. Kata Pak Said, Kalau kita sudah bisa mengorganisir tetangga-tetangga sebelah, di kemudian hari kita akan mudah mengorganisir masyarakat ketika sudah pulang kampung. Ayolah dicoba. Semoga bisa berjalan meski sedikit demi sedikit. Hal ini akan membantuku ketika nanti akan membuat komunitas perpustakaan. Terlebih, tetangga-tetangga kami di rumah (para pemuda) memiliki pemikiran yang sevisi dengan gagasan-gagasan kemajuan.

Beruntung bisa bertemu orang-orang seperti Pak Said. Suka belajar, aktivis, peduli, low profil dan berani maju. Semoga asrama ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Bisa menjadi setitik terang di wilayah sini. Amiin

Perpus Kemenag-Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakpus
15 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s