Edisi Curcol

Kemarin tiba-tiba ngomong tak berkesudahan dengan mbak Afi dan anak semester 3. Saat itu nunggu mbak Afi, penjaga perpus STAINU yang belum datang di kampus. Aku juga heran, Jakarta yang kota super sibuk ini, kenapa jam operasinya siang? Jam 9 sudah terhitung sangat pagi. Sebenarnya, aku hanya menceritakan pembicaraan di kelas Pak Radhar. Lagi-lagi Pak Radhar, tak akan selesai membicarakan beliau beserta kegelisahan-kegelisahannya.

Dan kenapa aku menjadi antusias dan menggebu-gebu seperti orang yang sedang demo dan orasi. Lupa daratan. Mbok belajar tenang dan nyantai.
Ah entahlah, aku hanya dan hanya seperti itu tanpa tahu apa penyebabnya. Mungkin karena aku memang tertarik pada persoalan yang diperbincangkan. Juga kepada mbak Jauh, aku nyerocos saja tanpa bisa direm. Lagi-lagi kayak orang ngisi seminar.

Barangkali aku sedang memuntahkan apa yang tertimbun di kepalaku. Mengingat aku belum pernah mengeluarkan uneg-unegku selama ini. Dalam rentan waktu tiga bulan, kepalaku sudah menerima banyak hal baru mengenai sejarah, kebudayaan, nusantara, ulama-ulama nusantara, tradisi dan muacem-muacem lagi.

Itulah mengapa, rasa-rasanya kepalaku ingin meledak. Terlepas dari itu semua, aku merasa bersyukur bisa berada di tempat seperti ini. Meski di kelas aku hanya ngowoh dan belum bisa menalar dan berdialog dengan baik. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik meski di kepalaku muncul banyak sekali tanda tanya dan tanda seru.

Kenapa aku belum bisa mengikuti dialog dan belum bisa menalar dengan baik? Tidak lain karena aku belum memiliki cukup pengetahuan dalam diriku. Istilahnya Pak Zaztrouw, stock knowledgenya nggak ada. Bagi diri ini, apa yang kualami di kelas, masih sebatas monolog. Dosen menerangkan banyak hal, dan aku hanya menonton dan memperhatikan dengan seksama. Dasar murid kurang ajar!!

Suasana dan konten ngobrol kali itu mengingatkanku ketika sedang ngobrol dengan mbak Pita, Tante atau pak Maola. Sedikit menyinggung tentang apa yang sedang terjadi di dunia ini. Waktu-waktu seperti itulah yang menjadikanku merasa gimana gitu, waow juga ya. Ngobrol ngalor-ngidul yang nyambung entah kemana saja. Betapa pengetahuan sangat luar biasa. Bukan pengetahuan itu sendiri, melainkan kemampuan dan kemauan untuk mencaritahu itu yang paling penting.

Kalau di kelas, aku senang mendengarkan Pak Rohim. Penuh humor, lucu, sartir, dan ada dasarnya. Ini masih pengetahuan umum. ilmu menjadi ilmu kalau sudah menjadi laku. Demikian yang selalu diulang-ulang Pak Radhar. Betapa jalan menuju laku ini yang bagiku masih sangat remang-remang. Dalam keadaan demikian pun, kami harus tetap berjalan dan mencari sedikit demi sedikit penerangan.

PBNU, Jakpus
08 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s