GAYA HIDUP

Kemarin barangkali menjadi hariku yang paling boros. 100ribeng keluar begitu saja. Maksudnya tak berbekas. Uang segitu kugunakan untuk nonton Headshot, makan bubur, beli kentang goreng n ongkos kopaja. Betapa mudah sekali mengeluarkan dan menghabiskan uang. Dibanding temen-temen, mungkin masih bisa ditolerir karena mereka kerap mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli baju, tas maupun sepatu. Tapi itu mereka, bukan aku.

Tapi disini aku tidak sedang membanding-bandingkan diriku dengan teman-temanku. Aku hanya melihat diriku dari sudut pandangku sendiri dengan segala pertimbangan-pertimbagan yang melekat pada diriku. Mulai dari hobi, kebahagiaanku, ekonomi dll. Uang segitu habis dalam sekejap bukanlah hal yang biasa bagiku dan juga keluarga. Di sinilah aku mulai mengingkari kedirianku, orang tua maupun rakyat Indonesia. Uang yang kupakai dari mana? Ya dari rakyat. Pikiran ini yang selalu mengusikku.

Apa karena aku tak pandai menikmati kehidupan? Kenapa tidak seperti temen-temen yang bisa enjoy dengan bersenang-senang dan membeli ini-itu. Makan di tempat elit kekinian, membeli pakaian bermerek, sepatu bermerek dll. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Itulah yang kupertanyakan selama ini. Baik ketika masih di Bangsri, Jogja maupun Jakarta. Betapa hidupku menjadi sangat tidak asyik jika menggunakan kacamata hidup kekinian.

Aku tidak bahagia dengan hal-hal seperti itu. Ibaratnya, nonton 50rb aja udah membuatku menyesal. Meski demikian, aku mencoba berpikir kalau sudah mengeluarkan banyak uang, mestinya produktivitas kita naik. Aku hanya berpikir ada apa dengan dunia perbioskopan?. Apakah ini juga tergolong alat jajahan baru? Entahlah, aku tidak begitu mengenal perkara ini.

Kucoba-coba pula untuk mencaritahu alasan, kenapa aku menjadi sedemikian ironisnya jika berhadapan dengan urusan uang. Iyalah, aku berangkat dari keluarga biasa dari desa. Terkadang aku memandang sebelah mata orang berada, sudah suud dzon duluan. Berada dalam harta, pangkat, kehormatan dan kepemilikan yang lain. Dengan demikian, aku tidak sampai hati mengeluarkan uang untuk 3 perkara yang dikenal dengan 3f, food, fashion n fun. Aku tak pintar mengemasnya.

Kenapa sih harus demikian? Apa aku memiliki landasan yang kuat atau hanya karena keadaan ekonomi keluarga yang begini-begini saja. Kalau hanya karena nggak punya uang, itu akan bergeser jika aku memiliki uang yang banyak. Gaya hidup itu akan menyesuaikan seberapa keberadaan duit.

Kalau kita miskin ya begini gaya hidupnya. Kalau kita termasuk golongan menengah ya begitu gaya hidupnya. Itu sudah dibuat kelas dan tingkatannya. Betapa sangat rapuh jika hidup kita dikendalikan oleh uang. Kita tidak memiliki daya apa pun untuk mengatur hidup kita sendiri.

Dan kenapa hidupku sangat tidak asyik? maksudnya, aku sih enjoy dan bahagia menjalaninya. Namun orang lain tidak akan melihatnya seperti penglihatanku. Hidup dari tempat buku ke tempat buku yang lain. Perpustakaan, toko buku, pasar buku, pameran buku dan tempat-tempat yang ada bukunya. Meski aku belum tahan membaca sederetan huruf-huruf yang ada dalam buku, aku seneng aja bisa berdekatan dengan buku. Nah kan? Buku-buku adalah teman pergaulanku. Aku belum bisa nyaman di tempat keramaian seperti mall atau pusat perbelanjaan modern. Sebentar berada di sana, aku sudah uring-uringan sendiri kalau sudah merasa capek.

Seperti kemarin itu, temanku mengajak ke mall, nyari tempat nonton. Untung nggak jadi. haha. Kali ini aku yang beruntung karena nonton di wilayah Taman Ismail Marzuki. Di sana ada sekelompok komunitas tari, ada informasi mengenai pementasan dll, ada perpusda daaaaan ada toko buku loak yang cukup besar. Aku langsung jatuh cinta dengan toko loak itu. Bukunya itu lhoooo, sudah kuno kekuning-kuningan, buku sejarah lama. Pokoknyaaa, aku syuka.

Bagaimana dengan temanku? ia memilih hapean di luar toko buku loak itu. Tidak tertarik sama sekali. Okelah, kecenderungan orang memang beda-beda. Aku tak bisa menyalahkan temanku maupun diriku sendiri. Terkadang, memikirkannya itu yang rumit. Atau aku saja yang selalu ruwet menyikapi masalah dan kehidupan. Tidak seperti kebanyakan orang. Mau bagaimana lagi? Aku tak bisa menyalahkan. Hanya bisa memetakan ini dan itu, lalu aku berada di kelompok yang mana. barangkali sesekali memang perlu hangout. ah, memikirkannya saja aku malas. Kenapa sangat malas?

Itulah kenapa aku cenderung pergi sendirian kalau mau kemana-mana. Takut temanku nggak suka. Emang mereka betah berlama-lama di tempat yang mengandung nilai kekunoan, kekinian dan masa depan? hahaha. Buku-buku tidak menarik bagi mereka. Tempatnya sepi dan tidak menyenangkan. Kita memang sama-sama senang, hanya objeknya yang berbeda. Tidak perlu diperdebatkan dan dipersoalkan.

Kenapa ya rasanya tidak bisa los dan ngalir ketika menulis? Tersendat-sendat, meloncat-loncat dan belum bisa plong. Sepertinya masih ada yang kurang. hahaha

Asrama Mahasiswa, Jakpus, 12 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s