Terkunci Sendirian

Kukira perkara yang baru saya alami semalam akan menjadi salah satu perkara heroik dalam hidupku, ternyata terasa heroiknya hanya beberapa saat saja. Yaitu ketika aku bercerita pada teman-teman asrama yang hanya berlangsung kurang dari 10 menit. Habis itu, hidupku sudah normal kembali. Tanpa ada sesuatu yang sangat spesial.

Ceritanya demikian:

Kemarin sekitar jam 10an aku bertandang ke perpus kemenag. Ketemu buku-buku bagus yang sudah kekuning-kuningan. Buku sejarah yang dicetak pada tahun 80an, tentu itu termasuk buku lama. Meski sangat tipis, buku tersebut menyimpan dan mengandung informasi yang banyak. Namun apa yang terjadi setelah mengambil buku-buku itu dari rak dan memboyongnya ke meja baca? Aku terkantuk-kantuk seperti biasa. Tiap kali berhadapan dengan buku, rasa kantuk buru-buru menyergapku. Aku jadi sedih sendiri karena tak kuasa melawan rasa kantuk itu. Persis saat aku mengerjakan skripsi dulu. Tantanganku adalah mengusir rasa kantuk. Hus-hus-hus.

Meski ngantuk, kubiarkan saja tanpa perlu terlalu menanggapinya dengan meletakkan kepala di atas meja. Berkali-kali mataku merem kemudian melek lagi. Merem, melek lagi. Keadaan seperti itu tidak membuatku memahami apa yang tertulis di buku dengan baik. Dengan kesadaran penuh pun aku belum bisa menalar dan mencerna dengan baik, apalagi sambil merem melek begitu. Dijamin nggak tahu apa-apa. Hahaha. Payah.

Kulihat jam di hape menunjukkan pukul dua kurang 10 menit. Aku berdiri tapi sambil menyusuri rak-rak buku. Setelah itu, aku menuju pintu. Lampu depan yang di dekat meja petugas sudah gelap. Oh, mati lampu, aku membatin. Sampai di pintu, ternyata ruangan perpus sudah steril dari orang-orang. Nggak ada orang, pintunya terkunci pula. Aku menacari jalan keluar dengan mendatangi pintu satunya. Namun tetap saja, pintu itu sudah terkunci. Lalu aku harus bagaiamana?

Aku mempertimbangkan beberapa hal dalam mengambil keputusan. Kubiarkan diriku terkunci atau menggedor-gedor pintu? semacam meminta pertolongan. Pikiranku campur-aduk, harus bagaimana nih? Menunggu di perpustakaan sampai pagi hari? Bagaimana kalau malam tiba? Kalau pengen pipis atau ee’? kalau haus? kalau lapar? kalau mau shalat? kalau kedinginan? dan kalau-kalau yang lain. Aku bisa mengatasi kalau-kalau itu tidak? Aku bimbang dan sempat ragu.

Sebenarnya kalau mau meminta tolong ke Pak Satpam bisa aja sih, namun aku mengurungkan niat. Sekedar ingin merasakan bagaimana perasaanku bereaksi saat terkunci di perpustakaan? Semalaman pula, sendirian bersama lorong-lorong buku yang gelap. Yasudah, aku tetap berdiam diri di perpustakaan.

Aku menahan banyak hal. Lapar, haus, dingin dll. Sewaktu terbangun dari tidur, aku tersedak dan batuk-batuk kecil. Ternyata tenggorokanku kering, ingin disiram air. Kutenangkan diriku dengan menyadarkan diri. wkwk. Untung aku tidak minum terlalu banyak sebelum masuk ke perpustakaan, jadi nggak terlalu ingin pipis. Berabe kalau sudah dihadapkan dengan hasrat ingin vivis (HIV). Tidak menjamin bisa bertahan atau bisa jadi ngompol di dalam ruangan.

Aku shalat ala kadarnya. Mensucikan diri dengan tayamum. Kugerayangi debu-debu yang menempel di rak-rak dan di buku-buku. Inilah hikmahnya jika buku jarang dibaca. Buku-buku itu akan berdebu sehingga kalau ada orang yang kepepet tayamum, bisa menggunakan debu yang menempel. Haha. Bersyukurlah dengan perpustakaan yang selalu sepi dan sunyi. Lucu juga ketika menyadari bahwa tanganku sedang mencari dan meraba debu di buku. Entah, lucu aja.

Sebelumnya aku telah mengirim wa ke salah satu teman yang kebetukan pernah ke perpus kemenag. Kalau curhat dan wadol ke teman yang tahu situasi dan kondisinya kan enak. Si teman ragu aku bisa bertahan sampai 14 jam tanpa suatu apa. Temanku ini sangat rewel sekali menanyakan aku bawa makan nggak, bawa jaket nggak, kalau pengen pipis gimana, shalatnya gimana, ac nya nyala nggak, lampunya hidup nggak, kalau kedingianan gimana. Hellooo? tanya-tanya mulu ih dari tadi. Ia juga menyarankanku untuk meminta pertolongan tapi aku nggak mau biar hidup ini memiliki sedikit sisi kelucuan, aku beralasan.

Pertanyaan dan kemungkinan itu sudah menjadi resikoku kali. Tidak perlu berpikir yang macam-macam. Lagi pula, orang seumuranku sudah bisa mencari pertahanan dan perlindungan diri dari keadaan yang menimpa. Di sepanjang malam, aku selalu terbangun di setiap beberapa jam. Selain karena badan yang pegel-pegel, juga karena ada sedikit rasa takut, bagaimana jika ada orang yang masuk dan berbuat hal yang tidak-tidak? atau ada hantu perpustakaan yang ingin mengusirku lantaran aku bukan penghuni tetap perpustakaan?. Ada semacam rasa ngeri-ngeri takut gitu.

Nyamuk pun seakan berpesta pora menghisap darahku. Tak sampai hati untuk membunuhnya. Jadi berpikir ulang, kalau tidak ada orang di perpustakaan di malam hari, nyamuk-nyamuk itu akan menghisap darah siapa? Kedua pergelangan tanganku bentol-bentol kecil. Biarlah, tidak selalu dimakan nyamuk, sekali-kali bolehlah.

Waktu datang ke perpus, aku pernah berpikir bagaimana rasanya tidur bersama buku-buku yang bejibun? Tentu sangat asyik. Aku juga sempat membenak untuk menginap di perpustakaan. Mungkin kemarin adalah waktu yang tepat bagiku untuk membuktikan tidur di perpustakaan enak dan asyik tidak. Ternyata rasanya begitu. Asyik sih asyik, tapi kalau pikiranku berisi hal yang tidak-tidak? Tidak jadi asyik deh, malahan agak tegang. Aku tidak berani bergerak, takut ada yang mendekat. Apapun itu.

Aku memimpikan hal-hal yang sangat menggetarkan pergerakan jantung. degdeg degdeg. mengenai perempuan yang di tangannya ada darahnya, kalau memegang wajah seorang bocah, bocah tersebut bisa mati. Lalu bermimpi ada orang gila yang akan masuk ke dalam rumahku. Kami mencari perlindungan. Ada mbah putri dan Encop yang telah mempersiapkan tempat shalat, namun tempat shalatnya tidak rata. Pokonya aneh dah.

Lalu datanglah masa yang kutunggu-tunggu, pagi hari. Kudengar ada lampu yang dinyalakan. Ctek!

“Pak, tolong bukain pintu yang sebelah sana dong”

“Tadi masuknya gimana?”

“Sudah dari kemarin Pak”

“Jadi tidur sini?”

“Iya, nginep”

“Kok bisa?”

“Nggak ada orang yang liat Pak, dikiranya nggak ada orang di Perpustakaan”

Ada teman bapak itu yang datang. Berbicanglah mereka berdua mengenai perkara yang menghebohkan dunia dan semesta pikiran mereka. Aku tak terlalu menanggapi karena yang kubutuhkan adalah minum air, ke toilet dan cari makan di kantin. Bapak itu ingin memarahi Pak Satpam yang tidak tahu kalau ada orang di dalam perpustakaan. Si bapak merasa tidak enak denganku yang harus menginap di perpustakaan gara-gara keteledoran pak Satpam.

“Pak, saya nggak papa. Jangan marah ke Pak Satpam. kasihan”

“Ya harus, bagaimana kalau besok ada kejadian yang kedua kalinya. Biar buat pelajaran. Saya kan nggak enak sama mbak”

“Saya tidak apa-apa Pak, sungguh. Malah punya pengalaman terkunci dan tidur di perpustakaan. hehe. Saya pulang dulu ya Pak”

Aku berjalan sambil cengar-cengir karena sedang melakukan misi lain.

Ada film yang menceritakan perkara seperti ini. Film India yang dibintangi seorang bocah. Bocah lanang yang terkunci di kelas karena si bocah tertidur sehingga tidak tahu kalau sudah jam pulang. Malangnya lagi, hari itu menjelang liburan sekolah. Si bocah harus berada di kelas selama beberapa hari. Aku sampai geregetan waktu menontonnya, kenapa tidak ada seorang pun yang melihatnya. Kasihan sekali bocah itu, sampai-sampai memakan kapur tulis karena lapar. Beruntunglah diriku yang tidak sampai makan kapur tulis. Mungkin kalau ada kapur, aku ikut-ikutan memakan kapur tulis sebagai bentuk solidaritasku terhadap bocah yang kutonton beberapa waktu silam. Biar merasakan hal yang sama. Situ makan kapur, saya pun makan kapur. Wkwkwk

Asrama Putri Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakpus
15 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s