Gawai Melambai

Kuota internetku sedang habis. Sengaja tidak langsung kuisi, bukan karena nggak punya duit, tapi ngirit. Haha apa bedanya? Nggak nding. Sekedar ingin tahu saja, menguji diri sendiri seberapa kuat bertahan dalam keadaan ini? Hidup tanpa kuota, apa susahnya? Baru dua hari saja sudah kelabakan dan gatel ingin nyari wi-fi gratis atau tetring hape teman. Ternyata aku belum sepenuhnya mampu bertahan dalam keadaan tanpa kuota ini. Rasa-rasanya mau kiamat saja, atau terasa ada yang kurang dari hidupku ini. Hampa dan hambar.

Padahal, aku baru menggunakan hape pintar setelah lulus kuliah. Mungkin setahunan ini. Tapi gawai itu telah merasuk ke dalam diriku sampai ke bagian diriku yang paling dalam, hati. Aku menggantungkan diriku pada gawai tersebut. Seolah-olah tak bisa menjalani hidup dengan baik tanpa kehadirannya disampingku.

Ingin kusapih diriku dari gawai kecil itu. Barang kecil tapi pengaruhnya sungguh luar biasa dalam hidupku. Entah pengaruh positif atau pengaruh negatif. Ketika menggunakan gawai, aku merasa sedang mengerjakan sesuatu. Entah membaca status orang, membaca berita terkini atau apalah. Namun, di sisi lain aku pun ingin bertanya apakah yang kuanggap sebagai aktivitas tersebut benar-benar aktivitas? Itu aktivitas sungguhan atau semu saja?

Aku pun tak tahu, sepertinya aku melakukan hal positif dengan mengeshare berita terkini mengenai Suriah, kemanusiaan, literasi, ilmu, alam, pendidikan dll. Tapi kenyataannya apakah juga demikian? Juga entahlah boi. Kenapa dunia menjadi sedemikian semunya jika dilihat dari benda kotak panjang itu. Benda kecil yang telah memerangkap diriku. Aku sulit untuk mendobrak dan keluar dari perangkapnya.

Aku tahu aku adalah korban, tapi kenapa aku sangat bahagia dengan menikmati kekorbananku? Aku tak kuasa melawan diriku atau tata kerja dunia? mungkin dua-duanya. Di sinilah aku merasa ngenes sendiri, tak berdaya, tak kuasa, tak bertenaga, pun tak bisa berupaya. Ibaratnya, aku sudah tak sanggup lagi untuk mereaksi gawai. Jahannam! Aku menjadi budak gawai yang telah merenggut dan merampas banyak hal dari hidupku.

Aku masih memiliki pilihan untuk menolaknya, namun aku tak bergeming. Mengutukinya sambil menikmatinya. Sungguh munafik. Aku bisa meninggalkannya atau mengurangi intensitas hubunganku dengan gawai, namun kenapa aku masih enggan? Kalau tidak memegang gawai, aku tak bisa hidup kah? Ketinggalan informasi yang seolah-olah telah menjelma sebagai dunia itu sendiri? Informasi adalah dunia itu sendiri? atau hanya sekedar tafsiran atau pandangan mengenai dunia? Bukan dunia itu sendiri. Bisa jadi bukan. Dunia tak sesempit yang ada di gawai. Emangnya gawai sempit? justru dengan itu, kita bisa melihat dunia luas yang tidak bisa kita sentuh di dalam kehidupan nyata. Kapook, bingung sendiri toh.

Ada banyak konsep-konsep yang harus didefinisikan secara clear terlebih dahulu. Mengenai dunia sempit dan luas.

Teringat nasihatnya Pak Zaky dulu, kalau nderes jangan sambil hapean. Karena apa? Pertama-tama hape ada di sisi kita. Kita masih megang Al-Qur’an, lalu mengambil hape tanpa sadar, daan? Tangan kiri memegang Al-Qur’an, tangan kanan megang hape. Lalu secara perlahan kita meletakkan Qur’an kita sembari asyik dengan hape kita. Hal-hal kecil seperti itulah yang kiranya terjadi dalam kehidupan manusia. Gawai merenggut komunikasi kita dengan sekitar, waktu, kedisiplinan, Qur’an, bahkan hati kita sendiri. Benar-benar harus pintar menyapih barang satu ini.

Bagaimana aku masuk kantor Diniyah dan semua orang saling diam dan asyik masyuk dengan gawai. Ke kamar 6A, teman-teman menjadi cuek. Pun ketika aku bertemu dengan teman KKN ku setelah dua tahun lamanya, kami nggak saling bertanya kabar layaknya orang yang baru bertemu. Kita malah sibuk dan berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh disana. Kenapa menjadi begini?

Juga ketika melewati pertigaan Matraman, kulihat semua orang yang hidup di dalam gawainya masing-masing. Penjaga counter, muda-mudi yang berseliweran, pedagang jamur crispy, dan para pedagang yang lain. Mereka tidak saling bercanda atau bertegur sapa. Aku menjadi ngeri sendiri melihatnya. Ada apa dengan dunia ini?

Aku juga sedemikian naifnya. Hidup dalam duniaku sendiri, dunia gawai. Seakan apa yang kuketahui dari benda kecil itu merupakan keadaan sebenarnya. Waktuku tersita banyak. Kenapa aku menyalahkan apa yang berada di luar diriku? Bukannya semua yang kita alami merupakan pantulan dari apa yang terdapat dalam diri kita? Ah embuh

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
18 Desember 2016
`

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s