Lemes

Mau ngapain lagi kalau nggak ke perpustakaan? Lha dibiayai rakyat untuk belajar kok. Ya, hari ini aku ke perpusnas dengan bu Zakiah. Kebetulan bu Zakiah punya waktu lega. Besok, kedua putrinya pulang dari pesantren, liburan. Dijamin beliau bakalan repot dan nggak bisa mikirin aku dan tugas kami. wkwk

Sepanjang hari ini aku hanya berjalan tanpa daya. Mencari buku, membacanya sekilas, melihat-lihat daftar isi dan para penulis londo yang aduhai tekun. Kok bisa sih mereka ngerjain proyek, nulis buku, neliti dengan sungguhan begitu. Apa motivasi mereka? Sebentar-sebentar, aku duduk bersandar pada sandaran hati, eh sandaran kursi. Seolah tak kuasa menegakkan badan.

Entah kenapa, rasanya ngenes sendiri seperti orang yang mengasihani diri sendiri. Iyalah, hidup di perantauan ini boi. Kalau sudah begitu, pikiranku sudah tak karu-karuan. Memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa yang harus kuperbuat? hidup tanpa semangat begini.

Ya seperti biasa sih, membaca dikit-dikit, menulis dikit-dikit, ngaji dikit-dikit, makan, minum, mandi, berjalan, nyetrika, nyuci dll. Selayu-layunya langkah kaki kita, toh kita kudu tetap melangkah. Meski dengan ayunan kaki yang lunglai. Mamak… kangen mamak. Besok harus telpon rumah dan Lisa. Ngecerge semangat.

Aku dan bu Zakiah ngobrol-ngobrol mengenai suasana keilmuan di Mesir. Apakah terasa sekali di sana? pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid, Hassan Hanafi dll. Mengingat bu Zakiah kuliah di tahun 2000, tahun dimana tokoh-tokoh tersebut masih hidup. Pemikiran mereka kerap kali dinilai sesat dan mereka dicap sebagai murtad. Sampai-sampai Nasr Hamid harus menceraikan istrinya, makanya beliau pindah ke Belanda. Nasr Hamid menulis buku yang berjudul “At Tafkir fi Zamanit Takfir”, berpikir pada masa pengkafiran. Biar adil, pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Tidak fair dong pemikiran dilawan dengan kekuatan, hukum dan kuasa.

Bu Zakiah juga kenal rang-orang seperti Zuhairi Misrawi dan Lutfi As-Syaukani. Semasa gitu.

Suasana Mesir yang pas banget buat belajar, berbeda dengan nuansa Qatar yang cucok buat cari duit. Barangkali kasusnya sama dengan Jogja yang nyaman buat belajar, dan Jakarta yang nyaman buat nyari duit. Kota ilmu dan kota duitt.

kami juga sempat nggosipin tingkah para bapak, teman sekelas kami yang sulit kuterima. Kok bisa-bisanya ya?

Any way lah. Dinamika kehidupan

Kami makan di kantin, memesan kupat tahu dan gado-gado. Bu Zakiah nggak mau kuganti uangnya, padahal kan aku nggak enak jika dibayarin terus. Kata beliau, jalan denganku sama dengan jalan bareng anaknya. Hahah. Kita seperti sepasang emak dan anak. Yaudah, makasih ya buuu…

Hidup ini masih berlanjut kawan, sampai kamu merasa menjadi orang yang paling nggak berarti pun hidup tetap berlanjut. Tetaplah hidup dengan sewajarnya Elii.. tak perlu meratapi kesedihan. hiks-hiks-hiks

Perpusnas, Jakpus
21 desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s