Sejarah Kita

Kemarin baru merampungkan bukunya Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh mengenai Sejarah Awal Masuknya Islam ke Indonesia. Buku yang sangat tipis, terangkum dalam kisaran empat puluhan halaman. Terbit sekitar tahun 70-an. Tepatnya tahun 1971. Buku langka seperti ini sulit ditemukan di toko-toko buku di Indonesia. Aku mendapat buku tersebut dari salah satu potokopian di Ciputat melalui mas Hasan, teman sekelasku.

Buku itu berjudul “Sekitar masuknya Islam ke Indonesia”. Dari membaca judulnya “sekitar”, aku menerka-nerka bahwa Prof. Abubakar tidak menyimpulkan kapan, dimana, oleh siapa Islam masuk ke Indonesia secara pasti. Beliau menampilkan data-data, penemuan, penelitian sebelumnya, pendapat orang terhadap kejadian saat itu. Saat itu kapan? ya ketika Islam ditengarai mulai berada dan berinteraksi di Indonesia.

Sejarah bukanlah perkara yang mudah diurai dan dinarasikan. Justru aku dibuat bingung dengan pemaparan-pemaparannya. Aye bingung bang. Okelah. Its okke. Nulis kok kayak orang kesasar begini ya, muter-muter.

Waaah, mau mengurai masalah buku rasanya susah banget. Tersendat-sendat. Alur pikirku juga kacau untuk menarasikannya. Haha, ketahuan kalau nggak pernah merangkum narasi-narasi dari buku. Duh bener-bener belum terbiasa. Makanya mau menarasikan hasil diskusi di kelas juga susah. Maklum, aku belum begitu mengetahui banyak hal mengenai sejarah. Hanya sekedar tahu dan itu pun secara sekilas saja. Mamaaak!

Meski sangat tidak mudah, aku harus tetap menarasikannya. Itung-itung melatih cara berpikirku mengenai sejarah yang selalu ruwet dan mbulet. Seperti benang kusut yang sulit untuk diurai. Kayak permasalahan di Koppontren, harus ditemukan akar permasalahannya biar kita bisa mengurai tahapan selanjutnya. Tapi terkadang, kita belum mampu mendeteksi antara akar, cabang, dahan dll. So?? Tetap ruwet deh.

Iya, dalam keadaan ruwet pun kita harus tetap berjalan dan menulis. Kita mulai dari daftar isi ya? Pendahuluan, Sumber Barat, Sumber Timur, Dimana Islam Datang Mula-mula, Siapa Pembawa Islam Pertama dan Dari Mana, Mazhab Apa Masuk Mula-mula ke Aceh. tentu aku tak akan menguraikan isi buku tersebut di sini. Kita perlu membaca sendiri dan menafsirkan sendiri. Tidak dari pikiran ke pikiran, semakin kita jauh dari sumber info. Jadi? Baca sendiri yaaa….

Aku akan mencoba menuliskan kesanku setelah membaca buku sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Berbagai pendapat dan teori terbentang luas, bebas mau pilih pendapat yang mana. Teori Gujarat, Persia, Arab, Indonesia, China dkk. Teori-teori itu bicara tentang dari mana dan oleh siapa Islam bisa sampai ke Indonesia.

Menarik pula mengetahui SIAPA yang membawanya kesini. Kutulis “siapa” dengan huruf kapital. Artinya, darurat banget untuk mengetahuinya. Kalau tahu Islam dibawa oleh siapa dari siapa dari siapa dari siapa dari Kanjeng Nabi, tentu akan membuat kita terharu mengetahui orang-orang yang menyambungkan kita sampai Kanjeng Nabi. Pembahasan siapa dari siapa dari siapa dst merupakan bahasan ilmu asanid.

Selama ini, yang bisa terlacak adalah sanad keilmuan atau sanad ngaji Al-Qur’an kita sampai Kanjeng Nabi. Namun sanad keislaman kita nampaknya masih sulit dicari siapa para penyambung diri kita sampai Kanjeng Nabi Muhammad.

Sanad keilmuan biasanya bersambung pada guru-guru yang berasal atau berada di Haramayn (Makkah dan Madinah). Seperti Mbah KH. M. Moenawwir bin Abdullah Rasyad yang belajar Al-Qur’an di makkah dan Madinah. Mayoritas ulama Nusantara belajar dan berguru kepada ulama Haramayn, sebagaimana halnya Abdurrauf Singkel, Syamsuddin Sumatrani, Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syekh Makhfudz at-Tarmasi, KH. Khalil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dll.

Ulama-ulama di atas merupakan generasi awal jaringan ulama Nusantara yang bersambung pada ulama-ulama Arab. Beliau-beliau hidup pada abad ke-16, 17, 19. Padahal, Islam diduga ada di Indonesia mulai abad 11 M atau 13 M dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Gresik dan juga makam raja Pasai Malikus Saleh. Dituliskan pada masa itu, mungkin abad 10an atau 11an M (menarasikan sejarah kok kayak orang dagangan yang pake sistem tawar-menawar, jan harus dipertanyakan lagi), banyak orang Yaman yang datang Ke Nusantara, tepatnya di daerah Leran Gresik. Itulah kenapa ada makam tua bertuliskan fatimah binti Maimun di Leran Gresik. Mungkin ibu Fatimah merupakan salah satu rombongan yang datang dari Yaman itu. Mungkin lho ya. Nah, cerita seperti ini merupakan sejarah masuknya Islam berdasarkan data sejarah.

Lebih awal lagi mengenai masuknya Islam beradasarkan cerita mitos, Islam masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah. Namun aku belum mengetahui cerita persisnya, makanya belum bisa menuliskannya di sini. Hehe, piiis.

Setelah abad 11 dan 13, muncul Wali Songo di abad 15an sebagai pendakwah Islam di Nusantara yang sukses karena dalam waktu yang tidak lama mampu mengislamkan tanah Jawa. Namun, kita belum mengetahui sambungan yang bisa mempertemukan simpul-simpul kesejarahan kita. Antara Wali Songo sampai masanya Hamzah Fansuri pun belum ada perekatnya. Kita mengalami semacam kekosongan masa dan peristiwa. Di waktu-waktu tertentu, kita tak mengetahi apa yang terjadi di bumi Nuswantoro ini.

Abad 11, Abad 13, Abad 15, Abad 16-17

Hanya di abad-abad itu yang kutahu. Atau hanya karena aku saja yang belum membaca. Bahkan masih tersering malas bergerak dan malas ngafa-ngafain. Kasihanilah diri sendiri. Kalau tidak kita sendiri, siapa yang mau memikirkan hidup kita?
Kata Pak Ginanjar, seolah beliau sudah memiliki gambaran umum dan peta persambungan atau jaringan antar ulama. Namun belum ketemu perkara yang bisa mencantolkan antar gambar itu. Gambarnya masih terpisah. Memang, Nuswantoro ini tidak hanya Jawa, Sumatra, Aceh, Sulawesi saja. Lha membentang dan meliputi Asia Tenggara kok. Sebutannya meliputi Jabah, Jawa, Bilad Waq-waq, Negeri bawah angin.

Mungkin perkara yang sedang kutulis sudah selesai dibicarakan beberapa waktu silam. Aku yang ketinggalan karena baru mempelajarinya. Seolah-olah, ini adalah perkara yang baru saja terjadi. Hmmm…. Lihat buku-buku yang ditulis peneliti Belanda, umurnya sudah berapa tahun? Sama umurku saja masih tua an buku sejarah itu. Lalu, aku mempelajari sesuatu yang usang, kudet, kuno? Mungkin, tapi perlu diketahui bahwa dengan mengetahui identitas diri kita, kita bisa mengetahui siapa Sang Pencipta kita. Identitas kita tertimbun beberapa tahun lamanya. Kita perlu menguak dan menggali diri kita sendiri.

Kita hanya sadar bahwa bangsa ini lahir setelah kemerdekaan. Paling banter, satu abad lebih lah. Pengetahuan kita mengenai abad-anbad sebelumnya masih kabur dan mengawang. Tugas kita untuk membuatnya tidak kabur dan tidak mengawang. Demikian nasihat para guru kami. Tugas ini sangat besar dan tidak ringan, seperti yang dikatakan Prof. Aboebakar Aceh,

“Kita manusia, yang hanya berumur setahun jagung dan beradarah setampuk pinang, bersifat lemah dan bernyawa rapuh, hanya meraba-raba dalam gelap gulita untuk mengetahui, apa yang hanya beberapa ratus tahun sudah terjadi. Tetapi meskipun demikian, barang siapa berjihad atas jalannya, Tuhan akan menunjukkan jalannya.”

Asrama Putri Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
20 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s