Petani Kendeng Masih Terus Berjalan

Kemarin melihat timeline facebook yang mengabarkan bahwa Kendeng akan tampil di Mata Najwa. Aku tak bisa menyaksikannya dari TV karena nggak ada TV di asrama. Tak sabar menunggu hasilnya. Hasil pembicaraan Pak Ganjar dengan warganya. Barangkali aku sudah ilfil duluan sama Pak Ganjar sehingga aku membayangkan kalau acara tersebut akan rusuh. Kalau aku yang diundang, bisa-bisa aku sudah mencakar-cakar wajah Pak Ganjar sembari menangis histeris. Pun ingin berteriak padanya “teganya dirimu, teganya-teganya-teganya”.

Pagi ini aku baru bisa menontonnya lewat youtube di perpusnas, modal wifi gratisan. Bayangan kerusuhan itu nggak terjadi karena dua warga tersebut tetap kalem, tenang dan stay cool maan. Aku yang menonton saja sudah bergemuruh dada. Belum apa-apa aku sudah mewek dan sentimentil duluan. Di part 1, aku full mewek. Ya, di bagian mbak Najwa membuka acara dengan prolognya lalu kang Gun dan yu Sukinah berdoa dengan apa yang kusebut semacam tembang. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk mereka. Aku hanya bisa berkisah di facebook tanpa beraksi apa-apa. Pada intinya, aku tidak berbuat apa pun untuk mereka. Hanya mengeshare berita-berita tentang mereka.

Entah sejak kapan aku mengikuti kisah petani Kendeng. Kisah yang begitu dramatis dan melankolis. Waktu itu ada Melanie Soebono yang membela petani-petani itu. Bagaimana para petani dihabisi para preman, polisi dan aparat. Mereka berdiri sendiri melawan kuasa dan pemodal. Tidak ada satu tempat pun yang bisa dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah. Orang-orang yang berdiri di belakang petani Kendeng bukanlah pemerintah, politisi atau aparat yang hidup dari uang rakyat. Mereka adalah orang yang peduli kepada sesama hidup. Kalau mau mengetahui kisahnya, coba tonton Samin VS Semen. Di blognya mbak Melanie pun dituliskan beberapa perkara. Mbak Melanie Soebono adalah cucu dari Pak Habibie.

Tak sampai hati melihat mereka terlunta-lunta dalam ketidakpastian keputusan. Beberapa kali mereka berjalan kaki dari Rembang sampai Semarang. Dengan cara apalagi mereka bisa menyuarakan kegundahan hatinya. Berlari kesana-kemari dan tidak pasti. “Kasihan mereka, harus didampingi”, kata Pak Said guruku di asrama yang juga belajar hukum.

Lalu datanglah kesempatan baik tadi malam. Najwa Syihab mengundang para petani di acara Mata Najwa. Dengan begitu, acara ini merupakan acara yang benar-benar ingin mengetuk hati pemirsa. Di acara apalagi, suara rakyat bisa didengar seluruh warga bumi Indonesia. TV adalah media yang paling mudah diakses, pun penyebaran informasinya mengalir deras. Terimakasih mbak Najwa, sungguh terimakasih.

Hadir dalam acara tersebut adalah kang Gun Ritno, yu Sukinah dan Pak Ganjar. Aku melihat bagaimana mbak Najwa membantu sedulur tani tadi malam. Pertanyaan-pertanyaan yang berpihak pada petani Kendeng. Seperti “anda menganggap warga anda fiktif?”, “anda akan menghentikan pabrik?”, “Apa doa anda?”.

Aku tidak paham dengan hukum, jadi nggak bisa mengurai pada inti persoalannya. MA sudah mengabulkan tuntutan warga Kendeng, akan dilakukan kajian lingkungan selama setahun. Dalam proses kajian lingkungan itu, izin-izin atau operasi harus dihentikan. Di pihak lain, pak Ganjar mengeluarkan izin baru dengan alasan yang bermacam-macam. Kata kak Makmun, alasan kan bisa dibuat belakangan. Intinya, pak Ganjar senang kalau ada pabrik semen di Rembang. Ini yang kemudian menjadi persoalan saat ini.

Dalam dialog tersebut, aku menangkap kesan bahwa Pak Ganjar berada di posisi berhadap-hadapan dengan warganya. Tidak berada di posisi yang sama. Bagaimana seorang pemimpin bisa begitu? Aku baru menyaksikan sendiri contoh pemimpin kita yang ternyata tidak berpihak pada kita, rakyat. Tak ada kesan atau perasaan untuk mengayomi atau memberi ketenangan dan kedamaian. Ya Allaah, bagaimana bisa? lalu kepada siapa lagi rakyat bergantung pada pemimpinnya?

Tapi tenang saja, Cak Nun ngendiko, Rakyat Indonesia sungguh hebat. Mau dipimpin siapa pun, tak akan berpengaruh pada rakyat Indonesia. So Pak Ganjaaar, dengan atau tanpa anda, kami para warga Jawa Tengah pada umumnya dan petani Kendeng khususnya, nggak bakalan kematen. Ada dan tiadamu tak berpengaruh. Wujuduka ka ‘adamika. Catat! Njenengan seperti lagu di film “Di Sini Ada Setan”, “Kau slaluu, ku rasaaa, hadirmuuu, antara ada dan tiada”.

Pak Ganjar yang berwajah teduh, good looking, selalu tersenyum bersikap santai. Entah semesta pikiran dan perasaannya sesantai tampilan luarnya. Petani Kendeng tetap menunggumu pak Ganjar. Doa terbaik yang kau harapkan semoga juga terbaik untuk wargamu. Tolak pabrik semen! dengan nama apa pun.

Perpusnas, Jakpus
22 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s