Kangen Gus Nang

Tiba-tiba merasa berada di suasana yang paling sendu dan rindu. Rindu akan kehadiran sosok guru dalam hidupku. Gus Nang. Aku teringat bantal-bantal di tempat ngaji kami. Bantal yang dibuat untuk duduk, menyandarkan badan dan penyangga kaki. Bolpoin yang nongol ketika kami salah mengeja kalam-Nya, beserta tangan beliau yang penuh kelembutan. Suara “hem” tak kalah ngangeni.
Kehadiran beliau melalui gang kecil, rutenya dari ndalem-Nurus Salam-Gang sate-ndalem lor. Langkah kaki beliau yang tak pernah terburu-buru. Beliau berjalan dengan segenap jiwa raga, santai dan penuh wibawa.

Hanya sendal beliau yang bisa kusentuh, yaitu ketika beliau sudah masuk ndalem dan kami berkesempatan menaikkan sandal beliau ke rak sepatu depan dapur. Tempat kami menyetor, Gus Nang sendiri yang menyiapkan tempatnya. Menggelar karpet yang akan kami duduki, menghidupkan kipas angin, wudlu, duduk bersandar di tembok yang menghadap jendela. Kami duduk di belakang beliau dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk.

Gus Naaang, di tempat ngaji, kami merasakan hubungan yang rumit antara diri, Gus Nang, Kanjeng Nabi, Al Qur’an dan Gusti Allah.

Di tempat lain, kami harus beradaptasi lagi Gus. Tempat-tempat dimana kita harus hidup mandiri dengan membawa Qur’an. Seringkali kami terlupa bagaimana caranya hidup dengan Qur’an. Kami abai begitu saja karena dinamika kehidupan yang kami hadapi terasa begitu menyita perhatian. Lalu dimana dan bagaimana kami bisa hidup di atas rel yang telah menjadi titik-titik perjalanan?

Asrama Mahasiswa, Jakpus
24 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s