Pak Radhar Guruku

“Pak”, sapaku karena kaget dengan kehadiran Pak Radhar. Sebelumnya sudah ada kabar bahwa beliau tidak bisa masuk kelas. Aku langsung memberi aba-aba pada mas Hasan. Beliau yang kusapa tidak menimpali sapaanku dengan sebuah jawaban lisan. Pak Radhar hanya memberi jawaban “iya” dengan menaikkan salah satu alis mata beliau.

Kebetulan badanku masih lemes gara-gara belum makan nasi dan semalamnya mengikuti acara haul Gus Dur di Ciganjur sampai jam satu. Lalu aku shalat, memesan gorengan dan mendatangi warteg. Kembali ke kelas dan balik lagi ke bawah, membeli kopi untuk Pak Radhar. Meski hal itu adalah pekerjaan yang sangat sepele dan terlalu remeh, aku menyukainya. Senang aja menyiapkan makanan dan minuman yang diminta Pak Radhar.

Pak Rohim memijit Pak Radhar. Pak Radhar duduk menunduk seperti sedang tertidur lelap. Beberapa kali Pak Radhar merebahkan badannya ke tubuh Pak Rohim, ada beberapa anggota badan beliau yang terasa sakit. Beliau habis cuci darah dan keram menyerang Pak Radhar secara tiba-tiba. Baru kali ini kami melihat sendiri beliau yang sedang kesakitan. Biasanya, beliau normal saja ketika di kelas, tidak seperti orang yang sedang sakit. Namun tadi benar-benar kami menyaksikan guru kami yang sakit.

Pak Radhar ambruk beberapa kali karena kram. Pak Rohim mendorong kaki Pak Radhar. Ketika berdiri pun Pak Radhar sempoyongan. Tidak bisa memakai sepatu sehingga beliau duduk lagi. Kakinya harus dipijat untuk yang ke sekian kalinya. Kram tiba-tiba menyerang. Namun Pak Radhar tidak terlalu menghiraukannya. Seolah tidak ada apa-apa setelah Pak Radhar ambruk. Beliau melanjutkan mengajar.

Ah Pak Radhar. Diajar seorang budayawan memang berbeda dengan intelektual. Meski Pak Radhar telah melampaui derajat intelektual, beliau tidak suka diberi status apapun. Budayawan, intelektual, penulis, jurnalis dll. Beliau tidak membutuhkan sebuah label, Pak Radhar hanya berbuat dan berbuat. Entah orang lain menilainya seperti apa. Ngapain gitu?

Aku memang agak cengeng, walaupun tidak cengeng-cengeng amat. Tetap saja ada air yang menggenang di pelupuk mata. Entah karena betapa aku tak kuasa melawan diriku sendiri atau melihat keprihatinan guruku terhadap realitas sedangkan aku tak mampu membantunya. Aku masih sangat bebal dan kolokan. Tidak bisa dibilangin. Sudah tahu jalan mana yang harus dilewati, tapi tak berkemampuan untuk berjalan di sana. Betapa hal itu yang membuatku patah hati dan sedih. Ya Allaaah, aku tak bisa menyetir dan mengendalikan diriku sendiri. Monggo panjenengan yang menggerakkan diriku. Betapa tarikan-tarikan itu sangat kuat dan menyakitkan. Kami harus bagaimana lagi Gusti.

Kubiarkan semesta kedirianku bereaksi. Akal, hati, jiwa, fisik. Selama ini aku hanya memakai salah satu dari keempatnya. Ada bagian-bagian yang tidak kufungsikan, kuabaikan sedemikian lamanya. Makanya sekarang kucoba untuk mengaktifkan 4 anugrah itu. Ibarat mesin yang lama dianggurkan, mesin itu jadi karatan. Tidak apa-apa, dipanasi sedikit-sedikit. Jangan sampai mati total.

Kebudayaan ibarat jati diri kita. Kebudayaan yang tak memiliki power di hadapan kehidupan politik, ekonomi, agama dan lain-lain. Diri kita (masyarakat Indonesia) tak tahu kedirian kita. Melihat bayang-bayang dirinya sebagai dirinya. Ia tak mampu melihat kediriannya karena terhalang hijab-hijab. Lalu apa yang terjadi? Orang berilmu yang korupsi, percaya pada klenik, eklektik, tidak tuntas menjawab persoalan dirinya.

Inilah yang kusyukuri bisa belajar di kampus kecil ini. Kampus yang pernah kuremehkan dan kupandang dengan sebelah mata karena sepi, bau rokok, kecil, fasilitas terbatas. Tapi sungguh aku merasa belajar hidup di sini. Tidak sedang dikelabuhi ilmu-ilmu yang terkadang sangat menyilaukan pandangan mata. Kalau terperangkap di dalam teori-teori, kita stag dan berhenti. Selamanya akan menjadi eksistensialis, rasionalis, empiris dkk. Sampai mati pun begitu. Padahal kita adalah orang yang dinamis, kenapa mau-maunya dibakukan dengan teori-teori itu. Kenapa kita tidak bisa menjelaskan diri kita sendiri.

Teori-teori yang bertebaran memang harus dipelajari, tapi kita tidak harus berhenti di sana dong. Kita punya pandangan hidup sendiri sebagai orang bahari. Kenapa harus merujuk orang-orang luar untuk membaca diri sendiri. Bagaimana bisa?? Kita meminjam kaca mata orang lain untuk memandang diri sendiri. Belajar untuk memahami diri sendiri. Kalau kita tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, percuma dong kita belajar. Buang saja semua ilmu yang telah didapat.

Ilmu yang tidak tercerabut dari laku kita atau laku kita yang tidak melenceng dari ilmu yang telah kita pelajari selama ini. Bahasa moralnya, kita mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Terdengar sangat normatif ya? Iya, semua penjelasan Pak Radhar sebenarnya sudah banyak kita ketahui dan sangat normatif. Namun penjelasan dan proses berpikir sampai menuju pada yang normatif itulah yang tidak normatif. Semua ada penjelasannya.

Kami masih berada di kegelapan dan remang-remang. Kami masih tertutup hijab diri. Kami belum berupaya untuk menyingkap tabir-tabir itu. Kami tak bisa menekan syahwat pribadi. Syahwat yang hanya 4,5 cm telah mengendalikan hidup kita.

Aku juga baru mulai mengerti apa yang dimaksud Pak Radhar. Selama ini hanya ada bayang-bayang yang belum begitu jelas bentuknya. Gagasan-gagasan yang disampaikan Pak Radhar mengkongkrit sedikit demi sedikit. Ilmu dan laku hidup menyatu. Ilmu yang menjelaskan dan mengartikulasikan fenomena, realitas kehidupan, laku hidup kita, diri kita.

Pak Radhar menggedor-gedor pintu kesadaran kami, mengobrak-abrik tatanan keasadaran yang telah terbangun sejak kami lahir. Apa yang kami rasakan setelah itu semua? Ingin menangis saja, kenapa demikian yang terjadi? Apa yang salah dengan semua ini? Kenapa dan kenapa lagi? Kami kebingungan dalam menentukan langkah. Aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan setelah kehadiran Pak Radhar dalam hidupku. Rumit untuk merumuskannya. Yang jelas kami bingung. Kenapa bingung? Kami tidak mengenal diri kami sendiri, makanya bingung. Gelap semua. Sungguh gelap Pak. Cahaya mana lagi yang mau menerangi kegelapan diri kami?

Semua yang disampaikan Pak Radhar sedari awal seolah berputar-putar di kepalaku. Ingatan terhadap istilah, kegelisahan, jawaban, teka-teki, pertanyaan datang silih berganti. Sedikit memahamkan posisi diri. Oh begini kah yang dimaksud Pak Radhar?. Oh begini kah yang terjadi? Oh begini dan oh begini.

Pesan Pak Radhar:
Jangan hanya belajar di sini
jangan pernah berhenti belajar
Jangan ngantuk
Jangan malas
Jangan putus asa

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
27 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s