Haul Gus Dur

Menulis dalam kehilangan nuansa memang berat. Nulis tanpa penjiwaan dan segenap perasaan. Hanya menulis tanpa tujuan. Yasudah, niat hati memang mau menulis tapi sudah tertimbun persoalan-persoalan lain sehingga ya sekedarnya saja. Rapapa lah, jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis sama sekali.

Jum’at sore, kami berangkat ke Ciganjur dengan naik krl dari stasiun Manggarai. Aku, Kasmi, Duroh, Yeyep, Nadia dan Mas Agung. Dari naik krl pun sudah sedemikian dramatisnya. Kami berlarian mengejar krl. Hampir saja pintu krl tertutup. Kami terpisah di beberapa gerbong. Dikiranya ada yang tidak keangkut sama krl. Nyatanya kami semua sudah masuk ke dalam gerbong.

Turun di stasiun Pasar Minggu, kami naik grab car 50ribu. Jalan menuju kediaman Gus Dur macet banget. Jakarta memang oyee. Mau pergi kemana pun jadi males gara-gara macetnya itu. Di mobil, kami sudah bad mood duluan. Kalau tidak bisa menyikapi hidup di Jakarta, bisa-bisa kita stres dan frustasi. Kayak kemarin itu, kita terjebak macet. Bu Zakiyah pernah sampai 9 jam di dalam mobil.

Lalu kami tiba di komplek haul. Temen-temen mencari warteg terlebih dahulu. Aku hanya duduk-duduk menunggu mereka karena perutku masih full. Sebelum datang ke acara haul, aku sudah makan nasi dan roti. Ternyata kerumunan orang sudah tak terbendung lagi. Kami tak bisa masuk ke dalam, polisi membentuk barisan dan pertahanan yang membendung para hadirin.

Banyak ucapan-ucapan yang keluar supaya bisa berjalan dan menerobos pertahanan polisi. Diantaranya “awas! wong meteng”, “banyu panas-banyu panas”. Duroh dengan pede bilang permisi pada kerumunan orang yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Tanpa merasa bersalah dan menampilkan wajah polos, Duroh bilang “punten-punten” sebagai tanda kalau ia ingin jalan dan ingin diberi jalan. Haha, siapa dia? berani-beraninya meminta jalan di keramaian orang banyak.

Sampai di pertahanan pertama, kami dihadang para aparat. “Plis pak, Pliis”, kataku sekenanya. Nadia lebih parah lagi “Aduh Pak, perutku kenyang nih, jangan disodok! sakit Pak”. Emangnya di situasi seperti itu, siapa yang peduli dengan isi perut orang lain?. Aneh-aneh aja si Nadia. Tibalah kami pada kesempatan emas, pak polisi mengedipkan matanya padaku, mempersilakan kami untuk masuk ke majlis haul. Saat itu, hanya rombonganku yang cewek-cewek. Semuanya para bapak.

Dengan jurus wajah melas dan atasnama kelembutan perempuan, kami memanfaatkan potensi itu. Siapa sih yang tega melihat para wanita yang terkuyo-kuyo diantara para pria?

Kami melenggang masuk dengan gaya penuh kemenangan. Padahal masih ada beberapa pintu yang harus kami lewati. Tetap saja kami belum bisa menyaksikan secara langsung. Hanya melihat jalannya acara lewat layar. Ada mas Agus calon gubernur beserta rombongan. Kami nguntit di belakangnya, barangkali bisa lolos dari penjagaan aparat yang super ketat. Tetap saja nggak bisa, kami tertahan.

Lalu kami mencari sedikit celah yang bisa mengantarkan kami ke majlis utama. Sia-sia jika perjuangan kami hanya setengah-setengah, mengingat tadi sudah melewati kemacetan yang teramat menyebalkan dan jalan kaki beberapa menit. Sekalian saja, jangan nanggung!. Kami masuk melalui pintu masjid dan melewati pemeriksaan yang ketat pula. Tubuh kami diraba ibu polisi, mengantisipasi membawa barang yang berbahaya. Kami lolos lagi karena kami memang orang baik-baik yang tak mampu membeli barang berbahaya itu.

Akhirnya kami bisa duduk di masjid, mendengarkan pidato pak Jokowi. Di haul tersebut, banyak pejabat yang datang. Pak Jokowi, pak Boediono, pak Mahfudz MD, pk Anis, Pk Ahok, ms Agus, pk Lukman. Hadir pula beberapa artis dan sastrawan seperti Cici Paramida, Acep Zamzam Noer, Putu Wijaya, Jokpin. Saat melihat politisi yang lewat, aku tak terdorong untuk mendekat. Aku hanya cuek saja, namun saat melihat Cici Paramida, aku langsung melangkahkan kakiku menuju panggung utama.

Seperti biasa, aku membuntuti aparat yang kebetulan lewat. Aku berjalan di belakangnya. Sampailah aku di samping panggung, melihat cici Paramida yang menyenandungkan shalawat. Wajah penyanyi dangdut memang nyeni di mataku. Entah apa yang kumaksud dengan nyeni. Yang jelas, wajah itu nyenengin, gitu aja. Sebelum sampai di panggung, aku bertemu pk Ahok yang kebetulan sedang undur diri. Aku mengulurkan tanganku sembari tersenyum, pak Ahok membalas uluranku dan membalas senyumku. Aku hanya membatin, tetaplah tegar dan menjadi orang baik pk Ahok.
Beberapa perkara yang dapat kutangkap dari haul kemarin adalah pesan para tokoh untuk meruwat kerukunan antar sesama hidup, tidak mudah terpancing dengan isu remeh-temeh, tabayun, selalu belajar dan lain-lain. Habib Umar yang memberikan nasihat dan tausiyahnya. Sedangkan Habib Ja’far yang memimpin doa. Habib Umar menyampaikan nasehat-nasehat dengan penuh kesantunan, merakyat, penuh humor, sarat hikmah. Terutama mengenai cerita salah seorang sahabat yang berteriak di pasar.

Isi teriakan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Aku memiliki apa yang tidak dipunyai Allah
2. Aku menjauhi sesuatu yang datang dengan hak (pasti/benar)
3. Aku menjauh dari rahmat Allah

Sahabat Umar yang mendengar sesumbar itu langsung menantang sahabat tersebut. Berani-beraninya sang sahabat berkata demikian. Mengeluarkan kalimat yang sangat tidak pantas. Kalau perlu, sang sahabat harus dienyahkan dari kehidupan ini. Sahabat langsung menjawab kegundahan Sayyidina Umar “kalau kamu bertanya kepada Ali mengenai maksud dari ucapanku, tentu engkau tak akan murka dan marah sedemikian rupa”. Singkat cerita, Sayyidina Umar mendatangi Sayyidina Ali, menanyakan kebenaran atau maksud perkataan salah seorang sahabat.

Yang dimaksud dengan “aku memiliki apa yang Allah tidak punya” adalah hamba memiliki anak, istri, orang tua, sedangkan Allah tidak memiliki hal-hal itu. Perkara yang datang dengan hak adalah maut atau kematian. Tersurat ayat yang berbunyi “wa jaa’at sakratul mauti bil haq”. Makanya sahabat sebisa mungkin menghindari sesuatu yang datang dengan hak dengan memohon pada Tuhan supaya memanjangkan umurnya. Rahmat Allah yang dijauhi sahabat tersebut adalah hujan. Karena setiap ada hujan, sebisa mungkin sang sahabat lari.

Jika memahami perkataan sahabat dari sudut pandang harfiahnya, kita akan mudah menilai perkataan tersebut sebagai ungkapan yang sangat berani, sembrono dan menantang Tuhan. Bisa-bisa dinilai sesat. Makanya orang yang tak memiliki pemahaman atau ilmu yang sampai pada tujuan sebuah makna harfiah akan terjebak pada penyesatan dan penyalahan terhadap pihak lain. Maka dari itu perlu memiliki ilmu atau pemahaman.

Setidak-tidaknya, kita tetap mau belajar dan menganggap bahwa diri ini merupakan seorang penuntut ilmu selama hayat masih dikandung badan. Yang namanya pencari ilmu, tidak akan berhenti pada salah satu pemahaman atau ilmu karena merasa bahwa masih ada yang kurang. Sehingga harus mencari dan mencari, tidak terhenti karena merasa sudah menemukan kebenaran.

Fenomena pengkafiran sudah menjadi keresahan bersama. Bagaimana seseorang akan sangat mudah menyalahkan orang lain, menganggap bahwa diri dan kelompokny adalah pihak yang paling benar sendiri. Pihak di luar mereka sudah tentu salah. Lalu ada pula yang memfitnah para ulama seperti Pak Quraish, Gus Mus dan Pak Said Aqil. Ini terjadi karena ketidakmengertian mereka terhadap sosok yang mereka fitnah. Berkomentar dan menilai orang lain tanpa tahu apa dan siapa yang dinilainya. Ibarat mengkritik sebuah buku hanya karena judulnya, belum membaca isi yang terkandung dalam buku tersebut.

Semoga bangsa ini tidak seperti anak TK yang suka berkelahi. Kita jaga rumah bersama, Indonesia. Kalau tidak bisa melakukan kebaikan, mending diam. Jangan bikin onar atau memperkeruh keadaan. Cukup diam saja, menunggu hati kita kembali lega dan adem.

Lalu apa yang bisa kupetik dan kupelajari dari sosok Gus Dur? Tidak hanya dipelajari, namun juga diamalkan, diteruskan dan dikembangkan.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
27 Desember 216

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s