Kacamata

Mungkin dua tahun ini, aku menggunakan alat bantu untuk melihat dengan kacamata. Awalnya ketika ngaos posonan dengan Gus Faiq yang menampilkan video di Musbar. Video itu berbahasa asing yang ada terjemahannya. Juga puisi yang diam, maksudku hanya ada suara musik, puisinya harus kami baca sendiri.

Lengkap sudah, aku tak bisa membaca tulisan kecil-kecil yang berada dalam video. Encop meminjamiku kacamatanya, ternyata aku bisa melihat dan membaca dengan kacamata Encop. Lalu aku dan Encop menerka-nerka bahwa mataku min. tetap saja aku tak bergegas untuk periksa. Namun setelah mendapat tekanan dan desakan dari Mamak, aku mendatangi optik setibanya aku di Jogja setelah liburan Idul Fitri 2015 kayaknya.

Kata penjaga optiknya, mataku sudah minus 3 dan 2. Ih masak sih bang? Kemungkinan aku mengalami minus saat MA, tapi aku tak menghiraukannya. Kata si abang optik. Kok sudah minus banyak ya? Perasaan, aku nggak begitu betah baca buku, nggak bersentuhan dengan layar gadged dalam waktu yang lama, nggak rajin-rajin amat, kok minusnya sudah banyak begitu? bagaimana bisa?

Sebelumnya ketika ngaos Diniyah Lailiyah, aku juga nggak bisa melihat dengan jelas tulisan Pak Zaky di papan tulis. Aku hanya tidak peduli pada mataku. Jahat sekali ya? Diri sendiri aja diabaikan, apalagi dengan diri orang lain? Pasti lebih abai.

Dengan kacamata merah maroon ini, penglihatanku banyak terbantu. Bagaimana kalau beberapa waktu saja nggak pake kacamata, rasanya kurang lengkap hidup ini. Semua hal yang kulihat terlihat abstrak, buram, remang-remang dan kabur-kaburan. Berpapasan dengan salah seorang teman, aku tak mengenalinya dari jarak 10 meter.

Paling suka ketika di kelas, aku memperhatikan penjelasan dosen dengan seksama dan fokus. Dari balik benda kecil inilah, aku merasakan sensasi tersendiri. Fokus, seolah bisa melihat dunia yang terbentang luas melalui kacamata ini. Aku menyadari dan menikmati hubunganku dengan kacamata ini. Lebai.

Sayangnya aku yang selalu menempatkan sesuatu di segala tempat. Menganggap bahwa setiap tempat adalah tempat bagi barang-barang yang kumeliki. Aku menaruh kacamata di atas kulkas, lemari, megjikom, bantal, meja makan, laptop, jendela, dapur dll. Kalau di rumah, sudah tentu mendapat teriakan dari Mamak. Dengan begitu, aku sering kelabakan mencari kacamataku. Asal taruh sih.

Setelah itu aku menanyai temanku satu per satu, apakah mereka melihat kacamataku. Dengan nada ketus mereka menjawab pertanyaanku secara asal-asalan. Aku yang naruh, kenapa harus tanya ke orang? Kalau aku ingat dimana tempat aku menaruhnya, tentu aku tidak akan bertanya kepada mereka.

Kata mbak Hanif, aku harus menaruh barang-barang sesuai tempatnya. Menuruku sudah sangat sesuai. Semua tempat adalah tempat yang pas bagi semua benda-benda yang kupunya. Nggak dzalim kan?

Asrama Mahasiswa nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
01 Januari 2017

Wah, ternyata tahun telah berganti. Aku masih begini-begini saja. Tulisanku juga begini-begini saja. Tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Hanya berjalan seadanya. oh my God, betapa tak pedulinya diriku pada diriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s