Pasar Buku Senen

Hari Ahad kemarin aku mengecek tiket ke stasiun Senen. Sekedar memastikan barangkali masih ada tiket yang tersisa dari Jakarta ke Jogjakarta. Mbk Veni ada acara Mukernas IPPNU dengan empat temannya. Mbk Ven belum membeli tiket pulang. Wah… bisa-bisa sepertiku dengan DB seusai tes masuk STAINU, kami tidur semalaman di stasiun Senen. Menunggu jadwal kereta yang berangkat pagi harinya. Kami bolak-balik nyari tempat tidur. Di teras Musholla, kami diusir. Secara sengaja petugas stasiun menyiram lantai Musholla. Duh teganya. Kami duduk-duduk di setiap tempat yang sekiranya bisa buat tidur, kayak gelandangan saja. Kata Bang Rhoma, “Langit sebagai atap rumahku, dan bumi sebagai lantainya, hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan”.

Tapi bagaimana ya? Ini kan akhir tahun, plus liburan sekolah, plus Natalan.
Tiket-tiket sudah pada abis, baru ada tanggal 31 Desember. Padahal Mbak Veni dkk harus pulang hari Senin. Kalau mau naik kereta tanggal 31, nunggunya seminggu lagi. Itu terlalu lama boi. Akhirnya Mbak Veni naik bis ke Jogjakarta. Sayangnya aku nggak bisa menemui mbak Veni karena waktu yang belum tepat. Mbak Veni mengabari berada di PBNU pada Jum’at siang. Sedangkan aku kuliah. Habis Dzuhur mbak Veni sudah cabut ke Tangsel. Kalau ke PBNU pun nggak nututi waktunya.

Di komplek Senen, ada stasiun, terminal dan pasar buku. Mantap sekali tempat ini. Tak pernah mengira sebelumnya bahwa ada pasar buku gedhe yang berada di sekitar terminal dan stasiun besar. Kalau kebetulan berhenti, mampir atau transit di stasiun Senen, coba deh datengin pasar bukunya. Pasti syuka.

Yasudah. Di terminal Senen, aku langsung mengedarkan pandangan mataku ke segala penjuru. Melirik, menelusuri, melacak keberadaan toko buku. Kulihat ada beberapa kios. Hanya beberapa saja. Aku tetap melanjutkan perjalanan ke Stasiun, bertanya ke customer dll. Tiket habis dan buru-buru kukabari mbak Veni. Lalu aku berjalan menuju terminal, bertanya kepada Abang rujak mengenai keberadaan toko buku. “Di sebelah sana, dan di dalem-dalemnya banyak juga” jawab beliau dengan wajah yang sedikit kecut, barangkali kecewa karena aku tak membeli rujaknya, hanya numpang nanya. Sungguh orang yang tidak berperasaan yaa?

Aku melihat-lihat per kios, para penjual sangat agresif sekali. Aku jadi takut sendiri. Mbok biasa saja, santai dan nggak perlu buru-buru. Bertanya ini-itu, aku kan jadi bingung. Nanya beberapa buku aja mereka nggak tahu. Gimana mau beli? Ada-ada saja si abang. Aku berjalan menuju kios yang berada didalam. Bodohnya aku yang super polos menghadapi para pedagang, bilang kalau aku hanya bawa atam. Kenapa harus jujur sekali?

Aku duduk-duduk di lantai toko yang masih kayu. Menyusuri buku yang sudah buluken. kutemukan beberapa buku yang bersinggungan dengan apa yang kupelajari saat ini. Meski persinggungannya hanya sepersekian detik. Kok detik? Maksudku, kaitannya nggak banyak. Aku tetap mencari-cari dan menyendirikan buku-buku yang sekiranya mau kubeli. Si Abang penjual tak mengasih tahu harga bukunya. Ia hanya memintaku mengambil buku-buku yang menarik. Abang buku mengambilkan buku-buku dari persembunyiannya. Mau tidak mau, aku menyortir dan menggabungkan ke buku yang mau kubeli.

Tanpa terasa sudah menumpuk banyak. Novel-novelnya Pram yang dibajak dan kubeli, sungguh jahatnya pembaca sepertiku. Buku-buku tipis dihargai 10ribu sedangkan yang tebal dapat harga 23ribeng. Lumayan lah. Dan totalnya? Seumur-umur, baru kali ini belanja buku dalam jumlah yang banyak. Maksudku, keluar duit banyak. Ih waoww, dengan uang, kita bisa membeli buku namun belum tentu kita bisa membeli ilmu dan pengetahuan. Itu yang kurasa saat ini. Karena apa? Merasa sudah memiliki banyak buku jadinya dorongan untuk membaca ya angin-anginan. Ngandalin punya buku sih.

Dengan harga segitu, sebenarnya terlalu tinggi. Penjual bisa jadi mengambil untung tiga kali lipat. Bekerja di toko buku online dan offline selama dua bulan membuatku sedikit tahu pergerakan buku di Jogja. Penerbit buku akan melelang buku-bukunya kepada bandar besar. Si bandar akan menjual lagi ke penjual eceran seperti yang di shopping Jogja itu. Kalau nggak laku, buku itu akan dijual kiloan dengaan harga 4ribuan. Atau bisa jadi dimusnahkan dan dihancurkan.

keberadaan bandar ini juga sangat misterius. Tidak setiap manusia bisa mengaksesnya. Aku pun belum tak tahu keberadaan gudang milik sang bandar. Bos kami enggan memberitahu kami. Kalau membicarakannya pun penuh kode. Aku hanya menangkapnya secara samar-samar. Maklum dong, orang berjualan dan berdagang. Barangkali itu merupakan trik khusus bos kami. Ketika di shopping, aku bertanya pada penjual majalah national geographic, beliau ngambilnya dari mana. Bapak pedagang juga bungkam dan tutup mulut.

Dari sini aku kan jadi curiga, ada apa dengan dunia buku? Buku yang menjadi salah satu tonggak peradaban ternyata memiliki sisi-sisi yang masih abu-abu. Kenapa tidak terang benderang seperti buku-buku itu? Apalagi aku pernah membaca blog teman fb yang bernama Ade. Duh ngeri banget seperti film-film yang ada premannya gitu. Preman yang beroperasi di dunia buku. Aku belum bisa menalar dengar baik kejadian ini. Lha kok bisaaa? Inilah dunia dengan segala tetek-bengeknya. Dunia buku tidak sesuci bayi yang baru lahir ke dunia.

Ini kasusnya buku-buku yang lama. Tapi aku belum begitu tahu mengenai pergerakan buku di Jakarta seperti apa. Saat memilah-milah buku itu, aku berpikir bahwa seharusnya aku bisa membeli buku-buku tersebut dengan harga yang lebih murah jika aku mengambil dari pemasok pertama. mau bagaimana lagi? kalau beli di penjual eceran sudah melalui beberapa tangan sehingga sudah mengambil keuntungan sepersekian persen dari harga semestinya.

Aku hanya pura-pura tahu saja kalau harganya memang segitu. Uang yang kupakai untuk membeli buku itu juga uang mereka. Bukan milikku sepenuhnya. Dengan perasaan begitu, aku bisa berdamai dengan perasaanku sendiri.

Kapan sih manusia memiliki rasa puas dalam menjalani kehidupan? Meski aku belum tergolong orang yang neko-neko jika dihadapkan dengan barang-barang mewah, di sisi lain aku gila setengah mati kalau melihat buku. Apa bedanya dengan orang hedon? Tipis lah barangkali, apa yang kucari dengan membeli buku-buku itu? Harusnya aku memiliki landasan yang kuat dong. Tidak mudah patah hanya dengan pertanyaan “why” yang pertama. Baru kenapa yang pertama saja sudah keok. Jangan begitu!

Jadi teringat Pak Radhar. Kenapa kemarin menjadi pertemuan terakhir di kelas? Kan belum poto bersama. Tapi alhamdulillah aku sudah salim dengan beliau, prof Din dan Pak Johan. Pak Rohim juga merasakan bahwa di kelas terakhir Pak Radhar itu kami mengetahui apa yang dimaui Pak Radhar selama ini. Tentang menghadapi dunia yang penuh misteri Ilahi. hahaha. Selamat mencari sesuap jawab dari segenap tanya.

Kembali ke buku. Kenapa aku menjadi manusia yang sangat serakah? Aku ingin belajar dari buku-buku itu? untuk memuaskan dahaga intelektual? kenapa ilmu menjadi alat pemuas manusia berilmu? Kita berilmu untuk apa coba? Kalau sudah memperolah ilmu, lalu apa? Apa yang akan kuperbuat setelah itu semua? Ilmu tak hanya untuk ilmu lho. Mati kau Elll… tak dapat menjawab pertanyaanmu sendiri. Biarkan pertanyaan-pertinyaan ini kucari jawabannya sendiri dan kusimpan sendiri. Aku akan meneruskan ceritaku di pasar buku Senen itu.

Saat aku keluar untuk ngambil uang di ATM, ada penjual yang bertanya dengan nada protes “tadi kan aku nawari buku-bukunya Pram, kenapa malah beli di toko itu?”. Aku hanya senyum, takut dikeroyok beberapa penjual buku. Jakarta memang ngeri-ngeri syedap. Salah ambil langkah, kita bisa dipotong-potong sebagai teman santapan mie sedap. Bohong. Iya, aku bohong. eh enggak nding, tapi suud dzon. Suud dzon sih enggak juga, Cuma pelu waspada saja. Beda kan antara suud dzon sama khawatir? Iya, beda tipis. Setipis pelembab Cit*a yang kami pakai untuk mengolesi wajah kami. Baru sejam aja sudah kagak ada bekasnya.

Penjual macam ini mungkin nggak kita temui di Jogja. Pedagang buku yang protes kepada pembeli yang membeli di pedagang lain. Teramat lucu kau Bang. Kata bu Zakiyah, di Senen banyak copetnya. Nggak ketara dan nggak kerasa kalau si doi copet. Tau-tau sudah ada barang yang ilang. Eh lama-lama kok tulisanku nggak sesuai EYD. Sesuai nding dengan EBYD, Ejaan Betawi Yang Disempurnakan. Haha

Duit tinggal 200ribeng, masih jalan aja ke kios-kios lain. Ditawari ini-itu bilang nggak ada duit. Kata abang buku, boleh melihat-lihat saja. Nyatanya setelah melihat-lihat, aku kecantol juga dan belilah buku ini-itu. Sampai yang terakhir duitku tinggal 15ribeng. Datang penjual yang sudah menua. Minta dagangannya dibeli, 50ribu nggak papa. Duh kasihan, jualan buku memang nggak prospek kayaknya. Nyatanya, penjual-penjual itu seperti mengiba padaku supaya aku membeli satu atau dua buku yang dijualnya.

Para penjual barangkali tahu kalau aku sudah membeli buku dengan jumlah harga yang cukup fantastis sehingga mereka juga berharap untuk dilarisi. Jadi merasa gimana gitu. Mungkin nanti kalau ketemu Bapak tua itu, bisa lah main ke kiosnya. Merasa kasihan saja pada mereka, meski awalnya aku nggak begitu suka dengan sikap penjual buku Jakarta yang sedikit memaksa. Inilah hidup Ell, realitas di sekitarku. Tidak berjarak jauh dengan kehidupanku sendiri. Pas banget saat itu uangku cukup buat bayar Grab yang dipesan oleh abang buku. Haha, aku nggak punya kuota.

Oh ya, abang buku juga menawariku es teh atau apa. Aku sih menolak karena aku sudah bawa air putih dari asrama. Abang buku sepertinya juga modus atau bahagia sekali habis kuborong bukunya. Rasaku pada abang penjual buku nano-nano dah, antara geregeten, takut, kesal, kasihan, daaan sayang. Ih apa-apaan sih gw. Haha, sok Betawi.

Lalu aku membonceng Abang Grab. Baru jalan sebentar, hujan turun. Dengan motor Mio milik abang Grab, bukuku diangkut dan ditaruh di bagian depan abang Grab. Tentu kau tahu maksudku bukan? Aku menenteng dua kresek yang kujaga dari guyuran hujan. Aku tidak bertanya banyak pada abang Grab karena suaraku akan sulit terdengar di tengah-tengah hujan. Kami saling diam. Padahal aku paling suka basa-basi kepada penjual-penjual di pasar, deket masjid Matraman, depan kampus dan para abang Gojeg dan Grab yang setia mengantar setiap insan yang bepergian kemana pun juga.

Aku diantar sampai pintu asrama. Motor abang Grab masuk gerbang dan berhenti persis di depan pintu. Abang Grab membantuku memakai jas hujan. Padahal aku tergolong orang yang nggak enakan sama orang, tidak perlu segitunya kali Bang. Abang Grab juga nampaknya sangat tulus. Khawatir kalau aku kenapa-kenapa karena hujan. Justru aku yang takut kalau abang Grab yang kenapa-kenapa.

Tarif Grabnya cuman 8ribeng dari Stasiun Senen sampai Matraman Dalam II. Kulebihi beberapa ribeng saat membayar. Si abang kaget dan bilang kebanyakan. Di saat-saat seperti itu rasanya bahagiaa banget. Entahlah, hanya dengan melebihi pembayaran, orang lain bisa bahagia sedemikian rupa. Kita pun bisa lebih bahagia dari abang Grab. Model-model seperti ini aku niru Pak Prie GS di bukunya yang kulupa judulnya.

Kemarin ketemu Mas Prie di acara haul Gus Dur. Beliau yang ngemsi. Pertama-tama, mas Prie nggak begitu banyak bicara. Kurasa beliau nggak bisa membawa acara dalam keramaian dan keriuhan, terutama saat partner mcnya sangat mendominasi pembicaraan. Mas Prie hanya diem seolah tak berdaya. Namun ketika keadaan sudah tenang dan sellow, Mas Prie mengeluarkan jurus-jurusnya. Suka menghabisi pengisi-pengisi acara seperti Jok Pin, Mbak Inayah dll. Kok sampai kemana-mana sih. Dasar pikirannya kemana-mana dan masih kesulitan untuk fokus. Nggelambyar kabeh rek… wkwk

Asrama Putri NU, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
30 Desember 2016

Oh sudah mau tahun baru ternyata. Besok Mbak Sasa kesini. Ia temenku di Q6 yang belajar di pertanian UGM. Sering bertengkar dengannya. Tapi ketika ia bilang mau kesini, rasanya seperti disambang orang tua ketika aku masih mondok di Darut Ta’lim Bangsri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s