Pintu Jogja

Kami adalah murid Madrasah Aliyah Hasyim Asy’ari angkatan tahun 2010 di jurusan Keagamaan. Kami belajar perkara yang berkaitan dengan agama. Kalau minta label Syar’i ke MUI, barangkali sertifikat Syar’i itu tak akan menunggu proses yang lama. Karena apa? Kami mempelajari hal-hal yang disebut sebagai ilmu yang sangat islami. Bahasa Arab, Balaghah, Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Al-Qur’an Hadits dan yang sealiran. Kurang islami apa coba?

Merupakan suatu pengalaman dan pelajaran berharga bagi kami yang diucal (diajar) oleh Bu Hindun. Beliau adalah guru kami, sosok guru perempuan yang selalu optimis, positif thingking, semangat, berwawasan luas, humoris, enerjik dan selalu melemparkan senyum kepada murid-muridnya. Beliau mendampingi kami selama kami belajar di MA HA, tiga tahun penuh di mata pelajaran Ilmu Kalam dan Ilmu Tafsir. Tidak bosan-bosannya kami dibuat kagum oleh penyampaian-penyampaian yang melampaui dunia kami yang sangat sempit.

Bu Hindun menyampaikan perkara-perkara baru dalam kehidupan dan keilmuan kami. Apalagi untuk kasusku, murid yang hanya menerima ilmu dari guru kelas tanpa membaca dan mencari informasi di luar kelas. Tentu aku menjadi siswi yang terkaget-kaget mendengar penuturan Bu Hindun.

Setiba di kelas, Bu Hindun bercerita mengenai kasus-kasus yang sedang in. Apapun itu. Detail peristiwanya, aku agak lupa-lupa ingat. Mungkin cerita ini akan dilengkapi oleh teman-teman kami yang lain. Hanya beberapa poin yang kuingat dari serangkaian kejadian selama di kelas Bu Hindun.

Beberapa istilah atau nama yang sangat asing di telinga kami seperti orientalisme, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, aliran keras dll. Orientalisme adalah orang Barat (bule yang nggak beragama Islam) yang mengkaji Timur (Islam). Di Tafsir Hadits, kami mempelajari sebagaian dari mereka. Diantaranya Juynboll, Ignaz Goldziher, Michael Cook, Andrew Rippin, Josep Schacht, Wensink, dkk.

Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk keilmuan. Misalnya Juynboll, ia meneliti dan bergelut dengan hadits selama 40 tahun. Setiap hari, mulai jam sembilan sampai jam empat sore selalu duduk dan meneliti di perpustakannya. Tidak mau mengajar dan berkegiatan lain. Hidupnya untuk hadits. Sama dengan Juynboll, Wensink adalah orientalis yang berkutat di bidang hadits. Wensink membuat mu’jam atau semacam ensiklopedi yang berguna untuk melacak keberadaan sebuah hadits berada di kitab apa. Di Shahih Bukhari kah atau di Shahih Muslim. Dengan Mu’jam Mufahras tersebut, umat Islam dimudahkan oleh orang yang bukan Islam.

Kita tidak sedang memperbincangkan apakah mereka patut mendapat pahala atau tidak dengan mengkaji keilmuan Islam secara serius dan sungguh-sungguh. Kita hanya perlu meniru mereka untuk selalu tekun belajar. Begitu saja. Kalau kita tidak bergerak dan berusaha, akan tergilas oleh masa.

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang sering disebut Bu Hindun, merupakan tokoh pembaharu yang berasal dari Mesir. Jargon yang didengungkan adalah pintu ijtihad tidak tertutup dan kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Membicarakan kedua tokoh ini, tentu akan membutuhkan tenaga dan ruang yang lebih luas. Kami hanya ingin bilang bahwa Bu Hindun telah memperkenalkan dunia yang begitu sangat luas ke hadapan kami. Bu Hindun menghidangkan begitu banyak sajian, kami tinggal memilih dan menikmatinya.

Pernah suatu ketika, Bu Hindun meminta kami menggambar simbol dari apa yang akan kami perbuat di kemudian hari. Saat itu, dengan kemampuan menggambar yang sangat pas-pasan, aku membuat sawah yang akan mengalirkan manfaat kepada hal (rahasia) yang ingin kuwujudkan. Kemudian kami sekelas menempelkan gambar kami di majalah dinding. Bu Hindun menggambar sebuah lampu yang memendarkan cahaya di sekelilingnya. Dengan gambar yang sesimpel itu, beliau telah mengungkapkan apa yang sedang beliau jalani di dalam kehidupan ini.

Iya, lampu itu. Beliau telah menjadi sumber titik yang menerangi kehidupan orang banyak. Termasuk kami para murid-murid beliau. Beliau sudah seperti lampu, tanpa menunggu nanti suatu saat. Waktu itu pun, sekitar tahun 2008-2009, beliau telah menerangi kehidupan kami. Beliau membuka pikiran dan pandangan kami yang masih terkabur-kabur dalam melihat dunia.

Di salah satu buku, aku pernah curhat dan menulis di buku diary bahwa aku akan belajar di jurusan Tafsir Hadits UIN Sunan Kalijaga. Alasannya, biar seperti Bu Hindun. Hehe. Bu Hindun telah mempengaruhi pikiran kami. Ibaratnya, beliau telah menularkan virus optimisme ke dalam tubuh kami. Bagaimana tidak ketularan virus beliau kalau dalam setiap kesempatan, beliau selalu menyinggung apa-apa yang ada di Jogja. Mengenai pameran buku di Jogja yang lebih besar dari pameran buku di Jepara. Lha pameran buku di Jepara aja sudah sedemikian waow dan besar, bagaimana dengan di Jogja?

Cerita-cerita itu seolah menjadi iming-iming tersendiri yang menjadi pemicu bagi kami untuk bisa belajar di Jogja. Kami hanya memendam perasaan dan harapan-harapan itu tanpa pernah berani mengutarakannya, kecuali kepada teman dekat kami. Haha. Kami merasa minder dan lain sebagainya. Namun yang jelas, Bu Hindun adalah Pintu Jogja, tempat dimana kami bisa sampai dan belajar disana ya dengan melewati pintu itu.

Teruntuk Bu Hindun, terimakasih telah menjadi guru, teman, ibu, dan penyemangat kami. Maafkan kami apabila kami tersering abai terhadap diri kami sehingga belum bisa menjadi sepotong lilin di sekitar kami. Love Panjenengan full. Kangen diajar, diledek, dimarahin Panjenengan. Juga membeli dan mengejar abang Siomay di depan sekolahan. Sehat terus Ibuuu..

Asrama Putri Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
01 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s