Kelas Terakhir

Tak terasa kami sudah belajar di kelas Paska STAINU selama satu semester. Sangat cepat sekali ya? Waktu dua tahun memang teramat singkat untuk belajar di kelas. Meski demikian, semoga setelah lulus, kami juga istiqomah belajar di luar kelas. Di mana pun itu. Menyadari bahwa satu semester sudah terlewati, rasanya agak nyesek juga. Tak tega jika harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti bapak, ibu dan abangku sendiri.

Iyalah, aku ini murid termuda di kelas. Mas Anis pernah menyuruhku untuk menyambut ibuku di luar. “Ibu siapa?”, tanyaku. “Ya Bu Zakiyah lah, kan kalian sudah seperti anak dan ibu”, jawab mas Anis sekenanya. Mas Anis ini tipe pendiem, sulit ditebak. Tapi jangan ditanya, usilnya nggak ketulungan.

Di hari terakhir, aku mendapat jatah presentasi dengan beberapa orang. Diantaranya kelompoknya Adha. Tiba-tiba Adha mengirim pesan di grup WA. Ia bilang bahwa sedang menunggu hujan di kamarnya. Tugasnya dikirim di grup WA saja, mengantisipasi kalau ia nggak bisa ke kampus. Ada pesan begitu, aku langsung tegangan tinggi. Bisa-bisanya buat alasan seperti itu. Alasan yang sangat sulit kuterima. Hanya karena hujan, ia lari dari tanggungjawabnya?. Sungguh kekanak-kanakan sekali. Kujawab pesannya dengan ketus, “Kalo hujan ya tinggal payungan. Nggak Cuma nunggu tok. Manja”. Komentarku dikomentari “Sadeees” oleh mas Agung. Biarin. Mau cari gara-gara aja si Adha.

Setelah pelajarannya Pak Nasrullah Jassam, Adha datang. Sebelumnya, aku berpikir untuk menceramahinya di grup WA kalau ia benar-benar nggak masuk. Eh nggak jadi. Adha sudah nongol di kelas dan mencariku dengan teriak-teriak marah, “mana tukang payung??, dibelain hujan-hujan gini, aku datang karena ada yang bilang payung-payung”. Aku ikutan sewot, ini anak kesambet kali ya. Sangat wajar dong kalo hujan bawa payung. Aneh banget nih si Adha.

Saat mengomentarinya di WA, Pak Izzuddin berseloroh ke arahku, “giliran Adha yang muncul di WA, langsung dibalas”. Aku nggak terima. Langsung aja Pak Izzuddin mendapat semprotanku juga. “Mana adaa? tadi juga udah komenin mas Hisyam”, kataku pada Pak Izzuddin. Memang hari itu aku pengen ngamuk aja. Dibulli sana-sini. Oh iya, si Husnul juga mati kutu saat presentasi. Diam seribu bahasa. Memang demikian yang terjadi di kelas. Saling bulli. Tiap orang pasti dapat jatah giliran untuk dibulli.

Bulli-membulli ini yang membuat kita seperti keluarga. Apalagi kalau Pak Gilang masuk kelas, apaa aja dikomentari. Bilang kalau moyangnya Husnul adalah satu-satunya moyang yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Kami diam khusyuk mendengarkan celotehannya Pak Gilang. Setelah itu, Pak Gilang melanjutkan celotehannya yang belum tuntas, “lha moyangnya Husnul Fir’aun kok”. haha, terlalu.

Pernah juga saat menyinggung poligami di kelas. Aktor utamanya ya Pak Ahmad Ginanjar Sya’ban dan para bapak. Seolah mengabaikan kehadiran dua srikandi yang perasaannya tercabik-cabik dengan guyonan semacam itu. Pak Ginanjar bertanya pada bu Zakiyah, “gimana bu kalau dimadu?”. “Ya nggak apa-apa. Habis itu diracun”, seisi kelas langsung ger-geran. Aku menangkap kesan bahwa bu Zakiyah memang benar-benar geram dengan istilah dan fenomena semacam itu. Aku juga tak kalah geramnya.

Kemarin Pak Nasrullah datang. Sayang sekali, aku belum belajar filsafat secara sungguh-sungguh. Hanya sedikit yang kupahami. Meski demikian, aku nggak boleh menyerah dong. Sebenarnya aku sedikit bingung menghadapi diriku sendiri. Sulit dibilangin, nggak mau nurut. Terlalu lembek. Kadang geregeten, kadang kasihan, kadang berterimakasih, kadang ingin memaki-maki dll.

Seusai mata kuliah Pak Nasrullah, kami berembug mengenai rencana keberangkatan kami ke rumah mas Idris, kondangan. Nama fbnya Muhammad Idris Mesut. Aku berteman dengan mas Idris sejak lama di fb. Eh tahunya di sini ketemu. Mas Idris ini termasuk punggawa Paska STAINU.

3 idiot menghampiriku, masih mengancam saja rupanya. Terutama si Adha. Nampaknya ia masih sakit hati kukatai demikian, padahal itu bukanlah perkataan yang menghina kalau ia mau menalar sedikiit saja. Terlebih Pak Dir nggak masuk. Tambah sakit hati aja si Adha. Aku menjadi sasaran kekesalannya. Bilang dan ngomel-ngomel bahwa aku adalah penyebab kakacauan hidupnya dalam sehari itu. Hujan, kukatai manja, jadwal presentasi, datang dan basah-basahan, daan Pak Dir yang kosong.

3 Idiot ini adalah trio Parung yang menjadi pengurus STAINU Parung Bogor. Ialah Dimyati, Husnul dan Adha. Berurusan dengan salah satu dari ketiganya, dua orang yang lain pasti ikut-ikutan. Adha masih ngomel-ngomel. Dimyati diem aja karena kalau berbincang denganku bisa dicie-cie temen sekelas, terutama mas Anis yang paling getol mencie-cie. Husnul seperti biasanya, mengajakku untuk ikut ke Bogor, main ke pesantrennya. Husnul juga membual kalau 3 Idiot bawa motor sendiri-sendiri. Masalah kendaraan dah beres. Mau mengajak gimana? ribet dong urusannya. Mereka laki semua, aku mau dititipin siapa. Embuh lah, masih males.

Kami keluar dari kampus dan mengambil kopi lelet dari mobilnya Pak Gilang. Tentu Dimyati, orang yang paling tulus sekelas mengambilkan jatahku. Haha. Bu Zakiyah sudah dijemput suami dan putra-putrinya sembari menunggu sirup yang dipesan pada Pak Gilang. Sebelumnya, kami menggasak i Husnul yang ingin jadi mantunya Bu Zakiyah. Bu Zakiyah menolak secara terang-terangan, “Ih jangan”. lalu aku menyuruh si Husnul untuk melakukan ini-itu dengan mengatasnamakan “calon mantu”. Tentu ia harus tunduk dan patuh pada calon mertuanya, Bu Zakiyah. Aku hanya memposisikan diriku sebagai wakil bu Zakiyah untuk ngerjain Husnul. Wkwk

Kami pulang ke rumah masing-masing. Husnul memang pembual handal. Sebelumnya ia bilang bahwa ia membawa motor, tapi prett. Mereka bertiga masih berjalan kaki menuju stasiun Manggarai, naik KRL yang akan mengangkut mereka bertiga sampai Bogor dengan harga 4 ribu. Fakta ini membuatku kegirangan karena punya bahan untuk meledek 3 Idiot. Rasain kalian. Haha

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, jakarta Pusat
04 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s