Labilnya Diri

Seharian berada di perpus membuat kepalaku kliyengan. Mabok suasana perpustakaan. Jadi sekarang sudah nggak bisa buat mikir lagi. Mumet dah. Ya, barangkali menulis seperti ini bisa menjadi pelipur laraku. Eh, obat kesuntukanku. Kalau nggak ada menulis, bagaimana aku bisa menjernihkan pikiran yang sebentar-sebentar sudah keruh? Awak tak tahu lah bang. Nyari hiburan dengan menulis. Alhamdulillah.

Kadang aku berbicara dengan diriku sendiri, kenapa aku masih tersering malas-malasan? Apa susahnya belajar? Tinggal membaca saja, kenapa ogah-ogahan? Orang-orang yang kutemui bahkan lebih berat hidupnya. Pernah suatu ketika, salah seorang petugas kebersihan perpusnas bercerita padaku mengenai pekerjaannya. Saat bekerja di rumah sakit, gajinya Cuma satu juta. Kalau sekarang bisa bekerja di perpustakaan, itu sudah mendingan dengan gaji 2,8 juta. memang semenjak Ahok (atau Pak Jokowi gitu—aku lupa), gaji petugas kebersihan dinaikkan. Untuk tim Orange bisa mencapai angkai 3,3 juta.

Hidup bagi si bapak tersebut hanyalah, bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya. Memberikan uang belanja kepada istrinya, menyekolahkan anak-anaknya dll. Lalu aku?? Tinggal membaca buku saja, kenapa enggan Ell? bapak itu hanya tempat berlalunya uang. Gaji yang diperolehnya hanya mampir di tangan si bapak karena setelah itu beliau menyerahkan uangnya ke istri. Nampak sekali bahwa bapak itu merupakan orang yang memiliki kepedulian. Mengajakku bicara, mengasihani serombongan mahasiswa yang kehujanan dll. Kenapa aku belum bisa bersyukur atas hidup yang kujalani?

Segeralah terbiasa!

Aku pernah menonton film Babam ve Oglum ketika awal-awal keberadaanku di Jogja. Film yang selalu kuingat. Aku merasa memiliki kedekatan emosi dengan film Turki yang dibintangi Ege Tanman. Artis cilik yang menggemaskan—dalam film itu. Sadik, ayah Denis yang belajar dan kuliah di kota, menikah dengan wanita pilihannya. Melahirkan Denis, istri Sadik meninggal, kehabisan darah. Tinggallah Sadik, Denis dan bibi Fatma. Karena Sadik memiliki penyakit, ia mengajak Denis untuk pulang ke rumah nenek aslinya yang tinggal di desa. Awal-awal di desa, Denis nggak betah. Lalu ayahnya bilang “segeralah terbiasa!”, biar Denis nggak ngajak pulang ke rumah bi Fatma, karena rumah yang ditempatinya adalah rumahnya. Denis harus membiasakan diri dengan keadaan rumah neneknya.

Begitu juga denganku, aku memberitahu diriku supaya aku lekas terbiasa. Terbiasa dengan kehidupan di jakarta. Terbiasa belajar di kampus kecil. Terbiasa belajar sungguh-sungguh. Terbiasa dengan sistem perpustakaan di Jakarta. Terbiasa dengan banyak hal dah.

Kadang seperti ingin putus asa, ingin berhenti melangkah dsb. Ingin mewek, meratapi hidup di perantauan yang rasanya macem-macem. Juga ketika melakukan kompromi-kompromi saat menjalani kehidupan di Jakarta. Aku harus berdialog dengan diriku sendiri yang seringkali lepas kontrol. Ingin mengundurkan diri dari Stainu karena merasa nggak enak disekolahin orang se-Indonesia. Di saat-saat seperti itu, aku harus menyampaikannya kepada orang lain supaya nggak salah mengambil keputusan. Bapak memberiku nasehat dengan suara yang agak meninggi. Mungkin beliau mencoba meredam emosiku yang selalu labil. Mbak Niswah juga. Pak Maola juga. Mas Zia juga. Encop juga.

Kalau nggak ada orang yang mengingatkanku, barangkali aku sudah… entahlah. Aku tak tahu. Inilah contoh orang yang nggak tahu apa yang dikehendaki dalam kehidupan ini. Nggak mengenali dirinya sendiri sehingga plin-plan dan nggak berpendirian. Sungguh sakit mengetahui fakta diri yang sedemikian sakitnya. Duh Gusti mugi paringo ten margi keleresan.

Di mana pun kita berada, merantau sejauh-jauhnya, yang sedang kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Bukan siapa-siapa yang kita tuju. Bukan apa-apa yang kita cari. Iya, apakah kita bisa menakhlukkan diri sendiri? Bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Inilah perjalanan hidup. Apapun bentuknya, kita sedang menyelami diri sendiri.

Perpusnas, 05 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s