Rihlah Bintu Adam (Part I)

Pelancong-pelancong manca negara seperti Ibnu battutah menjadi salah satu idola para pengkaji sejarah. Temen-temen kelas (para bapak) pergi kondangan ke rumah mas Idris. Judul “Rihlah Bintu Adam” niru pernyataan Pak Rohim yang bilang kalau perjalanan ke Cirebon itu adalah “Rihlah Ibnu Adam”. Tentu Pak Rohim terinspirasi dari kalimat “Rihlah Ibnu Battutah”. Hahaha begitu runutannya.

Opret sedang sakit waktu itu, dua minggu yang lalu. Untuk menyembuhkan laranya, ia dibawa pulang oleh orang tuanya. Aku membenak kayaknya pengen main ke rumah Opret dengan multi purpose. Silaturrahim, jenguk Opret, ziarah-ziarah ke makam dan melihat tinggalan-tinggalan sejarah.

Kami (Bapak Opret, Ibu Opret, Opret dan aku) tiba di makam Sultan Hasanuddin jam satu siang. Sultan Hasanuddin merupakan putra dari Sunan Gunung Jati, Maulana Syarif Hidayatullah. Kami membaca tahlil sebentar dan orang tua Opret melanjutkan perjalanan ke Merak karena suatu urusan. Kami masih berada di sekitar komplek makam, menunggu orang tua Opret.

Tentu aku sangat antusias dengan hal-hal semacam kuburan, makam kuno, nisan tua, tembok tua, prasasti, benteng, menara, bangunan masjid dll. Aku seperti orang yang kegirangan betul. Dalam pikiranku, kalau aku mengetahui ilmu kuburan, ilmu tembok, dan ilmu bangunan, tentu aku bisa mengetahui banyak hal karena benda-benda tersebut bisa berbicara dan bercerita banyak hal. Sayang aku tak tahu apa-apa, aku belum bisa memahami benda-benda itu.

Sebagai orang yang baru saja memasuki dunia sejarah, aku belum tahu banyak mengenai bagaimana memperlakukan benda-benda sejarah. Asal main tabrak saja. Ketika di Musium banten, aku meraba-raba benda seperti gerabah, senapan dkk. Selain meraba-raba, aku mencium bau dari benda-benda itu. Barangkali aku bisa mencium sesuatu yang lain dari orama suatu benda. Semacam mendapat inspirasi gitu, entah apa. Mungkin bisa memperoleh banyak informasi. Tapi apalah daya diri ini yang belum bisa menerjemahkan aroma yang tercium. Juga belum bisa mengartikan tekstur dari sebuah benda.

Saat menciumi sebuah benda, aku tidak langsung bisa mencium baunya karena hidungku tersumbat. Perlu beberapa kali tarikan nafas supaya aku bisa menghirup aroma benda. Lalu aku mengeluarkan penghalang indra penciumku. Akhirnya aku senggrak-senggrok dengan pedenya. Untung museum itu nggak terlalu ramai pengunjung.

Daerah di sekitar makam disebut sebagai Banten lama. Apakah pada abad 15 dan 16, pusat kesultanan Banten ada di situ? Ada beberapa petanda yang bisa dijadikan penguat. Makam raja, masjid, benteng dan menara. Hal-hal tersebut menjadi beberapa komponen sebuah peradaban. Hanya saja, pusat atau tempat peradaban suatu imperium yang pernah berjaya di zaman 15 dan 16, sekarang menjadi sesuatu yang memprihatinkan. Jalanan yang berlubang dan tertutup tanah, tata kota yang belum rapi, musium besar yang sepi (malahan ada kambing-kambing yang memakan rumput di depan musium itu), dll. Sungguh sayang sekali, “Ya jangan syedih”, kata Pak Ginanjar. Masyarakat kita yang belum ngeh terhadap warisan-warisan sejarah.

Berada di wilayah tersebut, tidak membuatku jenuh. Justru aku sangat betah dan bahagia di sana. Baru kali ini aku sangat senang ketika berada di dekat kuburan. Sebelumnya mah masa bodoh begitu saja. Sehari-semalam di sana pun aku mau.

Menara yang menjulang tinggi pun sudah tak terawat. Tertulis bahwa:

Menara Masjid Agung didirikan pada masa Sultan Haji atau Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar yakni tahun 1620 oleh arsitek Belanda bernama Hendrik Lucasz Cardeel. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 23,155 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 me dengan dasar atau lapak berbentuk segi delapan. Untuk mencapai ujung menara, terdapat 83 anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang.

Dahulu, menara ini digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan sekaligus mengawasi perairan laut dan penyimpanan senjata. Pada waktu itu, Cardeel membelot kepada pihak kesultanan Banten, kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

Dari situ kita sudah bisa membaca bahwa sudah ada hubungan diplomasi antara kesultanan dengan orang luar. Entah hubungannya antara Kesultanan dengan negara luar (hubungan bilateral) atau antara Kesultanan dengan individu saja. Bisa jadi, arsitek tersebut sengaja dipekerjakan oleh pihak Kesultanan untuk mengerjakan proyek pembangunan menara masjid. Keren kan? Mengetahui kalau moyang kita sudah berinteraksi dengan dunia luar pada zaman dahulu kala. Terlebih ini merupakan salah satu sejarah Islam di Banten, bagaimana orang Banten yang kemungkinan sudah Islam memandang the others? Apakah liyan yang notabenenya kafir sudah menjadi sebuah ancaman bagi tatanan sosial atau mental masyarakat di Banten?

Kemudian untuk Masjid Banten sendiri, tertulis bahwa

Masjid Agung Banten dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putra Sunan Gunung Jati di Cirebon. Salah satu arsitek yang membangun Masjid Agung Banten adalah seorang China bernama Tjek Ban Tjut yang diberi gelar Pangeran Adiguna.

Masjid ini berdenah segi empat dengan atap bertingkat bersusun 5 (lima) dikenal dengan istilah atap tumpang yang bermakna rukun Islam. Di bagian puncak terdapat hiasan yang biasa disebut mamolo. Pintu masuk masjid di sisi depan berjumlah enam yang berarti rukun iman. Enam pintu ini dibuat pendek agar setiap jamaah menunduk untuk merendahkan diri saat memasuki rumah Tuhan. Jumlah 24 tiang masjid menggambarkan 24 jam dalam sehari.

Nah, kita pun bisa membaca bahwa pada masa Sultan Hasanuddin, Kesultanan Hasanuddin sudah menjalin hubungan dengan orang China. Sejarah kita memang tidak bisa lepas dari orang China, Arab, India, Portugis dan Belanda. Seperti hal nya Wali Songo yang memiliki nama-nama China. Juga raja Demak, Raden Patah memiliki nama China. Hanya saja, lagi-lagi aku belum bisa menguraikannya dengan detail. Perlu pembacaan mendalam terhadap posisi orang China di Kesultanan Banten.

Aku membaca satu per satu keterangan yang ada di museum. Perlu waktu satu jam lebih untuk memahami pesan yang ingin disampaikan museum. Aku hanya membaca, tanpa belum banyak tahu mengenai detail-detailnya.

Museum Banten Lama nampaknya baru berdiri. Tahun 2010 an ke atas. Museum tersebut berisi banyak peninggalan sejarah. Diantaranya adalah keramik, senjata, pipa tekhnologi perairan, gerabah, alat-alat bangunan (paku, kunci, genteng), alat kesenian dll. Barang-barang tersebut ditemukan setelah dilakukan penggalian secara besar-besaran (ekskavasi).

Proses seperti itu membutuhkan dana yang tidak kecil. Kan merangkai sejarah kita. Barang-barang tersebut memberi gambaran kepada kita mengenai mata pencaharian, keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Banten saat itu, tata pemerintahan dan macem-macem lagi.

Sesampai di galeri gerabah, aku dan Opret mendekati serombongan mahasiswa yang baru datang. Kukira dosen yang sedang menjelaskan kepada mahasiswanya adalah guide museum. Makanya kami tertarik nimbrung biar dapat informasi lebih. Pak Dosen itu bertanya kami berasal dari mana. Setelah selesai menjelaskan, aku meminta Opret supaya mencari tahu nomor hp Pak Dosen. Ternyata beliau ini masih murid dari Pak Uka Candrasasmita (eh bener nggak ya nama Pak Uka). Beliau ini dosen yang mau bercapek-capek turun ke lapangan untuk memberi penjelasan sejarah kepada mahasiswanya.

Pak Dosen berkenan memberikan nomor hapenya. Kalau nggak ada Opret, barangkali aku nggak bisa mendapatkan nomor hape Pak Dosen. Mengingat diriku yang enggan menjalin komunikasi yang sifatnya PDKT kepada orang besar. Termasuk Pak Dosen. Padahal untuk memperoleh ilmu lebih ya salah satunya melalui pendekatan terhadap dosen. Aku memang suka sinis dan nyinyir si. Haha

Setelah mengetahui nomor Pak Dosen, ini seperti menjadi pintu pembuka yang akan mengantarkanku kepada salah satu bidang sejarah, arkeologi. Pak Dosen yang bernama Fahmi Irfani merupakan dosen sejarah yang tentunya sudah mempelajari banyak hal. Arkeologi diantaranya. Ilmu ini yang belum kuperoleh di semester ini. Bravoo! maksudku, kalau Pak Fahmi sedang turun lapangan atau penelitian kemana gitu, aku pengen ngikut. Kalau diizinkan, kan aku orang baru bagi Pak Fahmi. Ngapain sok kenal sok dekat. Kalau untuk bertanya-tanya sih beliau sudah memberikan lampu hijau.

Belajar sejarah medorongku untuk mau keluar dari zona nyamanku, serta mau jalan-jalan. Padahal aku paling nggak suka jalan-jalan. Males aja, mending di rumah. Tapi setelah berenang di lautan sejarah, mau ngga mau, aku harus selalu berjalan dan melihat apa yang terjadi di lapangan.

Kali ini aku sudah ke Banten, meski belum bisa memperoleh informasi yang utuh. Setidaknya aku sudah mengawali dan memulai petualanganku. Mungkin yang paling dekat dulu dah, museum-museum di Jakarta, Arsip Nasional Republik Indonesia, dan situs-situs kesejarahan Jepara. Kali aja nanti bisa sampai ujung dan wilayah perbatasan Indonesia. Kan asyik tuh, ada serial episode Rihlah Bintu Adam.

#Ekspedisi Islam Nusantara
Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
11 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s