Wong Lanang

Aku baru saja tiba dari Serang, rumah Opret. Sengaja main-main ke rumah temen-temen yang berada di sekitar Jakarta dan Jawa Barat. Besok kalo sudah di Jepara, akan sulit bermain-main ke kota-kota jauh. Walau belum pernah datang sebelumnya ke Banten, aku merasa biasa saja ketika dalam perjalanan. Ya jalan biasa, tidak takut atau berpikiran yang macam-macam. Terutama setelah datang ke Jakarta sendirian, aku jadi berani berkunjung ke kota-kota lain yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

Di perjalanan pulang, aku berbincang-bincang dengan teman sebangku. Awalnya, ia bertanya aku mau kemana. Lalu perbincangan kami merembet sampai mana-mana. Mengenai asal si bapak, pekerjaan dan keluarganya. Istrinya orang Serang, sedangkan Pak A berasal dari kota Bogor. Katanya deket dengan Taman Bunga. Kali itu, Pak A menjenguk istri dan anak-anaknya yang sedang liburan di rumah mertuanya.

Aku bertanya bagaimana mereka berdua bisa ketemu. Orang Bogor dengan orang Serang, ketemunya dimana coba? Mereka berdua belum lama saling kenal. Bukan orang yang pernah di kenal sebelumnya. Hanya kenal sepintas lalu, tapi prosesnya begitu cepat. Dari pertanyaan ini, Pak A menjadi bercerita banyak hal padaku.

Pak A menikah dua kali. Dengan istri pertama, bubar jalan tanpa penghormatan. Waktu itu, istri pertama meminta izin pada Pak A untuk pergi bekerja keluar negeri, jadi TKW. 3 tahun, pak A nggak mendapat kabar apa-apa dari istrinya. Masalah pengiriman uang pun, pak A tak tahu-menahu karena uang dikirimkan ke kakak ipar pak A atau kakak kandung istri Pak A.

Setahun tak disapa istrinya, pak A mencoba bersabar. Tapi untuk dua tahun berikutnya, pak A seperti tidak sanggup lagi. Puncaknya ketika istri pak A pulang dari luar negeri. Tiba-tiba Pak A tahu kalau istrinya sudah berada di rumah, mungkin di rumah mertua Pak A. Pikiran Pak A mulai nggak karuan, firasatnya nggak baik. lalu istri Pak A bilang kalau ingin menyudahi hubungan suami-istri mereka. Pak A tak bergeming dan nggak ingin mengabulkan tawaran istrinya. Pak A memikirkan nasib anaknya di kemudian hari. Semua urusan perceraian ditangani istrinya sendiri.

Istri pak A beralasan bahwa ia ingin mendapatkan suami yang lebih dari pak A. Pak A seakan tak percaya dengan perubahan istrinya yang sedemikian drastisnya. Sebelumnya, istri Pak A merupakan ibu-ibu rumahan yang belum pernah mengerti dunia luar. Bekerja di luar negeri berpengaruh pada istri Pak A yang semula sederhana menjadi seseorang yang ingin hidup berlebih. Barangkali dengan kerja di luar negeri, istri Pak A memperoleh kesenangan-kesenangan lain yang belum pernah didapatkannya. Lalu beliau terlena dan ketagihan dengan gaya hidup seperti itu, selalu megang uang dan macem-macem.

Pak A menggugat dan protes pada istrinya, apakah ini balasan dari kesetiannya selama tiga tahun? rela ia melepaskan pekerjaannya demi mengasuh anaknya. Istri Pak A bertanya balik kenapa Pak A nggak menikah atau selingkuh saja dengan orang lain dalam rentang waktu tiga tahun itu?. Mendapat jawaban seperti itu, Pak A merasa tersinggung, kalau suami (Pak A) preman ya wajar istri Pak A bertanya demikian. Pak A bukan preman boi. Ia masih mengingat anaknya yang perempuan. Ia berusaha menghargai perempuan karena anaknya juga perempuan.

Sampai di situ, aku terharu dengan sosok wong lanang seperti Pak A. Baik, penyayang, perasa dan setia. Selama ini, aku seringkali menggeneralisasi bahwa semua wong lanang nggak ada yang baik. Maksudku, aku masih menyangsikan kebaikan mereka. Pandangan seperti ini berangkat dari cerita orang dan ceritaku sendiri. Juga terpengaruh sama ceritanya Upit dan Idan di cerpen “setelah kau menikahiku”. Yah, banyak lelaki yang nggak baik dan suka memainkan perasaan perempuan.

Contohnya adalah ada beberapa santri di komplek tertentu (di Krapyak) yang mendekati banyak perempuan. Perempuan yang didekati adalah teman-temanku sendiri. Ada temenku yang memiliki tiga istri. Temenku ada yang didekati bapak-bapak tua yang sudah berumur, pantas sudah punya cucu. Lelaki yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan seorang teman, memberi harapan dan menawarkan ini-itu. Eh tau-taunya meninggalkan si teman. Datang-datang sendiri, pergi-pergi sendiri.

Saat KKN ada temen yang sangat respek dan memberi perhatian lebih padaku. Tiap hari memanggil namaku. Masuk posko langsung mencariku dan memberikan berbagai makanan. Memasak dan mengajak makan. Nungguin masak di dapur. Menghampiriku saat pulang dari pasar. Bantuin nyuci piring. Jaann, si temen ini berhasil membuatku baper berkepanjangan. Sampai setelah KKN pun aku jadi baper. Soale ia tidak bersikap begitu kepada teman-teman yang lain. Nggak GR bagaimana coba? Haha, yasudah cerita lama. Saat bertemu lagi paska lulus, waaah kadang masih sok care. Tapi ketika bertemu di sini, kita sudah biasa. Maksudku, ya biasa aja meski pernah sebel dan kecewa. Bagaimana pun, ia tetaplah temanku.

Dari kejadian-kejadian seperti itu, aku jadi males berhubungan dengan yang namanya perasaan dan wong lanang. Sangat malas dah. Kalau nggak ada pandangan sosial mengenai sebuah lembaga yang bernama perkawinan, mungkin aku akan tetap enjoy menjalani hidup mandiri. Terlebih memiliki orang tua, tentu mereka akan cemas kalau anaknya hidup mandiri terus-terusan. Padahal si anak nggak merasa gimana-gimana, kenapa orang tua justru yang berlebihan? kan yang menjalaninya si anak.

Sosok Pak A ini mampu mengubah cara pandangku yang selalu negatif kepada wong lanang andai saja Pak A tidak meminta nomorku. Aku akan tetap menghormatinya sebagai orang baik yang tulus menjalani kehidupan ini. Setelah meminta nomorku, ia menawari nomornya padaku, barangkali bisa menyambung silaturrahim. Baru sampai di halte BNN, Pak A sudah mengirimiku banyak pesan. Menanyakan aku sudah sampai mana, udah sampai belum, sudah bangun belum dan pertanyaan-pertanyaan yang kurang pantas jika dikirimkan oleh seseorang yang telah beristri kepada orang lain yang baru dikenalnya. Hormatku kepada Pak A langsung runtuh seketika. Haha lebai.

Dari kemarin, Pak A sudah mengirimiku 12 sms. Aku malas dan mengabaikan smsnya. Malas menanggapi orang-orang seperti itu. Sudahlah Pak, jangan berpikir yang macam-macam! Aku terlanjur kecewa kepada kaummu untuk yang ke sekian kalinya. Apalagi kau juga bercerita bahwa istri pertamamu mengajakmu rujuk. Kau tidak mau meski kau masih cinta. Kau beralasan bahwa kau sudah memiliki istri dan anak. Aku menyimpulkan kalau kau mengedepankan akal sehatmu Pak dalam menghadapi situasi itu. Tapi kenapa kau tidak bisa berpikir secara jernih lagi Pak? Apa yang salah dengan kaummu? kaum Adam yang belum bisa kugapai pemikiran-pemikirannya. Nalarku nggak nyampai.

Asrama Putri Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
10 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s