“Njaay Perang Dingin”

Kata Mas Agung di grup WA.

Perjalanan kondangan ke Mas Idris di Cirebon menghasilkan penemuan barang berharga. Rombongan Ibnu Adam mendapatkan satu kardus manuskrip asli. Entah bagaimana caranya. Aku masih penasaran sama trik-trik yang digunakan untuk memperoleh manuskrip. Hal itu tak lepas dari peran mas Jauhar yang masih anak-turun Pak Kyai. Juga pak Gilang yang juga sama dengan Gus Jauhar.

Terlepas dari itu, Dim berfoto dengan menenteng manuskrip yang kemudian dikomentari teman-teman bahwa itu hasil kerja yang waw banget. Aku juga ikut berkomentar “Kata Pak Ginanjar, itu tugas anda”. Langsung 3 idiot selain Dim langsung muncul di grup WA. Mau apalagi kalo nggak bikin rusuh? Demikian kira-kira percakapan yang terjadi di grup:

Aku : Kata Pak Ginanjar, itu tugas anda

Adha : Waah, ada pembelaan ini

Aku : Apa maksud saudara?

Ms Agung : Njaay, perang dingin

Husnul : Ternyata malu-malu kucing

Adha : Ampuun. Uppssttt mohon maaf mas Haidir Ali. Selamat bergabung

Aku : Perang Dingin sudah bubar mas. Ini mah PD III. Tolong amankan saudara-saudara sampeyan yang selalu nyari gara-gara

Husnul : Kabur yuukkk

Ms Agung : Saudara saya ya saudara sampeyan juga, Mbak. Maafkanlah mereka yang khilaf, sebagaimana laut menerima segala ada.

Husnul : Mbak El kita dibela langsung oleh mabincab kita.

Ms Agung : Saya membela kerukunan masyarakat lajang, tanpa kelas, tanpa pandang bulu.

Husnul : Siap senior

Ms Agung : Sudah. Yang godain Mbak El berarti godain saya juga. Dan itu jijay rasanya.

(Bagian ini yang paling bikin ngakak. Bagaimana mas Agung bisa memposisikan dirinya di posisiku yang selalu digoda 2 Idiot. Digoda dalam artian dicie-cie, dibulli dan lain lagi. Nggak menjamin kalo mas Agung benar-benar bisa merasakan apa yang kurasa. Bilang “jijay” segala. Emang ada yang godain mas Agung? Ia cuman meredam gejolak emosiku. haha. Di situlah aku merasa seperti punya abang. Sedangkan 3 Idiot merupakan saudara yang seumuran denganku sehingga kami gampang sekali bertengkar. Dan aku menjadi pihak korban mulu. Sekali dua kali para orang tua ikut mbulli, tapi ada pihak-pihak yang menengahi pertengkaran kami. hahaha)

Aku : Kalau dimaafkan, serial sandiwara PD III nya selesai mas.

Husnul : Berarti selama ini Cuma sandiwara.

Kalau aku sama Adha sudah beradu mulut di WA, bu Zakiyah bilang kalau Tom and Jerry sudah keluar dari kandangnya. Bagaimana nggak ingin melotot dan berkata-kata kasar? Adha memang lahir untuk dimusuhi. Hanya melihat wajahnya saja, aku langsung naik pitam. Begitu juga ia terhadapku. Adha tak pernah berbuat baik padaku. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba kami nggak bisa akur tiap kali ketemu. Baik di kelas atau di grup WA. Kalau WA pun langsung kukasih gambar tangan yang meninjukan genggaman jarinya. Atau emotikon melet-melet. Sungguh, kami sudah seperti bumi dan langit, atau minyak dan air, atau air dan api. Ogah saja berbaikan sama Adha. Orang dia ngajak ribut mulu.

Seperti percakapan berikut. Mulanya kami membahas rencana sepulang dari UAS Pak Radhar di Blok M. Apakah kami makan-makan di rumah Pak Gilang, Pak Anam atau sowan ke rumah dosen-dosen yang bertempat tinggal di Ciputat seperti Prof Din, Pak Radhar dan Pak Zaztrow. Lalu muncullah percakapan perkelahian antara beberapa pihak. Diantaranya Pak Anam, Mas Hisyam, Husnul, Adha, Dim dan Aku.

Pak Anam : Monggo bakaran di pamulang, nanti disiapkan. Sekalian kalau mau sowan ke Pak Radhar.

Ms Hisyam : Siap grak, kalau semua ikut kan rame yo Pak? Sekalian bakar Husnul.

Pak Anam : Bakar Husnul nggak enak, pahit.

Aku : Kasih gula dikit-dikit Pak pas dipanggang, biar nggak terlalu pahit.

Ms Hisyam : Bakar Dimyati juga enak Pak, pernah jadi habitat laut tuh.

Aku : Sekalian aja mas tiga-tiganya (Dim, Husnul, Adha). Nanti saya yang bagian kipas-kipas arangnya.

Dim : Kagak ada dagingnya mbah. Tulang doang.

Adha : Pagi-pagi mau ajak perang ni.

Bu Zakiyah : Tom n Jerry keluar dari kandangnya.

Aku : Lha wong kalo ada urusan dengan salah satu dari kalian aja, kalian main royokan. Bakar satu, bakar tiga-tiganya. Itu namanya adil sejak dalam pikiran.

Adha : Awas lho entar langsung janda.

Pak Anam : ngeriii

Bu Zakiyah : Sereem

Dim : Ni orang kayaknya mau dimutilasi. Kagak tahu begal Husnul sama Adha aja.

Aku : Eh. Situ macem-macem lagi, berkas kalian yang 16 juta itu nggak ikut diprintkan. Silakan urus sendiri. Pagi ini, nasib kalian bertiga ada di tanganku.
Dst. Hahaha

Yah begitulah perkelahian yang terjadi di grup WA. Kalau diteruskan, bisa panjang.

Kami sudah seperti keluarga sendiri. Buktinya, sudah nggak ada yang malu saat kentut di hadapan temen-temen yang lain. Pak Anam sampai bilang kalau beliau mau mengembalikan semua uang beasiswa asalkan nggak ada tugas kuliah. Barangkali Pak Anam sudah terlalu capek mikirin travelnya, ditambah mikirin tugas-tugas kuliah. Tapi Pak Anam nggak mau pindah dari kelas A karena kami sudah seperti keluarga bagi Pak Anam. Perlu diketahui bersama kalau Pak Anam ini pengusaha travel yang kaya. Nggak ada masalah dengan uang.

Aku pernah berpikir ngapain Pak Anam sekolah lagi kalau toh beliau sudah kaya. Ternyata dengan kekayaan, Pak Anam belum menemukan kepuasan batin. Makanya Pak Anam mencari kepuasan lain yang mungkin bisa memuaskan batinnya. Yaitu kepuasan intelektual. Pak Radhar pernah mengomentari kalau kita sudah bisa menemukan kebaharian kita, kita nggak akan bingung dengan diri kita. Orang kaya yang hidup mantap dengan kekayaannya. Orang pintar (intelektual) akan hidup mantap dengan intelektualitasnya. Nggak ada istilahnya menginginkan kepunyaan orang lain.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat—12 Januari 2017 (0:33)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s