My Best Bapak

Ketika aku meminta Bapak untuk datang ke pondok dan memamitkanku pada Gus Nang. Di situlah aku merasakan hubungan anak-bapak yang sangat dekat. Menemani Bapak tidur di Poskestren. Membelikan makan dan minum. Mencoba mengenalkan makanan-makanan Jogja seperti Lotek dan es buah. Makanan yang teramat sederhana, tapi tidak bagiku. Aku ingin membahagiakan Bapak, sebisa-bisaku.

Aku masih anak kecil di mata Bapak. Saat membeli ini-itu, Bapak memberiku uang. Haha. Juga ketika mau membeli pulsa. Lucu sekali. Sampai kapan pun, aku tetaplah putri kecil Bapak yang masih perlu dilindungi. Haha dilindungi? emang semacam manusia atau satwa langka? atau hutan lindung barangkali?

Waktu itu aku berniat membeli lakban untuk membungkus kardus-kardus buku yang bakalan dibawa pulang. Pas sekali, Bapak datang dan berjalan ke arahku, sedangkan aku terlihat seperti anak yang menunggui kedatangan Bapak. Bapak sampai bilang “kok pas sekali”. Pertemuan yang mengharukan karena Bapak baru turun dari travel. Padahal aku tak sengaja menjemput Bapak, lha wong mau beli lakban ke toko samping Nurussalam. Bapak berpikiran bahwa aku memang menjemputnya di gang sate. Haha serasa jadi anak durhaka.

Setiap bertemu Bapak untuk pertama kalinya, dari perantauan, aku merasa nggak rela jika Bapak menua. Rambutnya memutih, tubuhnya semakin ringkih. Duh Gustii, sayangilah Bapak.

Banyak hal dari Bapak yang mempengaruhi jalan hidupku. Sebelumnya, aku sudah berniatan menceritakan Bapak. Tapi ya begitu, selalu menunda-nundanya. Lha kemarin di kelasnya Pak Zaztrouw el-Ngatawi, ada kelompok yang mempresentasikan kaligrafi Nusantara. Aku langsung teringat Bapak yang pernah memesan untuk dibelikan buku kaligrafi ketika aku masih di Jogja. Bapak lulusan pesantren, tulisannya bagus, tanda tangannya juga bagus dan elegan.

Untuk hal ini, aku tidak mewarisi bakat Bapak. Tulisanku acakadul tak karu-karuan. Pernah dikomentari sama teman kalau tulisanku seperti tulisannya orang yang nggak pernah mondok karena saking tak pantasnya.

Bapak suka belajar. Kalau saja punya waktu, barangkali hal itu akan digunakannya untuk belajar. Hanya saja Bapak sudah terlalu sibuk menjadi seorang petani yang juga guru kampung. Sepertinya nggak punya waktu lagi.

Selain berbakat menulis (tulisan tangannya bagus), Bapak juga berbakat pidato atau orasi di depan emak-emak. Mamak pernah bercerita kalau Bapak suka lucu sampai-sampai ada saudara jauh yang bertanya pada Mamak “nek neng omah yo ngono kuwi Askan?”. Maksudnya, apakah selera humor Bapak juga diterapkan dalam kehidupan rumah-tangganya. Teman Aliyah Bapak juga pernah menanyakan hal yang sama kepada Mamak. Terkait kelucuan Bapak.

Ditanya demikian, Mamak hanya nyengir karena Bapak sering mempertahankan wibawanya di tengah-tengah keluarga dari pada sisi lucunya. Adik-adik Bapak juga segan kalau sama Bapak. Dari situ aku malah ingin senyum-senyum sendiri jika mengetahui perkara ini.
Meski terlihat cuek kepada Mamak, sebenarnya Bapak paling kesepian kalau Mamak nggak berada di rumah. Satu pertanyaan yang dilontarkan Bapak adalah “Mak mu ning endi?” ketika nggak melihat Mamak di rumah. Mamak pernah mengeluhkan sikap Bapak yang galak-galak cuek, kemudian aku yang bertugas membocorkan perasaan tersirat Bapak kepada mamak yang sebenarnya nggak cuek-cuek amat. Salah satu contohnya ya ketika Bapak selalu menanyakan keberadaan mamak.

Namanya juga orang tua, mereka merasa bangga kepada anak-anaknya. Bapak selalu berlebihan menceritakan diriku kepada orang lain. Suatu ketika bertemu dosen UIN Walisongo, Bapak langsung menanyakan beasiswa di sana. Juga saat bertemu tokoh apa misalnya, Bapak suka melebih-lebihkan diriku yang sebenarnya Cuma begini-begini saja. Haha, dasar orang tua.

Yang paling membuatku gemas adalah ketika ada calon dewan yang datang ke desa. Meminta tolong kepada Bapak supaya warga desa memilih sang calon dewan. Namaku disenggol Bapak sebagai salah satu pertaruhan jual-beli. Kalo si calon dewan terpilih, aku akan disekolahkan ke Mesir. Apa-apaan ini? Aku berprotes. Cerita-cerita seperti itu tidak kuperoleh langsung dari Bapak. Namun dari Mamak ketika kami sama-sama berada di dapur.

Mamak adalah pihak yang selalu mengerti kemauanku. Hal-hal absurd dari diriku juga sangat dimaklumi Mamak. Misalnya soal calon dewan yang menjanjikan akan menyekolahkanku lagi ke Mesir. Mamak bilang kepada Bapak bahwa aku nggak suka hal-hal yang kayak begitu. Juga ketika Bapak memasang foto wisudaku di ruang tengah. Awalnya, Bapak akan memasangnya di ruang tamu. Mamak meredam keinginan Bapak dan menyarankan kalau fotonya ditaruh di ruang tengah saja. Alasannya, karena aku nggak suka dibegitukan.

Melihatku tidak protes dengan pemajangan foto tersebut, Bapak lebih berani memasang foto wisuda di ruang tamu. Kubiarkan saja meski aku agak malu dan sedikit risih menjadi pajangan rumah. Namun apa daya, hanya dengan begitu saja orang tua bisa bahagia. Mungkin dijadikan sebagai gaya-gayaan kalau ada tamu yang berkunjung ke rumah. Buat pamer. Ya biarkan saja, namanya juga orang tua.

Hal yang tidak kusuka dari Bapak adalah pandangan dan sikap politik lokalnya. Ini bukan berarti politik di tingkat kekuasaan, hanya bermain pada tataran nama baik, pengaruh atau wibawa. Kalau nggak setuju, aku hanya diam saja. Takut melukai hati Bapak, juga takut merenggangkan hubungan kami sebagai anak-bapak. Pernah suatu ketika aku menyatakan sikapku karena saking nggak kuatnya melihat desa kecil yang sudah nggak sehat lagi. Bapak menjelaskan kesejarahan dan akar konflik desa yang bermula pada era Soeharto. Dimana sekolah agama (Madrasah Diniyah) diperkecil perannya.

Warga desa belajar ilmu umum di SD pada pagi hari. Kemudian sehabis Ashar, belajar agama di Madrasah Diniyyah. Waktu itu, Bapak masih menjadi pemuda tanggung yang sedang belajar di Pesantren. Tokoh Madrasah Diniyah generasi awal adalah Pak Nur Kholis, Pak Nur Syahid yang dibantu mbah Nur Salim (Kyai Bangsri). Masa Orde baru yang menggandeng Muhammadiyah, membatasi gerak NU yang saat itu Madrasah Diniyah menjadi salah satu gerakannya. SD mengadakan kegiatan lain setelah jam pulang sehingga anak-anak dari warga desa tidak pergi belajar ke Madrasah Diniyah.

Untuk mengatasi gesekan-gesekan tersebut, beberapa warga desa berinisiatif mengganti Madrasah Diniyah dengan Madrasah Ibtidaiyah yang KBMnya dilakukan pada pagi hari. Sejak saat itu, sentimen masyarakat beserta antar punggawa Sumanding semakin meruncing. Jadilah desa kami yang panas dari hari ke hari. Hal ini pernah kusampaikan pada Kang Ndun, pemuda desa yang sudah belajar di Perguruan Tinggi. Katanya, orang-orang semacam kita nggak usah ikut-ikutan masalah kayak gitu. Mending fokus pada pengembangan desa. Dengan begitu, aku tidak terlalu pusing memikirkan nasib desaku.

Kembali ke Bapak. Melihat diri Bapak yang multi talen, aku berpikir kenapa aku nggak menuruni kemultitalenannya Bapak. Justru sebaliknya. Aku nggak bisa berpidato dengan semarak, nggak memiliki jiwa-jiwa sebagai seorang pemimpin, nggak bisa melobi dan berdiplomasi, sulit bergaul, tertutup dll. Berkebalikan dengan pribadi Bapak yang terbuka, punya jiwa kepemimpinan dll. Yah, anak memang bukan anak dari orang tuanya. Anak adalah putra dari sang zaman. Kata Kahlil Gibran yang kujadikan sebagai apologi.

Bapak tak pernah memaksakan kehendak atau memilihkanku jalan hidup yang harus kutempuh. Justru Bapak selalu memberikan pilihan terbuka atau berada di belakangku ketika Mamak memintaku untuk melakukan dan menjadi ini-itu. Namun, ada ketegangan yang kurasakan paska lebaran kemarin. Melihat hidupku yang begitu-begitu saja, Bapak memintaku supaya aku merantau ke Kalimantan. Atau kalau nggak ya ikut Pak Sukron ke Jakarta. Kalau mau tetap tinggal di Jogja ya boleh-boleh saja. Namun apa daya? Bapak sepertinya cenderung kepada Kalimantan sedangkan aku ingin tetap tinggal di Jogja. Meski ingin, bapak tak akan benar-benar memaksaku.

Sampai akhirnya aku menampilkan alasan-alasan untuk menolak permintaan Bapak. Bapak hanya mengiyakan dan di situlah aku merasa bersalah karena belum bisa nurut pada orang tua.

Saat boyongan, Bapak tidak berencana untuk menginap di pondok karena teringat kambing-kambingnya yang bakalan nelangsa. Aku menunjukkan kekesalanku kalau Bapak sampai tidak menginap dan pulang pada sore harinya. Bapak tiba di Joja pada Hari Raya Idul Adha. Siang harinya karena nggak dapat tiket travel yang berangkat pada sore harinya. Jadilah Bapak tidak Shalat Id karena sehabis Subuh harus sudah bertolak menuju Jogja. haha. Akhirnya Bapak mengalah dan mau menginap.

Bapak bercerita kalau beliau habis ngisi lagu di counter. Semacam membeli lagu layaknya jaman wal-awal masa hape mp3. Lucu sekali dah. Hape Bapak berisi ludruk, wayang, dangdut lawas daan Rhoma Irama idola Bapak. Karena sejak kecil sering disetelkan lagu dangdut lawas, mau-nggak mau aku jadi ikut gandrung pada dangdut lawas. jadinya aku memblutut lagu-lagu itu ke hapeku.

Bapak membawakanku koper dari rumah. Koper besar yang diberikan Makdhe Marmi sewaktu aku mau mondok di Bangsri. Koper yang selalu menyertaiku dalam merantau di Bangsri, Jogja dan Jakarta. Koper tersebut semula milik Mbak sepupuku yang bekerja di luar negeri. Haha. Selain koper, Bapak membawa hape baru dan juga tas kebanggaannya. semua harta Bapak dikasihkan padaku. Uang, tas dan hape. Bapak pulang hanya membawa uang beberapa puluh ribu saja untuk ongkos travel.

Kemudian di pagi harinya, aku dan Bapak sarapan di poskestren. Sarapan nasi uduk. Sebentar-sebentar aku minum air karena ada masalah dengan pencernaanku. Bapak bilang kalau minum air di tengah-tengah makan tidak baik. Aku hanya beralasan dan ngeles dengan bilang seret kalau nggak minum air. Setelah itu, kami menunggui travel yang akan ditumpangi Bapak dengan 8 kardus bukuku. haha. Rasanya tuh gimana gitu.

Aku mengantar Bapak sampai pintu gang masuk dan menenteng kardus yang ukurannya kecil-kecil. Sedangkan Bapak bolak-balik membawa kardus yang berukuran besar. Semua kardus sudah dimasukkan ke dalam bagasi travel, aku salim dengan Bapak. Tak disangka Bapak menciumku. Hal yang jarang terjadi dalam keluarga kami. Seingatku, aku dicium Bapak dua kali. Pertama saat perpisahan Mts HA dan kemarin saat mengantar Bapak sampai travel. Meski tanpa kata atau bahasa tubuh yang lain, kami saling paham bahwa kami sangat menyayangi dengan cara yang datar dan sederhana.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Pegangsaan Jakpus
11 Januari 2017 (23:58)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s