Konferensi Pers Untuk Masyarakat Kendeng

Menulis di blog lebih mengalir dibanding ketika menulis untuk suatu berita. Rasa-rasanya kaku dan sebentar-sebentar berhenti. Bingung merangkai kata-katanya. Ada aturan yang baku, tidak dianjurkan untuk asal tulis. Bagaimana menarasikan peristiwa ke dalam deretan huruf-huruf. Harus memperhatikan SPOK, perkara yang selama ini tidak begitu kuperhatikan. Main tabrak saja, semau gue. Menulis hal serupa, untuk Kelas Menulis NU online dan untuk konsumsi pribadi.

Nyatanya, aku bisa luwes dan plong ketika curcol ngalor-ngidol. Ya iyalah, seperti orang ngomong yang dituliskan saja. Bahasa lisan yang ditulis. Atau karena belum terbiasa dalam menulis berita. Bisa jadi. Kesanku, apa yang kita rasa, tidak bisa dituangkan begitu saja ke dalam berita. Kita harus mengambil jarak dengan berita. Menempatkannya sebagai objek pengamatan saja. Beda ketika curhat di blog, kita bisa masuk dan menyatu dengan objek. Perasaan dan emosi kita turut bermain di dalam tulisan tersebut.

Baru saja mengikuti konferensi pers di Walhi. Ada para pegiat sosial dan akademisi, dan beberapa awak media. Para akademisi tidak mewakili institusi padahal ada dosen IPB. Mereka datang mewakili diri mereka sendiri. Dari sini kita jadi berpikir dan bertanya-tanya apakah Perguruan Tinggi tetap berdiri di atas menara gading? Tidak mau menundukkan kepala dan melihat realitas kehidupan di bumi? Apakah Perguruan Tinggi belum mampu menjawab persoalan-persoalan rakyat? Sayang sekali kalau sekolah tinggi-tinggi justru mengasingkan para mahasiswa dari realitas sebenarnya.

Awalnya aku melihat informasinya dari FB seseorang. Tiba-tiba aku tertarik menghadiri undangan Konferensi Pers tersebut. Terdorong aja, mempelajari dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Setiba di kantor Walhi, diri ini merasa panas-dingin. Pertama, aku dan mbak Dewi nggak kenal siapa-siapa. Padahal, aku melihat orang-orang saling bertegur sapa dan berbincang-bincang ketika bertemu. Kedua, aku tidak mewakili lembaga apapun atau media mana pun. Hanya datang saja. Nggak grogi gimana coba?, melihat orang-orang pake ID Card yang mewakili media-media besar. Ketiga, kita peserta paling unyu. Peserta lain nampak seperti kakek, nenek, bapak-bapak, ibu-ibu dan wartawan yang sedang gemilang.

Modal nekat sih barangkali, plus bermuka tembok saja. Nggak usah malu. Ketika mas Gunritno dan beberapa tokoh berbincang-bincang, aku mendekat begitu saja. Nguping tepatnya, untuk mencuri informasi. Hahaha.

Ketemu dengan wartawan TV yang baru sebulan bekerja. Kami berbincang-bincang sedikit mengenai persoalan Kendeng. Mbak wartawan belum mengetahui hal ini dengan baik. Maklum saja karena mereka datang karena pekerjaan, bukan karena panggilan pribadi. Selain itu, mereka juga mengejar target karena harus meliput beberapa peristiwa yang berbeda-beda. Pembunuhan, kapal dll. Tidak adanya fokus liputan, membuat mereka belum memahami persoalan dengan detail dan menyeluruh. Ibaratnya, mereka hanya menyajikan informasi secara sekilas.

Andai saja ada media TV Nasional yang menyajikan secara runtut peristiwa Kendeng, tentu akan menjadi hal menarik bagi banyak pihak. Entahlah, aku nggak akan membahas hal ini. Lha wong mau nyeritain apa yang sedang terjadi di acara konferensi pers tersebut kok.

Besok tanggal 17 Januari 2017, pak Ganjar Pranowo harus mencabut surat Izin pendirian Pabrik Semen Indonesia. Sebelumnya, warga Kendeng telah menang di tingkat MA. Juga bertemu Pak Jokowi yang menyepakati akan dilakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis di wilayah Pegunungan Kendeng. Selama kajian tersebut (satu tahun), segala proses pembangunan harus dihentikan.

Pak Ganjar sih beralasan kalau saat mengeluarkan izin baru, beliau belum menerima Putusan MA yang memenangkan warga. Mas Gun menerima putusan MA pada tanggal 8 November. Kemudian meminta bantuan LBH Semarang untuk mengecek ke Staf Gubernur apakah Pak Gubernur sudah menerima Surat Putusan MA atau belum. Memang belum menerima sih, benar demikian.

Di sisi lain, adanya rentang waktu yang lama antara keluarnya Putusan MA dengan pengiriman ke Kantor Gubernur, tercium bau tak sedap. Nampaknya ada yang bermain mata nih. Antara si itu dengan si dia. Ngapain aja sampai Surat Putusannya nggak segera dikirimkan ke Pak Ganjar? Kan jadinya Pak Ganjar mengantongi alasan yang akan memberatkan warga.

Eh tahunya Pak Ganjar mengeluarkan izin baru dengan alasan bahwa nama pabrik yang disengketakan berbeda dengan pabrik yang mendapatkan izin pendirian. Pabrik yang dipersengketakan adalah PT Semen Gresik, sedangkan yang yang diberi izin pendirian adalah PT Semen Indonesia. Di situlah Mas Gunritno merasa dibohongi, dibodohi oleh Pak Ganjar. Padahal, Mas Gun paham betul bahwa apa yang dilakukan Pak Ganjar hanyalah upaya ngeles aja. Berkilah dan membuat seribu macam alasan untuk memberikan izin pendirian pabrik.

Karena merasa kalah di tingkatan hukum, pemerintah bergandengan dengan pabrik menciptakan konflik horizontal antar warga. Nanggap barongan dan mendatangkan orang-orang yang dibayar untuk menyetujui pendirian pabrik. Semacam massa tandingan gitu. Mereka dibayar lho, setelah dibayar yasudah. Bubar jalan tanpa penghormatan, begitu aja. Mereka tidak akan tahan lama dalam memperjuangkan ke pro-annya terhadap pabrik. Beda dengan warga Kendeng yang memiliki fondasi dan akar yang kuat dalam melangkah, memukul mundur pabrik semen.

Moderator mempersilakan teman-teman media untuk bertanya. Namun nggak ada satu pun yang bertanya. Akhirnya aku mengangkat jari telunjukku. Pertama ingin mendengar keterangan dari Ms Gun terkait sikap Mbah Maimun. Kedua aku mengungkapkan rasa terimakasihku kepada petani Kendeng. Dalam situasi seperti ini, aku mudah sekali tersentuh. Ujung-ujungnya aku ingin mewek. Aku lepas kontrol, belum bisa menguasai gejolak emosiku. Aku hampir nangis, tak bisa berkata-kata. Mas Gun dan para petani yang tetap santai dan nggak memakai cara brutal dalam menghadapi pemerintah.

Terjadi tarik-menarik dukungan antara yang pro dan yang kontra pabrik dari Mbah Maimun Zubair. Pihak kontra telah sowan ke ndalem Kyai Maimun Zubair sebelum peletakan batu pertama pabrik. 9 Kartini Kendeng juga memohon doa dari Mbah Maimun dan beliau tentu mendoakan petani Kendeng. Mengenai dukungan Mbah Maimun terhadap pihak yang pro, perlu ditelusuri lagi kebenarannya seperti apa.

Yang paling mengesankan adalah ketika Petani kendeng Sowan ke ndalem Gus Mus. Gus Mus menghidangkan makan, mendoakan dan menitip pesan “teruslah berjuang dengan cara yang sederhana.” Duh, bagaimana Gus Mus tidak pernah meminta melakukan upaya-upaya yang lebih frontal dan sadis, bahkan kepada pihak yang dzalim secara terang-terangan.
Lalu apa? jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng meminta Pak Ganjar untuk mencabut izin tersebut. Kalau enggaaak emang napa? doa-doa orang yang tulus akan menembus langit.

Acara tersebut menghadirkan 10 pembicara dari LSM dan kuasa hukum masyarakat, 5 akademisi dan ms Gunritno (yang diundang ke Mata Najwa itu). Mereka semua menolak surat izin baru. Tapi dalam perjalanannya mengalami lika-liku. Ada kuasa hukum, mbak Asvi yang bilang bahwa mereka telah kehabisan akal untuk berbuat apalagi. Pak Ganjar sangat licin sih, macam belut yang sulit dipegang.

Selesai konferensi, aku meminta foto sama mas Gunritno. Sebelumnya, aku memperkenalkan diri berasal dari Jepara. Ternyata seru ya jadi jurnalis? apalagi jurnalis independen! hehe. Apa-apaan nih? ngaku-ngaku jurnalis independen. Padahal emang nggak ada media yang mau nampung. Meliput sendiri, menulis sendiri, dibaca sendiri. Waks! Kasihane rek…

Perpus PBNU-Asrama Mahasiswa
16-17 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s