Masjid Sunda Kelapa

Sekolah kadang membuatku semakin terasing dengan realitas sekitarku. Kok bisa? Aku menjadi berada di tempat yang agak tinggi. Dan bagaimana caranya kembali ke asalku?
Kajian di Masjid Sunda Kelapa ditujukan untuk emak-emak. Kukira, kajiannya seperti yang ada di Masjid Jenderal Sudirman Jogjakarta. Sampai di sana habis Maghrib.

Tertulis nama penceramahnya “Dr. Darwis Hude”, nama yang tidak asing. Tapi aku lupa mengingat nama dan tokoh tersebut secara persisnya. Yah, pengajian yang dinamai kajian tasawuf tak jauh berbeda dengan pengajian di kampung-kampung atau di tempat lain. Pengajian yang sangat normatif dan berbau surgawi. Sebenarnya tak masalah dengan hal itu. Hanya saja, aku menjadi orang yang mencari gizi untuk akal dan hati.

Menurutku, pengajian seperti itu belum lah operasional karena masih berbicara pada tataran kulit dan teori. Sementara ini, kita berada di kabinet kerja, kerja dan kerja. Jadi membutuhkan kerja kongkrit. Sudah suntuk dijejali wacana dan pengharapan-pengharapan. Yasudahlah. Itu kan memang pengajian yang ditujukan kepada masyarakat umum, kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu. Kalau mau sesuatu yang lain, maka carilah di tempat lain.

Aku tertarik berangkat karena pembicaranya Pak Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal. Barangkali Pak Nasaruddin sedang sibuk dan berkegiatan di luar sehingga diwakilkan ke tokoh lain. Jam 8 malam, pengajian tersebut sudah selesai. Aku langsung memesan gojek dan menunggunya di depan Masjid Sunda Kelapa.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
16 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s