Mencoba Berbaur

Hari Jum’at, aku datang ke kantor redaksi NU Online di lantai lima gedung PBNU, Jakarta Pusat. Sebelumnya, aku mendaftar sebagai peserta Kelas Menulis yang baru dibuka oleh NU Online. Penanggung jawab acara tersebut adalah Abdullah Alawi. Nama yang baru saja kubaca di buku yang dipdfkan. Penulisnya Arlian Buana, diberi kata pengantar Mas Iqbal Aji Daryono, orang Mojok. Nama Abdullah Alawi diceritakan si Bana dalam bukunya. Mengenai sosoknya yang dicari-cari Pak D. Zawawi Imron. Panggilannya Mas Abah.

Juga nama Mahbib dll. Oh, ternyata sekarang mereka di NU Online to. Dulunya sih di UIN Ciputat, sering mengikuti Piramida Circle kali ya. Komunitas diskusi yang didirikan oleh Pak Syafiq Hasyim cs.

Semula aku malas menghadiri undangan tersebut karena aku merasa sulit beradaptasi dengan orang-orang baru. Butuh waktu yang agak lama untuk memperoleh hubungan yang cair. Aku agak ketakutan menghadapi orang-orang. Sama ketika masih MI dulu, nggak suka berada di keramaian. Misalnya ada saudara yang mempunyai hajatan, aku enggan diajak Mamak untuk pergi kesana. Aku lebih memilih tinggal di rumah dan ngapain aja yang penting nggak kondangan.

Fenomena minder bertemu orang ini masih kurasa ketika di Jogja. Aku menjadi orang yang gampang takut dan nggak berani menatap orang lain dengan mantap. Jogja memang kota pelajar. Namun tidak sekosmopolit Jakarta. Jogja belum membentukku menjadi orang yang terbuka. Selain karena faktor internal, dimana aku tidak mengikuti organisasi apa-apa, Jogja tak pernah menuntutku untuk membuka diri.

Sebenarnya, itu tergantung masing-masing person sih. Tinggal mau terbuka dan welkam atau tidak. Namun faktor lingkungan tetaplah mendukung. Kadang aku sampai berfikir, untuk menjadi orang yang gampang bergaul saja, aku perlu pergi sampai Jakarta. Padahal teman-teman MA-ku sudah selesai dengan hal itu semenjak dulu, ketika masih berbaju seragam putih-abu-abu. Sedangkan aku masih mencoba belajar untuk bergaul dan membuka diri. Ilmu dan keterampilan yang mengantarkanku sampai Jakarta, membutuhkan waktu yang lama.

Seperti kemarin saat mendatangi kelas Menulis. Aku sudah malas-malasan dan enggan berangkat karena tak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Aku masih suka grogi dan minderan. Harus berlatih dan membiasakan diri. Berilah sedikit waktu, perasaan pasti akan membaik dengan sendirinya. Itu hanya masalah perasaanku saja. Nyatanya tidak mesti demikian. Akhirnya aku tetap datang daan menjadi yang pertama datang.

Aku berangkat dari Perpusnas jam 2 siang. Mas Abah mengirimi kami pesan supaya kami berkumpul jam 2an. Aku sudah gugup duluan. Saat itu Izul meminjam hapeku untuk memesan gojek dengan pembayaran Go Pay. Abang Gojek tak lekas datang, Izul memintaku untuk menunggu sampai Gojek datang. Aku merasa nggak enak kalau sampai telat. Kutinggalkan hapeku di tangan Izul, aku meluncur ke PBNU dengan naik angkot.

Setibanya di sana, aku jadi krik-krik. Redakturnya cowok semua. Mau asyik dalam dunia sendiri bagaimana? Aku nggak bawa hape kok. Hape membantu orang-orang sepertiku yang sedang belajar terbuka. Setidaknya, hape bisa dijadikan alasan untuk menghindari realitas sekitar. Haha paraah. Tanpa berniat menghindar pun, orang lain sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Akhirnya aku hanya melongo dan mencoba untuk rileks. Haha tapi aku sudah terkesan dengan NU Online sejak pertemuan pertama.

Aku terkesima dengan penuturan Mas Abah mengenai Mahbub Junaidi yang bisa menulis banyak macam tulisan. Berita, sastra dan politik. Uraiannya tidak simpel begitu. Tapi aku lupa bagaimana detailnya. Hahaha. Aku dlongop memperhatikan Mas Abah yang easy going. Mas Abah yang membikinkan kami teh. Ribut sendiri dah. Semoga bisa bertahan dengan keadaan baru, tidak mudah kabur. Bisa menjalin seilaturrahim dan menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.

Bukti kalau aku sudah care dan bisa enakan dengan orang lain yaitu ketika aku sudah berani jail terhadap mereka. Setidaknya tanganku sudah melayang ke badan mereka, mecolek, mentowel, menggeplak, melambai-lambi dan lain-lain. Misalnya ketika aku berada di samping kiri salah satu teman, aku akan mentowel punggung kanan teman tersebut. Si teman akan menoleh dan mencari-cari siapa gerangan yang telah menepuk pundaknya. Karena punggung kanan yang dicolek, si teman akan menoleh ke arah kanan.
Aku tentu selamat dari tuduhan kecuali orang-orang yang menjadi langganan colekanku. Tanpa menoleh pun, ia sudah memelototiku duluan dan bilang “Ih Geje”, “Ngapain sih mbak El”. Macam Dududu, Ijul dan Mbak Dew. Mereka sudah hafal watak usilku.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Pegangsaan, Kota Jakarta Pusat
16 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s