Sekolah Menulis NU On

Senin malam, kami berkumpul di kantor redaksi NU Online. Temen-temenku yang lain adalah Wiwi, Neneng, Ilham, Aru, dan anak LAZIS yang kulupa namanya. Membawa nama s2 bukanlah perkara mudah. Apalagi orang sepertiku yang tidak terlalu sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan. Dikiranya seperti apa, nyatanya ya begini-begini saja. Ilmu, keterampilan, pengalaman dkk masih sangat minim. Harus banyak belajar lagi.
Kemarin didampingi Mas Alawi dan Mas Ghozaly. Harusnya sih Mas Hamzah Sahal dari NUTIZEN, hanya saja mas Hamzah Sahal masih kecapekan habis hajatan adik iparnya. Makanya materinya diroling duluan sama Mas Ghozaly.

Kami ditugasi menulis berita. Dikoreksi satu per satu sama Mas Alawi. Mas Alawi memang orang yang mengesankan. Sebelumnya, aku sudah membaca sedikit kisahnya. Orang yang baik, easy going, tutur bahasanya mengalir (kalau bicara, orang-orang antusias memperhatikan), mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan buku. Duh, pokoknya keren dah.

Aku menulis hasil liputanku ketika konferensi pers di Walhi dalam menyikapi kasus Kendeng. Tema yang sangat menarik karena lagi in-innya. Hanya saja, aku belum bisa menyajikan data dengan maksimal. Masih sering terjadi pengulangan kalimat, belum jelas SPOKnya sehingga belum membentuk kalimat yang sempurna, unsur dasar 5W 1H aja belum genap, belum ketemu ide dasarnya, belum terarah dan masih mengapung. Banyak catatan dah. Tulisanku dirombak Mas Alawi habis-habisan. Diminta lagi untuk membenahi, minggu depan dikoreksi.

Sedangkan si Aru mengangkat perbedaan antara Islam dan Muslim menurut Kyai Enha. Tulisan Aru sangat menarik dan baru saja terjadi. Mendorong Mas Alawi untuk mengeditnya kemudian menerbitkannya di NU Online. Tulisan pertama yang masuk gol duluan. Ketika Mas Alawi mau memposting tulisan Aru, aku ikut deg-degan juga. Haha dasar. Soalnya baru menyaksikan tulisan teman dipublikasikan secara langsung, di depan mata kepalaku sendiri.

Mas Ghozaly nampaknya baper-baper gimana gitu. Menganalogikan pemilihan sudut pandang berita dengan pemilihan calon bojo. Duh Mas, mendingan selesaikan dulu urusan pribadimu. Baru kemudian mengisi materi tanpa perasaan baper atau galau. Judul berita harus padat dan jelas. Siapa bicara apa, siapa melakukan apa dll. Lha kemarin itu malah judulku dikatakan mas Ghozaly sebagai kata-kata yang diam. *tsaah

Aku paling senang mendengarkan cerita mas Alawi tentang Ernest Hemingway yang mengedit novelnya sebanyak 60 kali. Helloooww!! Juga mengenai perjalanan Mas Alawi ke lima puluh kota dalam rangka meliput Ekspedisi Islam Nusantara selama dua bulan. Mas Alawi dan rombongan diikuti oleh seseorang gara-gara memakai sarung. Sarung mengingatkannya pada kehidupan pesantren sewaktu si pengikut mondok di Kediri. Juga ditebak oleh orang Timur di perbatasan dengan Papua Nugini. Katanya “Kalian NU ya”?. NU terkenal sampai pelosok dan wilayah terluar Indonesia.

Mas Alawi masuk NU Online karena dulunya sering ngeblog. Yayay.

Perpusnas, Jakarta Pusat
19 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s