Membesarkan Hatiku

Di Jogja, aku datang ke Ma’iyahannya Cak Nun Cuma sekali. Itupun main umpet-umpetan sama pengurus. Kalau ketahuan, aku bisa disuruh baca surat ngiprit di hadapan seluruh santri. Jujur, aku pernah ngiprit (nggak pulang ke pondok) dua kali. Pertama karena nginep di kostan Ceceu. Kedua saat pergi ke mBantul itu. Belum lagi kabur ke Jombang saat Muktamar NU tahun 2015 lalu. Setelah kepergianku ke Jombang, peraturan baru terkait larangan ke acara semacam muktamar dikeluarkan. Wkwk

Aku, Mbak Nia dan Mbak A’yun keluar dari pondok sejak sore hari. Kami menumpang di rumah Mami. Setelah agak maleman dikit, kami baru menuju Kasihan-Bantoul. Dibelain ngiprit, eh di sana malah tidur. Sungguh tak sebanding dengan segala usaha bersama.

Sekarang aku hidup di Jakarta, kota yang memberiku peluang untuk kelayaban. Kemarin ke Walhi, Kamis malam sebenarnya ada diskusi Agraria di Kafe daerah Mampang. Salah satu pembicaranya Mas Iqra Anugrah, mahasiswa yang lagi belajar di luar negeri. Aku sudah berteman dengannya di FB. Kesempatan emas bisa belajar langsung dengan tatap muka. Tapi aku belum terbiasa dengan suasana kafe, jadinya aku mengurungkan niatku.

Apalagi aku belum menemukan teman yang memiliki keabsurdan diri yang sama. Aku jelas nggak berani mengajak teman-teman asrama. Mereka masih unyu, pasti nggak betah berlama-lama di tempat diskusi. Mungkin Dududu mau diajak menggila, tapi sekarang dia lagi pulang ke Subang.

Kalau temen kampus, mereka jauh dari sini. Ada sih yang dekat seperti Pak Izzuddun dan Bu Zakiyah. Tentu aku nggak akan mengajak beliau berdua kelayaban. Kurang sopan. Sedangkan temen-temen yang masih free alias jomblo, tinggalnya jauh dari Jakarta Pusat. Mereka di Ciputat dan Parung. Aku pun nggak enjoy jalan bareng mereka. Apalagi temen-temen cowok, kecuali kalau rame-rame. Itu beda cerita. Hanya saja, siapa dari mereka yang tertarik hal-hal begituan? Aku masih ragu aja.

Kini jam setengah lima pagi. Barusan pulang dari Ma’iyahan di TIM Cikini. Aku datang sendiri, pulang sendiri. Eh nggak nding, dijemput dan diantar abang Gojek. Aku membawa peralatan wajibku ketika bepergian. Minyak kayu putih, air putih, payung dan tambahan kopi. Biar kuat menyimak. Setiba di TIM, aku berdiri sembari celingak-celinguk. Mencari tempat kosong di bagian depan. Aku mencopot sendal dan langsung menduduki terpal yang masih lega.

Kali ini ada tampilan musik jazz, pembicara dari Amerika yang bernama Bu Enn (orang etnomusik), Ustadz Sofa dan Cak Nun sendiri. Kurasa, aku belum bisa menikmati musik jazz. Blas nggak tahu-menahu soal musik ini. Kecuali ketika Bu En ikut menyanyi.
Gerakannya asyik dan santai. Aku suka lagu sama pembawaan diri Bu En yang luwes. Beda dengan beberapa personil yang masih kaku karena masih terlalu muda. Usianya baru 14 tahun, besok mau ujian SMP. Doain semoga Adik Jazz bisa melalui ujian dengan tenang.

Apa yang disampaikan Cak Nun memiliki persinggungan dengan pesan besar Pak Radhar ketika di kelas. Mengenai kesejatian diri. Bagaimana diri ini mampu menjalani hidup dengan seimbang, tidak kagetan, memiliki ketenangan jiwa, bisa berpikiran jernih, dll. Intinya, yang kita pelajari dan kita lucuti adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Bagaimana cara pandang kita melihat berbagai macam persoalan.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari Ma’iyah adalah pangkal dan ujung kita. Cak Nun memberikan penuturan dan uraian kemana kita akan bermuara. Kita memiliki gambaran dan pegangan yang menjadi tempat bergantung kita dalam menjalani kehidupan. Tuhan. Tersering aku mengabaikan Tuhanku. Rasa-rasanya, aku sangat sekuler dari bangsa dan negeri mana pun. Aku mengesampingkan Dzat yang Segala-galanya. Entah karena aku terlalu mengejar perkara lain seperti ilmu atau apa. Yang jelas, aku memisahkan diri dari Tuhan.

Tuhan adalah Segalaku, tapi aku kerap tidak merasakan kehadiran-Nya dalam hidupku. Di situlah, fluktuasi kedekatanku dengan Tuhan sedang terjadi. Lagi merosot-merosotnya. Anjlok dah, habis-habisan. Pun juga dengan Kanjeng Nabi. Aku ingin mencintainya dengan segenap rasaku. Rabi’ah Adawiyah pernah bermimpi bertemu dengan Kanjeng Nabi. Rabi’ah sang wanita pecinta ditanya sama Kanjeng Nabi mengenai perasaannya kepada kanjeng Nabi.

Rabi’ah menjawab bahwa seluruh ruang rasanya sudah penuh, tidak menyisakan ruang lagi untuk makhluk. Termasuk sedikit ruang cinta untuk Kanjeng Nabi. Bahkan kepada setan pun ia tidak memiliki perasaan apa-apa. Biasanya kalau orang normal kan benci dan geregetan sama setan. Tidak dengan Rabi’ah, ia menempatkan Tuhan di segala sudut ruang rasanya. Full kuota. Nggak menerima penumpang lain.

Aku sih mana bisa seperti itu, masih suka galau sama bocah lanang. Duh yaaa.. Setidaknya, selalu ingat sama Tuhan, itu sudah bagus. Apalah daya hamba yang begini-begini saja, mendekat kalau ada maunya. Tapi aku suka simpul-simpul yang telah mengantarkanku pada Kanjeng Nabi dan Gusti Allah. Entah aku sudah sampai atau belum. Tapi mereka adalah pihak yang telah menunjukkan kasih sayangnya sehingga aku bisa merasakan kasih sayang Tuhan. Orang tuaku, perpanjangan “Tangan” Tuhan. Terutama Ma’e. Kemudian Kanjeng Nabi, Gus Nang, Cak Nun, Gus Zaky dan guru-guruku.

Tadi dikatakan ada hadits yang kira-kira demikian “Keadaanku sesemrawut apapun tak jadi soal (rapopo), asal Gusti Allah ridho”. Rasanya tuh seneng, merasa dicintai Gusti Allah sama Kanjeng Nabi. Tak bisa dinarasikan, hanya bisa dirasakan.

Mengenai kehidupan yang menjadi teka-teki bersama. Persisnya menjadi puzzle setiap orang. Kaitannya dengan kita (Indonesia) yang telah dikendalikan mereka. Entah ekonomi, politik, budaya, intelektual dll. Mereka menganggap bahwa setelah menguasai apa yang ada, mereka menang gitu? Belum tentu. Mereka tidak mengerti kehidupan. Kehidupan tidak semudah itu. Ada hal lain yang tidak diketahuinya. Penuturan Cak Nun membuat kita optimis menjalani kehidupan. Ibaratnya kita tidak berdaya dan tidak bisa apa-apa lagi, namun nyatanya masih ada banyak celah untuk meneropong kehidupan. Itu yang tidak mereka pahami.

Satu lagi, kita bisa belajar dari diri Cak Nun dalam menghamba pada Tuhan. Benar-benar sumeleh dan legowo. Tulus dan ikhlas. Tapi kesumelehennya bukan berarti hal yang pasif dan pasrah begitu saja. Mungkin beliau adalah hamba yang benar-benar menghamba. Kemudian kehambaannya inilah yang memberikan energi dalam diri Cak Nun yang kemudian dihibahkan untuk sesama hidup.

Sebenarnya banyak point yang disampaikan, tapi kan sudah direkam dan akan dimasukkan youtube. Jadi aku nggak perlu menarasikan detailnya. Acara selesai pukul setengah empat barangkali. Semua orang antri untuk mengecup punggung tangan Cak Nun. Aku juga ikut ngantri, ngiintil sepasang bapak dan ibu biar dikira anaknya. Kan nanti dipersilakan sama orang-orang karena dianggap satu keluarga. Namun aku terpisah dari mereka. Jadilah aku berdesak-desakan sendirian, diantara seribu pria. Ada satu ibu-ibu juga nding. Ibu ini nangis ketika mencium tangan Cak Nun. Entah bagaimana gejolak perasaannya. Hanya saja, hatiku masih keras dan emosiku datar-datar saja. Aku sudah bahagia bisa salim dengan Cak Nun.

Dalam posisi seperti ini, aku merasa menang karena para pria akan mudah kasihan. Tapi terkadang aku nggak suka kalau dikasihani orang lain. Seperti orang ngenes aja. Kita mah sama-sama kuat bertahan dengan tenaga yang ala kadar. Sampai-sampai ada mas-mas yang melindungiku dari kerumunan pria. Si Mas belakangku menahan Mas lain yang berpotensi akan jatuh ke tubuhku. Serasa punya guide aja. Lalu ketika sudah di barisan agak depan, panitia mendahulukan para wanita. Aku pun melenggang salim sama satu tokoh yang nggak kutahu namanya, kemudian salim dengan Cak Nun.

Udah, langsung pesen Gojek lagi. Pulang ke asrama dan manggil-manggil nama Mbak Linda untuk bukain pintu asrama.

Desak-desakan gini tak ada apa-apanya dengan kerumunan haul Gus Dur. Aku pingin salim sama Habib Ja’far dan Habib Umar. Namun, orang-orang Banser terlalu galak dan keras. Ada beberapa lelaki yang didorong si Banser. Aku ikut-ikutan limbung. Hampir sekarat. Emang aku pernah ngrasain sekarat? Hehe belum.

Pulang dari Ma’iyah, aku langsung teringat Ma’e yang memintaku ngaji untuk Mbah kakung. Semenjak dulu sampai sekarang, aku sering cuek pada ma’e. Sok sibuk melakukan ini-itu di kota. Dasar El-el… Kok bisa begitu ya. Ketika masih mondok di Bangsri, aku menangis gara-gara dijemput Bapak untuk pulang. Waktu itu aku belum pingin pulang, tapi sudah masuk liburan pondok menjelang lebaran. Eh aku malah nangis tak keruan. Memang apa sih El yang kau cari di kota? ilmu? memuaskan diri? atao apa? berilah alasan yang bertanggungjawab.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Pegangsaan, Kota Jakarta Pusat
21 Januari 2017 (5:25)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s