Blog ini…

Sebelumnya, tidak usah gimana-gimana ya Mas. Aku mung pengen bercerita. Bagiku, sampeyan adalah orang yang mengantarkanku memasuki dunia tulisan. Sampeyan menyarankanku untuk menulis catatan harian buat latihan menulis. Waktu itu aku habis membeli netbook baru di Jogjatronik. Konternya menawariku hadiah buku atau mug. Temanku memilih mug, sedangkan aku mengambil buku. Ennah, buku hadiah netbook Acer itulah yang menjadi buku catatan harian pertamaku. Kalau membacanya kembali, rasanya aneh dan lucu. Kok bisa dulu menulis seperti itu. Tapi ya biarlah, namanya juga baru nulis.

Sakjane aku nggak pengen membuat sampeyan merasa ini atau merasa itu terkait hubunganku dengan menulis. Untuk menulis status facebook (yang menyinggung nama sampeyan) saja, aku pikir-pikir dulu. Kukira nggak akan berakibat panjang. Aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku saja padamu. Eeea.

Lalu sampeyan membuat blog ini. Tentu aku kaget dong tiba-tiba ada yang buatin blog. Secara, kita jarang sekali berkomunikasi. Paling banter hanya say hello di inbok facebook. Terlepas dari itu, aku gembira punya blog baru. Yeyeyeee

Dulu ketika ada temanku yang mempunyai komitmen dengan teman laki-lakinya, aku sering sinis ketika mereka diberi berbagai macam barang. Misalnya ada temanku yang diberi anak lele (hidup) sama pacarnya, aku membayangkan bahwa peranakan lele itu akan dibunuh oleh si teman ketika mereka putus. Atau ketika ada yang ngasih cermin ke salah satu temen, aku berpikiran bahwa cermin itu akan dilenyapkan dari muka bumi ketika mereka sudah bubaran.

Apa kaitannya dengan blog ini? Aku sih suka aja dibikinin blog, tapi di sisi lain ada perasaan nggak enak. Takut ada maksud terselubung dari pemberian ini. Kan rasanya aku memiliki hutang budi gitu. Dan tentu, aku harus balas budi kalau sudah hutang budi kan? Blog ini seolah punyaku, tapi bukan milikku sepenuhnya. Jadi ya gimana ya?? Punyaku iya, tapi nggak punyaku juga kalii. Kalau ada pemikiran untuk dijadikan milik berdua kok kayaknya seperti anak muda jaman sekarang. Dan kita, sudah tidak terlalu muda. Jadi? Semoga aku nggak berlebihan menanggapi hal ini. Tapi nampaknya memang agak berlebihan deh. Hahaha. Aku memang suka ruwet dan mbulet, termasuk melihat persoalan blog.

Sampai saat ini sih nggak papa yo Mas? Kita nggak ada masalah apapun. Untuk antisipasi saja, ke depannya barangkali kita akan canggung sendiri. Misalnya ketika sampeyan telah menemukan belahan jiwa sampeyan, atau aku yang ketemu sigaran nyowoku. Daan? Sigaran nyowo kita adalah orang lain yang bukan aku atau kamu, tapi si dia dan si dia. *Tsaah

Maksudku, bagaimana nasib blog ini di kemudian hari? Semoga kita akan menjadi orang-orang yang legowo dalam menjalani kehidupan. Termasuk urusan jodoh. Toh kita tak bisa memaksakan kehendak, kita hanya bisa berdoa kan bang? katamu begitu. Jadi sebaiknya kita rileks aja, tidak usah terlalu sepaneng dan serius-serius amat. Kalau itu yang terjadi, baiknya blog ini menjadi tempat berkumpul keluarga baru kita. Kan jadi rame diisi empat orang. Wkwk. Haiyyah

Kayaknya menarik kan? Ada dua kemungkinan sih menurutku. Pertama keluarga yang terdiri dari kita berdua (Piiis). Kedua, keluarga yang terdiri dari sampeyan, garwone sampeyan, aku dan garwoku. Membayangkan saja, aku sudah ingin tertawa. Semoga sampeyan tidak merasa aneh atau tersakiti dengan khayalanku yang di luar nalar ini. Hubungan baik memang lebih utama, nambah seduluran.

Apapun yang terjadi, sampeyan tetep kakangku yang harus mengarahkan dan memarahiku kalau perlu. Nek sampeyan menikah duluan, kabar-kabari! Wajib. Aku yo seneng, ndue mbak anyar. Hehe. Nek boleh jujur, sampeyan pas banget sama Mbak Halimah. Klop dah, apalagi temen baik kan? Pasti sudah tahu luar-dalam. Aku lho tahu kalau sejak dulu di Matapena, sampeyan selalu dicie-cie sama Mbak Halimah. Aku tahu ceritanya dari Mbak Anis (TH-Matapena) temenku.

Menurut ramalanku, sampeyan pernah ada rasa sama Mbak Halimah. Cuman nggak berani maju. Dan masih dalam rangka aku meramal, Mbak Halimah juga sudah percaya sama sampeyan. Gimana ya aku mendeskripsikan kepercayaan wong wadon pada wong lanang? Emm seperti orang yang siap menjadi penumpang perahu yang sampeyan nahkodai. *Opo meneeh? Memang ini agak ngarang sih, yah pengamatan sepintas. Nanti bisa dicarikan data-datanya.

Tapi yo Mas, sampeyan mungkin bukan seorang pemberani dalam urusan ini. Memang sih sampeyan jurnalis, tapi sampeyan nggak terlatih menarasikan perasaan sampeyan sendiri. Paling pol yo menarasikan berita, liputan dan semacamnya. Wek-wek!. Mencoba lah berlatih Mas! wkwk. Tentang Mbak Halimah, aku serius Mas, beneran!, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Prett!

Aku sudah menulis panjang lebar. Nggak menuntut dijawab secara panjang lebar pula sih. Tapi minimal, biar aku nggak garing sendiri, sampeyan tahu kan maksudku?. *yakdesh

Asrama Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Pegangsaan, Jakpus
21 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s