Gasing

Hari Sabtu kami berkumpul di Bulungan blok M. Meneliti masyarakat bahari, orang-orang yang masih menyimpan identitas bangsa. Mata kuliah Pak Radhar.

Ya Allaah, males banget nulis. Nggak nulis aja sih, males melakukan yang lain juga.
Di Bulungan itu kami didatangi anak kecil yang jualan tisu. Lima rabu satunya. Sebelumnya, Bu Zakiyah, mas Mukhtar, Mas Hasan dan aku berbincang-bincang masalah rencana menikah. Bu Zakiyah bertanya aku berencana menikah kapan. Ditanya begitu, aku bilang nggak tahu dan sedikit curhat kenapa aku nggak begitu respek dengan urusan menikah.

Bu Zakiyah memarahiku dan bilang bahwa aku harus punya planning. Jangan sampai keasyikan menjalani hidup. Seperti teman Bu Zakiyah yang saat seumuranku tidak pengen menikah, sampai akhirnya meraih S3 dan belum menikah. Barangkali karena keasyikan belajar. Kemudian aku bilang “iya-iya” sambil memeluk Bu Zakiyah. Biar nggak tambah dimarahin. Aku pun membatin “semoga”.

Anak penjual Tissu kami wawancarai ini-itu. Ia anak tunggal, bapaknya penjual kopi. Mas Hasan sangat respek dan semangat bertanya. Intinya, ia kagum. Menanyakan bagaimana anak seusianya sudah jualan tissu. Terlebih anak tunggal, harusnya ia bisa bermanja-manja kepada orang tuanya dll.

Jawab anak itu, “muter-muter aja kayak gasing”. Anak Penjual Tissue sudah memiliki landasan berpijaknya. Ia berjualan tissu dengan memakai filosofinya sendiri. Pernyataan Anak Penjual Tissue itu bisa diuraikan dengan penjelasan yang lebih panjang. Hanya saja aku lagi nggak mood menguraikan. Sudah kukatakan bahwa aku sedang malas. Menulis ini saja kupaksa diriku. Nulis sedapatnya aja.

Masih ada beberapa tema yang harus ditulis. Tapi jaannnn, aku berperang melawan diriku sendiri. Melawan rasa malas. Aku hampir jatuh dan memang tersering jatuh. Aku tak kuasa menahan kemalasanku. Padahal besok sudah mau pulang Jepara, so harus tuntas dong pekerjannya.

Mas Hasan memotivasi Anak Penjual Tissue supaya ia tidak berhenti belajar. Diceritakan pula bahwa ada budayawan besar yang sering nongkrong di Bulungan, Anak Penjual Tissue barangkali bisa belajar dari budayawan yang hidupnya penuh kesederhanaan itu. Mas Mukhtar, Bu Zakiyah dan Mas Hasan memberi sejumlah uang kepada Anak Penjual Tissue.

Lalu kami memintanya supaya ia mendekat ke gerombolan teman-teman kami yang berada di meja seberang. Teman-teman kami nggak ada yang berniat membeli tissuenya, si Anak Penjual Tissue pergi dan berjalan ke kerumunan lain. Sebentar kemudian, Pak Gilang memanggilnya dan membeli satu tissue dengan menyodorkan uang sepuluh ribu.

Anak Penjual Tissue itu masih berputar-putar seperti gasing. Di beberapa tempat, kami berpapasan dengannya lagi. Berulang kali Anak Penjual Tissue mengucapkan terima kasih. Katanya “terima kasih Kak” setiap bertemu pandang dengan kami. Eeaa. Terkait lagu bertemu pandang yang dinyanyikan Gita KDI, aku sering memplesetkannya ketika masih memiliki keinginan untuk belajar di negeri-negeri jauh. “Bertemu pandang, di negeri orang”. Aslinya sih begini liriknya “Bertemu pandang, hati melayang”.

Mas Hasan bertanya apa cita-cita Anak Penjual Tissue. Dijawabnya bahwa si anak pengen ngereff. Aku pun baru mendengar istilah dan maksud dari kata ngereff. Nyanyi yang agak cepat terus pake joget-joget kecil. Bukan joget sih tepatnya. Apa ya?? Emmm kayak lagu-lagunya Project-P. Itu pun kalau tebakanku tepat. Yah semacam itu. Anak Penjual Tissue itu pun ngereff di depan kami. Ada videonya kalau mau.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Pegangsaan, Jakarta Pusat
20 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s