Mendarat di Rumah

Saat mau pulang, aku merasa deg-degan sendiri mengingat statusku sebagai perantau Jakarta. Apakah aku nanti bisa menyatu dengan realitas atau justru mengurung diri dan membangun tembok yang memisahkanku dengan sekitar.

Setibaku di rumah, Mamak memperlihatkan wajah merengutnya gara-gara aku nggak segera mengangkat telepon Bapak. Kebiasaanku nggak mengaktifkan nada dering. Bikin orang lain susah menghubungi. Di rumah sudah ada banyak orang mempersiapkan haul (mendhak) Simbah Kakung pada sore harinya. Telah berkumpul Makdhe Rip, Makdhe Edi, Makdhe Ronji dan Mbahe. Aku menyalimi mereka dan menyapa Pakdhe Edi dengan sapaan “Halo Dhe”. Eh Pakdhe Edi langsung bilang “Oh gitu ya sekarang? Nggak salaman malah halo. Em Jakarta”. Sudah begitu, aku hanya nyengir dikatain sebagai orang Jakarta. Nanti akan ada banyak perkataan begitu. Para tetangga dan keluarga selatan. Maklum, baru kali ini pulang sebagai perantau di Jakarta.

Menginjak siang, tetangga berdatangan membantu. Para Bapak mengolah kambing, sedangkan para ibu menyiapkan bumbu dan lauk-pauk yang lain. Tetangga nggak mau berhenti menggodaku. Ada aja bahan godaan mereka. Aku dikira Lisa, kenapa badanku tak kunjung gemuk, tanganku yang nggak kasar-kasar karena hanya memegang pena dan blablabla. Aku merasa menjadi artis untuk sepersekian detik.

Paling ngeri ketika Makdhe Rip menyinggung masalah si garwo. Aku dianggap sebagai anak yang nggak punya belas kasihan kepada Ma’e dan Pa’e. Membiarkan mereka berdua menua tanpa seorang mantu. Barangkali menurut Makdhe Rip, aku ini anak durhaka yang nggak bisa membahagiakan kedua orang tua. Kata Makdhe Rip, “Lha ngopo emoh? saake Pakmu tambah tuwo”, dengan mimik yang melebihi serius. Aku mempertahankan diri dengan “Bukan begitu Dhe”. Aku tak mempunyai stok jawaban lagi. Mungkin nanti harus mencari ide untuk menghadapi serangan-serangan yang dilontarkan Makdhe Rip dan pihak-pihak lain.

Sebenarnya, Mamak memintaku mengaji untuk Simbah Kakung. Kusampaikan pada Mamak kalau aku jarang nderes di sini. Aku akan sangat kesulitan karena hal ini. Biar Mbak Idah yang ngaji. Aku menyimak saja. Mamak sih bertujuan supaya ngajiku lancar, selain berkomentar kenapa aku jarang nderes.

Di acara seperti ini, anak-anak Simbah bisa berkumpul secara lengkap. Makdhe Marmi dengan dua anaknya, Mbak Har dan Mbak Sol juga datang. Momen yang jarang terjadi. Paling-paling saat lebaran. Aku senang melihat Mamak dan saudara-saudaranya yang berusaha sebisa-bisanya untuk menghormati orang tuanya. Mendoakan yang terbaik.

Sejak lulus MI, aku sudah pergi dari rumah. Aku tidak mengikuti perkembangan keluarga besarku dengan baik. Hanya ketika Mamak bercerita secara singkat-singkat. Mamak bukan tipe orang yang suka bercerita, apalagi jika berkaitan dengan cekcok diantara keluarga sendiri. Aku baru tahu dari Kak Edi, ketika kami makan di warung sepulang dari rumah Mbah Abdul Manaf di Margoyoso Kalinyamatan. Iya, baru tahu. Tapi aku tak berniat mengeruk informasi lebih dalam dari Mamak. Biarlah demikian. Sama keluarga sendiri pun, manusia bisa bertengkar.

Menghadapi Mamak yang nampaknya kesal dan capek, aku mencoba untuk mencairkan ketegangan di antara saudara-saudara itu. Barangkali Mamak kesal karena 1) aku sulit dihubungi, padahal tiba di Bagor jam lima pagi adalah sesuatu yang tidak cukup aman, 2) Makdhe Ronji yang mengiris kacang panjang dengan bentuk tidak rata sehingga kacang panjangnya harus diiris satu per satu. Padahal akan ada banyak pekerjaan selain kacang panjang itu. Jadilah Mamak bad mood sendiri. Kuminta Makdhe Rip dan Makdhe Ronji untuk menuruti Mamak saja dengan mengiris kacang panjang secara bersamaan beberapa helai (sak gendel).

Ingin kutulis anak, mantu, buyut dan cicit Simbah kidul. (1) Pakdhe Jamasri, Makdhe (?nggak tahu namanya), Kak Kasan, Mbak Sri, Wawan, Aryo. (2) Pakdhe Kuru, Makdhe Gimah dan Kak Rudik. (3) Pakdhe Ronji (? alm.), Makdhe Zuriyah, a) Kak Ronji, Mbak Lin, Andi, Maya, b) Mbak Narseh, Kak Jumoyo, a.1) Yogik, Clara, Yora, a.2) Bagas. (4) Pakdhe Rip (Cipto), Makdhe Munasih, a) Mbak Ru, Kak Nur Salim, David, Iqbal, b) Kak Rip, Mbak Sundari, Galih. (5) Pakdhe Sol (?), Makdhe Marmi, a) Mbak Har, Kak Sahlan, Hamim, Kak Cilacap (?), Sheli, b) Mbak Sol, Kak Jumadi, Afif. (6) Pakdhe Tumbas, Makdhe Gatin, Kak Edi, Mbak Eva. (7) Bapak, Mamak, aku dan Lisa.

Wkwk. Ternyata aku nggak hafal semua nama Pakdhe dan Makdheku karena aku hanya memanggil Pakdhe/Makdhe+nama anaknya.

Musholla Perpusnas, Jakarta Pusat
30 Jabuari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s