Petani Desaku

Dingin, dinginnya malam ini
Tak ada yang dapat menghibur hatiku
walau burung-burung bernyanyi merdu
(Lagunya Iyet Bustami)

Di musim kemarau atau panas, kami orang desa tak pernah kepanasan. Panas sih panas, cuman masih enak dirasakan. Beda dengan panasnya Jakarta. Ketika datang ke sini bersama Debe, kesanku pada kota ini adalah kota yang berlangit suram. Tak ada cerah-cerahnya karena asap kendaraan yang membumbung tinggi. Kota yang pucat. Jakarta.

Kini sudah memasuki musim penghujan. Saat pulang ke rumah juga hujan tiada henti. Pun ketika balik ke Jakarta. Hujan sudah mengguyur desa semenjak pagi. Lisa seharusnya sudah kembali ke pondoknya pagi itu. Tapi ia pake acara dramatis segala, jadinya balik pada sore harinya.

Hujan kerapkali datang menghadang. Mamak sering mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah saat hujan. Mamak pilek. Aku yang nggak pilek aja merasa nggak enak mau ngapa-ngapain. Hawa dingin menyeruak sampai ke tulang, tak ada tempat yang hangat ketika di rumah. Dapur, kamar tidur, tempat tivi, semuanya adem nyenyep. Kecuali kalau menyalakan api di pawon dengan kayu bakar. Kita bisa menghangatkan diri di dekat pawon, apalagi sambil bakar-bakaran.

Dengan keadaan seperti itu, aku malas bergerak. Pengennya selimutan saja. Aku baru merasakan dan menghayati ucapan Kang Ndun kalau banyak dari warga desa yang enggan bergerak karena faktor alam yang teramat dingin. Dulunya kukira biasa saja, tapi bener deh, bikin orang malas. Beberapa tetangga lebih memilih tinggal di rumah dari pada bekerja di sawah. Aku jadi berpikir, bagaimana caranya mengembangkan desa yang memiliki hawa dingin tingkat dewa.

Jualan makanan sudah dicoba beberapa orang. Tapi nampaknya nggak begitu meningkat karena orang desa lebih memilih untuk memasak sendiri. Kalau beli, pengeluaran dapur meningkat tajam. Kalau hanya menuruti makan cemilan, itu juga bukan pilihan warga desa. Karena apa? Lagi sepi duit, nggak ada kata jajan dalam kamus hidup mereka. Ngabisin duit aja. So? Menjual makanan belum menjadi pekerjaan sampingan yang didamba orang-orang.

Kehidupan masih berputar pada pertanian. Pulang kemarin, mendengar cerita para petani yang jarang sekali untung. Biaya yang dikeluarkan untuk mengolah sawah membengkak. Hasil panen terkadang tak bisa menambal pengeluaran yang digunakan pada masa tanam.

Betapa rekosonya menjadi petani. Contohnya untuk menanam padi, petani harus berhitung cermat dengan segala kemungkinan. Harga bibit, bayar orang mluku dan macul (membajak sawah), bayar orang tandur, matun (menyingkirkan rumput), nyempret (mengusir hama), ngemes (memberi pupuk) dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau serangga merajai tanaman. Bisa-bisa, hasil panennya tak seberapa.

Kapan petani kita bisa sejahtera?

Perpusnas, Jakarta Pusat
02 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s