Bapakku Romantis

“Besok Jum’at kan ulang tahunmu,” seloroh Bapak di tengah aktifitasku yang sedang mengupas pisang mentah.

“Lho, Bapak kok tahu. Tak kira nggak ada yang hafal tanggal lahirku”

“Yo ngerti lah, anak e kok gak ngerti,” lanjut Mamak.

Hm… Jadi terhura. Bapak bertanya apakah mau nyembelih ayam untuk merayakannya. Kujawab nggak usah, aku nggak terbiasa dibegitukan. Miskin seremoni. Menganggap semua perkara biasa-biasa saja. Termasuk bertambahnya umurku itu. Malah aku malu sendiri kalau diadakan acara. Bapak sudah ingat saja, aku sudah bungah. Itu keromantisan Bapak yang pertama.

Aku meminta izin Lisa untuk menata buku-bukuku di lemarinya. Lisa sudah tinggal di pesantren, lemarinya kosong dan nggak ada yang menempati. Niatku, dua dari tiga lemari di kamarku kutaruh di ruang depan, tapi belum berhasil. Aku bilang pada Bapak untuk memindah keduanya. hal itu bisa-bisa aja sebenarnya tapi buat apa, nanti nggak ada yang ngurus buku-bukunya. Meski aku selalu ngeyel dan mendebat, malam itu aku baru mengerti bahwa apa yang kukeras-kepalakan adalah hal yang belum tepat. Iya ya, siapa yang akan menjaga buku-buku itu. Realistis saja, Mamak dan Bapak selalu sibuk saban hari. Aku belum menemukan jalan keluar untuk menata perpustakaan kecil-kecilan kecuali jika aku sudah pulang ke rumah. Bapak benar.

Tanpa kuminta, Bapak menata buku-bukuku di lemari Lisa, lemari yang dulunya milikku. Lemari yang dibuat Bapak sewaktu aku kelas berapa. Lemari dengan desain yang cuanggih untuk ukuran orang desa. Lemari tersebut terdiri dari dua pintu. Satu pintu untuk pakaianku dan pintu satunya terbagi empat kotak. Paling atas untul Al-Quran, kitab fasholatan, kitab Barzanji. Itu adalah kitab-kitab ngajiku di rumah Bu Subi selepas Maghrib. Kotak bawahnya untuk buku-buku pelajaran MI-ku. Aku menempel jadwal pelajaran di sisinya. Kotak bawahnya lagi untuk tas dan yang paling bawah untuk sepatu dan sandalku. Kotak Al-Qur’an dan kotak sepatu memiliki ukuran yang lebih kecil dibanding kotak buku dan tas. Duh Bapak, aku sayang padamu.

Bapak mengelompokkan buku-buku sesuai besar kecilnya. Sebenarnya, penataan Bapak tidak rapi sama sekali. Bukunya banyak yang terbalik dan tingginya tidak rata. Aku tidak tega merombak buku-buku yang sudah dijajar Bapak meski ingin sekali untuk menatanya ulang. Wkwkwk. Aku hanya mengambil buku dari kardus dan menatanya di lemari yang satu. Pekerjaan pasang-bongkar buku itu hanya kami lakukan berdua, Bapak dan aku. Sedangkan Mamak menonton TV. Itu keromantisan Bapak yang kedua.

Untuk balik ke Jakarta, Bapak membelikanku tiket di Bangsri. Kebetulan pagi harinya Bapak mengikuti kumpulan di desa Jenggotan, jadi sekalian bablas Bangsri. Malas balik ih, apalagi hujan begitu. Aku berniat menunda keberangkatanku pada hari berikutnya. Tapi bagaimana lagi, Bapak terlanjur memesan tiketnya. Mau nggak mau, aku bertolak menuju Jakarta pada sore harinya.

Bapak ini laki-laki, kalau nggak laki-laki ya bukan Bapak, tapi Ibuk. Maksudku, beliau ini laki-laki yang kelewat teliti dan telatennya. Mengingatkanku akan berbagai hal. Jangan sampai ada barang yang tertinggal. Bapak juga memintaku membawa pisang dua sisir. Hellooww… Ke Jakarta dengan menenteng pisang? Aku sih mau-mau aja, tapi akan sangat merepotkan ketika di jalanan. Aku akan keberatan barang bawaan. Membawa tas penuh baju, minyak goreng dua liter, sepatu besar, keripik dan cabe. Mau ditambah lagi dengan pisang? Nanti dulu deh Pak. “Buat temen-temenmu lah,” Bapak beralasan.

Lisa saat itu pulang dari pesantrennya. Hari sabtu pagi harus kembali ke pondok karena sekolah. Eh ketika Bapak sudah siap dengan segala atributnya, Lisa uring-uringan dan ngambek. Nggak mau makan, nggak mau dibawakan jajan, malas-malasan di kamar. Lisa mandi dan memakai seragam pondoknya, lalu mematung di dekat motor Bapak. Tiba-tiba tasnya dilempar dan menangis. Mungkin ia belum rela balik pondok, apalagi ada aku di rumah. Pasti hatinya berat meninggalkan rumah.

Lisa mewek, membuat rencana Bapak buyar seketika. Kalau Lisa mau balik ya cepet, kalau belum mau balik ya sana balik ke rumah. Bapak kan padet jadwalnya, mau mengambil rumput di sawah. Jadinya Lisa membolos sekolah, hal yang nggak pernah kulakukan selama sekolah di Mts. Kalau kupikir-pikir, kenapa aku terlalu rajin saat itu? Jadinya kan nggak pernah merasakan sensasinya menjadi murid yang agak bandelan dikit. Membuat hidup ini datar-datar aja, sedatar lapangan atau bandara.

Pada sore harinya, Lisa baru mau balik karena aku juga balik Jakarta. Aku dan Lisa diangkut Bapak dengan motor merahnya. Lumayan, nggak desak-desakan seperti motor-motornya yang lalu. mendung menyelimuti hari-hari kami, termasuk sore itu. Baru jalan sebentar, gerimis mulai merayap ke bumi. Kami turun di Gili Kembang dan mengenakan jas hujan. Kami melanjutkan perjalanan dengan penuh perjuangan.

Satu motor diisi kami bertiga, tasku, tas gendong Lisa, plastik baju Lisa dan kardus jajanku. Kami berusaha bagaimana kami dan barang-barang kami aman dari sentuhan hujan. Nyata-nyatanya, aku masih terkena air hujan. Celanaku basah separo. Di bis, aku menahan diri dari dingin dan dingin. Bagaimana nggak kedinginan dengan celana basah begitu. Yang penting aku nggak sampai pipis di celana aja. Wkwk.

Aku menyalimi Bapak dan Lisa. Bis merambat dengan pelan. Sampai di Cobaan, hapeku berbunyi. Ternyata dari Bapak. Bapak merasa sangat gelo karena uangnya belum dikasihkan padaku. Ya Allah Pak, aku tak pernah berpikir untuk meminta sangu darimu. Tapi Bapak tetap memikirkan hal itu. Kusampaikan padanya bahwa aku sangat tidak apa-apa Pak. Kan aku sudah dikasih uang saku orang se-Indonesia. Ini sisi keromantisan Bapak yang kesekian kalinya… terlalu sering beliau memperhatikan hal terkecil dalam hidupku.

Mengenai persanguanku, Bapak meminta Mamak dan Lisa untuk tidak mengutik-utik sanguku. Biar uang yang kudapat, kupakai sendiri. Urusan Mamak dan Lisa akan ditangani Bapak sendiri. Aku tahu hal itu dari Mamak. Makanya Lisa takut banget ketika aku mengirimnya uang, takut dimarahin Mamak. Padahal Mamak hanya menyampaikan pesan Bapak. Bapak paling tidak mau merepotkanku, padahal aku sama sekali tidak merasa direpoti. Di usianya yang hampir memasuki angka 50, harusnya beliau sudah bersantai-santai saja. Tidak bekerja-keras terus-menerus. Justru kini Bapak semakin bekerja-keras. Aku semakin merasa bersalah belum bisa membantu Bapak.

Iseng-iseng aku bertanya pada Mamak, apakah orang yang berumah-tangga itu nggak merasa bosan dengan pasangannya. “Nek nggak ono malah golek-golekan,” jawab mamak. Artinya, kalau nggak ada malah saling mencari.

Asrama NU, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
04 Februari 2017

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Yaso says:

    Tulisan yang bagus. Setelah baca ini, lsg melirik ke Bapak saya dan terharu sendiri 😭

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih telah berkunjung Kak. Bapak-bapak kita memang orang-orang hebat dengan segala kesederhanaannya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s