Transkrip, Alat Rekam dan Wawancara

Mengenal transkrip sejak ditawari Mbak Afi untuk mengalih-tuliskan hasil wawancara dengan beberapa peserta demo. Mbak Afi diajak bu Ani melakukan penelitian. Bu Ani adalah dosen Psikologi UNU dan menjadi peneliti UI. Aku menerima tawaran tersebut. Setiap satu wawancara, dibeli dengan harga 100ribeng. Lumayan sih kalau lagi nggak punya duit. Tapi kalau lagi ada duit, males banget karena telinga ini sampai budeg.
Sehari semalam mentranskrip, aku langsung neg melihat laptop dan alat perekam.

Terlepas dari ke-enegan yang ditimbulkan saat proses transkrip, aku bisa belajar banyak hal. Oh ya, transkrip menurut KBBI adalah salinan. Jadinya aku menyalin rekaman suara ke dalam tulisan. Melakukan wawancara seperti itu, ternyata kita bisa mengetahui detail dari setiap persoalan yang terkait. Misalkan masalah demo empat November, aku bisa mengetahui bahwa setiap pendemo memiliki kekomplekkan dalam pola berpikirnya. Dan itu sungguh menarik. Kita bisa mengorek informasi secara mendalam.

Aku juga belajar bagaimana membahasakan bahasa lisan ke dalam tulisan. Setiap ucapan atau pernyataan, ketika ditulis secara persis, akan menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Kalau mendengar langsung rekaman suara, kita bisa mengidentifikasi berbagai penekanan suara. Penekanan-penekanan tersebut tidak akan kita mengerti hanya dengan membaca hasil salinan. Lalu, bagaimana pula kita menterjemahkan setiap tekanan suara di dalam bahasa tulis. Itu tergantung kelihaian pentranskripnya. Bisa juga dengan menarasikan sesuai bahasa tulis. Artinya, pengalih melakukan proses penerjemahan dan penafsiran. Namun, di sisi lain, hal itu membuat transkripnya tidak orisinil lagi. Dilematis dah.

Kata Adha, kalau menjadi transkriptor untuk kementrian atau PBNU, duitnya lebih banyak lagi. Aku pernah ditawari mau dikenalkan ke temannya yang suka nranskrip. Tapi aku terlanjur jenuh dan bosan, jadi aku enggan. Hahaha. Nanti lah kapan-kapan.

Alat utama dalam nranskrip adalah alat rekam. Mbak Afi meminjamkan recordernya padaku. Aku mulai menaruh rasa senang terhadap alat ini karena kita bisa mengulang-ulang materi yang direkam. Recorder sangat membantu ingatan kita. Terkadang kita lupa pada suatu bagian, kita tinggal memutar kembali alat rekam. Mudah kan? Selain itu, kita bisa memiliki data dari suatu peristiwa. Ini terkait pengarsipan. Di era laten hoax, data menjadi alat yang canggih untuk menangkalnya. Dan data tersebut tersimpan rapi di dalam benda kecil yang tidak sepesar hape pintar. Praktis dibawa kemana-mana. Senjatanya para wartawan. Aku jadi pengen beli.

Lalu aku berpikir, kenapa media mengolah data yang diperolehnya sedemikian rupa. Mengapa tidak menampilkannya secara apa adanya. Data mentah. Kalau direkam kamera ya tinggal diaplod videonya. Kalau diabadikan suaranya saja ya aplod mp3nya. Kalau mau dibahasatuliskan ya kasih salinan aslinya. Tanpa ditafsirkan lagi. Biar publik yang membaca dan menafsirkannya. Kalau media mengambil sudut pandang tertentu, seolah peristiwa sudah dimodifikasi dikit-dikit. Tergantung ideolagi dan kepentingan medianya. Ngeri kan??

Mas Abah pernah memintaku latihan wawancara kepada salah seorang penatar di luar pulai Jawa. Hanya saja, aku belum tahu penataran itu jenis perkara apa. Juga Mas Abah mendadak dan tiba-tiba. Aku belum persiapan. Aku diminta mewawancarai Mas Erwin kolektor manuskrip. Eh Mas Erwin nggak kelihatan di acara ngaji sejarah sesi III, jadinya aku mewawancarai Pak Agus Sunyoto, ketua LESBUMI yang menulis buku Atlas Walisanga.

Oh…. wartawan-wartawan itu mencari berita sesuai apa yang dimauinya. Ketika media ingin memperoleh informasi A, ia akan mengejar informasi tersebut sampai dapat. Kalau di acaranya nggak keluar atau nggak muncul, mereka akan mendatangi tokoh tertentu dan memintanya berpendapat mengenai perkara tersebut. Dunia jurnalistik ternyata ngeri-ngeri sedap. Bagaimana memposisikan idealitas seorang wartawan. Biarlah, aku hanya belajar mencari data, mengolah data dan menuliskannya. Persoalan “perasaan”, biar kupelajari sendiri. Akan ada banyak tanya di kepala terkait ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dunia ini. “Ulala,” kata Mbakyu Syahrini.

Selepas acara, aku mendekat ke arah Pak Agus Sunyoto. Aku belajar menata bahasa lisanku supaya artikulasinya jelas dan bisa dimengerti. Sebelumnya, aku menyaksikan bagaimana Mas Abah mewawancarai Pak D. Zawawi Imron. Pertanyaan-pertanyaan Mas Abah mengalir dan runtut, nggak terburu-buru. Mas Abah terus-terusan bertanya bagaimana perasaan Pak D. sebagai orang NU. Tapi nampaknya Pak D. berbicara dalam konteks yang lebih luas, sebagai orang Indonesia. Anak yang dilahirkan dan dikuburkan di dalam bumi Indonesia. Wkwkw. Pertanyaan Mas Abah nggak kejawab deh.

Aku juga belajar bagaimana jurnalis-jurnalis lain mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan itu sangat asyik, belajar langsung. Aku bertanya apakah Islam Nusantara hanya milik orang NU dan orang Jawa? Selama ini, Islam Nusantara dikesankan demikian, bagaimana penjelasannya bahwa Isnus tidak hanya garapan Orang NU yang hidup di Jawa? Gitu aja sih.

Kemudian aku bertemu Wiwi dan Aru, bersalaman dengan mereka. Wiwi kuajak untuk mendatangi Pak Erwin. Pak Erwin duduk di dekat toilet. Setelah kami datangi, beliau berdiri dan mempersilakan kami untuk melancarkan beberapa pertanyaan. Beliau masih ingat wajahku dan bertanya apakah aku ini yang bertemu di Perpusnas. “Iya Pak,”, jawabku.

Dari proses wawancara, aku belajar bagaimana menyusun alur berpikir dan alur bahasaku. Terutama, aku berlatih untuk berani menghadapi orang-orang. Selama ini, aku masih menjadi orang yang agak penakut gitu. Yaudah sih. Sipp! Lanjutkan!

Dengan wawancara, kita juga bisa mengetahui hal-hal baru yang sebelumnya belum kita ketahui. Itu asyiknya jadi wartawan atau jurnalis. Kalau jurnalis entertainment, mereka menjadi pihak pertama yang menonton film-film yang baru dilaunching. Keren kan?

Asrama Nahdlatul Ulama, Jakarta Pusat
04 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s