Aku dan FPI Bersaudara

Entah bagaimana cerita bermula, aku menjadi pihak yang membentur-benturkan dua perkara. Terjadi ketika aku masih sekolah di Jogja. Eh, sekarang pun masih suka menghadap-hadapkan sih. Setiap online, waktu itu, aku selalu mampir di websitenya Jaringan Islam Liberal. Tulisan-tulisannya kukopi, kupaste di word dan kusimpan di folder dengan nama “Olahraga Pikiran”. Maksuttnyaa??

Di kepalaku, hanya ada istilah radikal-fundamental-ekstrimis-masa lalu VS liberal-moderat-tercerahkan. Seolah hidup ini hanya ada urusannya kelompok fundamental yang membendung kelompok sampingnya, liberal. Atau bahkan sebaliknya. Dan tiba-tiba, aku memasukkan diriku pada golongan liberal. Terutama ketika ketemu buku kumpulan tulisan Mas Ulil. Hm… aku benar-benar terkesima dan kaget. Kok ada ya tulisan seperti itu. Rasanya seger dibaca.

Lalu, aku mengambil jarak dengan buku-buku yang berseberangan dengan pemikiran JIL. Tentu “berseberangan” menurut definisiku sendiri. Buku-buku terbitan penerbit Gema Insani selalu mental dan mentok di depan kepala. Aku nggak bisa menerima gagasannya. Bukan nggak menerima sih tepatnya. Hanya aku sudah memberi diriku jarak dengan buku-buku semacam itu. Setiap membaca, aku langsung meragukannya dan nggak percaya sama sekali. Kusepelekan dan kupreti (prett). Aku tidak membantah argumen dengan argumen. Aku menolak buku hanya karena diterbitkan salah satu penerbit.

Aku juga mencarikan teman dan lawan bagi masing-masing pihak. Misalkan di pihak Mas Ulil, ada Pak Lutfi Assyaukani, Pak Nong Darol Mahmada, Pak Novriantoni Kahar dll. Sedangkan di kubu Gema Insani ada Pak Adnin Armas, Pak Adian Husaini dkk. Rasa-rasanya, hidup hanya ada pertarungan kedua kubu tersebut.

Beberapa temen sinis dengan buku yang kubaca. Mereka mewanti-wanti supaya aku nggak ikut-ikutan liberal. Kemudian aku mengeluhkan bahwa temanku ini belum baca bukunya, kenapa sudah memberi penilaian duluan. Ternyata aku juga sama dengan mereka. Aku menilai buku-buku kanan sebagai buku yang tidak layak dibaca tanpa aku membacanya terlebih dahulu. Mungkin yang terjadi saat itu dan saat ini hanyalah kesalahpahaman-kesalahpahaman. Seperti yang dikeluhkan Pak Alex, kita ini membuat definisi sendiri lalu mengkritiknya sendiri.

Sampai skripsi pun, aku berusaha mengambil tokoh yang termasuk tokoh liberal menurut Charles Kurzman (entah tulisan namanya seperti apa), yaitu Muhammad Talbi asal Tunisia tentang Ummat Wasathnya. Dua variabel yang sama-sama liberalnya. Alasannya karena aku memang gandrung dengan pemikiran begitu. Sedangkan alasan akademiknya, nyusul aja belakangan. Alasan kan bisa dicari. Termasuk dalam menulis skripsi.

Cara pandang yang berhadap-hadapan masih sering kupakai ketika melihat ormas-ormas keagamaan saat ini. HTI, FPI, dkk adalah kelompok liyan bagiku. Mereka berbeda denganku. Aku selalu diarahkan untuk melihat sisi-sisi negatif dari kelompok itu. Alam bawah sadarku langsung menolak ketika melihat identitas FPI misalnya. Padahal, di Jakarta ini, FPI adalah kehidupan yang tidak berjarak jauh denganku. Beda ketika dulu hanya melihat aksi-aksi FPI dari layar TV.

Kemarin malam Senin, aku datang ke rumah salah satu teman di Menteng, acara haul. Salah satu keponakannya, memakai peci bertuliskan “FPI”. Seketika aku membatin “Ih, apa-apaan sih FPI??”. Intinya, aku belum bisa menerima kehadirannya di muka bumi ini. Padahal, aku sudah mendengarkan sendiri beberapa peserta demo yang diwawancarai salah satu teman. Alasan mereka tidak hitam atau putih. Semacam struktur pemikiran yang sudah tertata rapi, berkait dengan banyak unsur.

Di acara Kenduri Cinta malam ini, hadir beberapa pengurus FPI. Diantaranya adalah ketua HILMI (Hilal Merah Indonesia, salah satu divisi FPI yang bergerak di bidang sosial). Sebelumnya, Cak Nun sudah ngendiko “Takbir!” beberapa kali. Perkataan “Takbir!” adalah perkara sensitif di kalangan FPI. Habib Ali mengaku bahwa “Takbir” adalah pertanda kehidupan di wilayahnya. Di kelompok lain, barangkali merupakan ujaran yang tidak berefek apa-apa. Tapi tidak di FPI. Mungkin sama dengan “Shollu ‘ala an-Nabiy” di kalangan Nahdliyyin. Ungkapan yang sama-sama sensitifnya. Betapa hal ini yang belum pernah kusadari sebelumnya. Aku hanya nyinyir saja saat ada yang bilang “Takbir!”.

Habib Ali bercerita bagaimana beliau bergabung dengan FPI pada tahun 2008. Ada hal-hal yang membuatnya berpikir macam-macam. Dengan segala macam dinamika FPI, pro-kontra serta kekurangan dan kelebihan. Yang terjadi, apa yang diberitakan media selalu bias. Segala kasus, kenapa dilarikan ke Habib Rizieq? Kalau FPI dibubarkan, apakah lantas bubar? Sementara masih ada orang-orangnya dll. Sebenarnya, Habib Ali juga tidak terbiasa dan luwes ketika mengucapkan “Takbir!” karena beliau menangani sosial. Pengakuan seperti itu menjadi kelucuan tersendiri dan tiba-tiba merasa bahwa FPI tetaplah saudara kita. Selama ini, aku nggak pernah menyatakan bahwa FPI adalah musuhku secara terang-terangan. Hanya saja, aku nggak merasa berkawan baik dengannya. Wkwkwk.

Mereka berbuat menurut apa yang dinilainya baik. Begitu juga dengan kita. Terlepas dengan tunggang-tunggangan politik lho yaa.

Habib Ali juga bilang bahwa kita (FPI dan Jama’ah Ma’iyah) sama-sama digerakkan oleh hati. Kalau hati sudah bicara, logika kadang nggak bisa sampai. Malam tadi, hujan berkali-kali turun dan reda. Orang-orang menaikkan terpal ke atas kepala mereka, terpal yang semula menjadi alas duduk. Kami merapatkan barisan ke depan panggung. Begitu reda, kami mundur, menggelar terpal dan duduk lagi. Hujan mengguyur, angkat terpal lagi. Tak banyak yang berniat untuk meninggalkan pengajian.

Orang-orang secara kalem menghadapi hujan, tidak berteriak atau lari-lari. Sewajarnya saja. Hanya melakukan hal yang semestinya dilakukan. Kalau hujan ya tinggal payungan, jangan manja. Ilustrasi ini bisa menggambarkan apa yang terjadi di tubuh FPI ketika melakukan aksi demo. Persetan dengan semua informasi kalau kita tersandera.

Habib Rizieq juga manusia biasa. Di samping kekurangannya, beliau memiliki sisi-sisi baik. Ketika di penjara, beliau mengajar. Keadaan air di sana tidak menentu. Tidak setiap hari bisa dapat jatah mandi, sehingga bau badan para tahanan tidak mengenakkan indra penciuman. Habib Ali tidak pernah melihat Habib Rizieq menutup hidungnya. Paling-paling, Habib Ali diminta mencipratkan minyak wangi ketika Mahallul Qiyam.

“Saya senang diundang ke acara ini. Saya merasa memiliki saudara. Saudara-saudara kita yang demo juga seperti kalian semua.” lanjut Habib Ali. Berulang-kali Habib Ali mengatakan bahwa Habib Rizieq dan kawan-kawan FPI adalah manusia biasa seperti kita.

Cak Nun menjelaskan bahwa apa yang terjadi saat ini, orang-orang sulit untuk berpikiran jernih. Orang yang suka kelapa, kenapa bathoknya ikut dikrokoti? Itu karena sudah terlalu cinta. Kalau terlalu benci, semuanya ditolak. Cak Nun mengajarkan kita bagaimana caranya kita bisa bersikap secara adil, berpikiran secara adil. Dengan begitu, kita bisa memposisikan diri kita. Menjadi orang yang jernih. Bisa mengambil sikap. Tidak bingungan.

Bagaimana pun, kita hidup di zaman yang serba salah. Cak Nun menggambarkan ibarat kita sedang berjalan di atas rambut yang dibelah tujuh. Begini jatuh, begitu jatuh.

Jadi teringat Gus Nang yang menerangkan beberapa hal ketika aku sowan boyong. Meski tidak sependapat dengan Wahabi, beliau tetap mengambil apa yang baik dari Wahabi. Gus Nang bersinggungan banyak dengan Wahabi ketika beliau kuliah di Lipia. “Ambillah yang baik,” kira-kira demikian pesan Gus Nang. Karena jika hanya ada warna hitam dan putih, hidup kita akan sangat sumpek dan sempit.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
11 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s