Penghubung

Belajar dan bergelut dengan buku, membuat seseorang pinter dan tahu, berpengetahuan. Tapi belum tentu pinter hidup. Sedangkan untuk menjadi orang yang luwes dalam menjalani hidup, diperlukan ilmu-ilmu lain. Ilmu yang tidak hanya diperoleh melalui buku, seminar, diskusi dan kajian ilmiah. Inilah ilmu kehidupan yang terbentang di hadapan kita. Realitas sebenarnya. Keadaan apapun yang harus kita cintai.

Kadang aku merasa berjarak dengan realitas sosialku. Kehidupan akademikku memiliki jurang yang teramat curam dan dalam dengan kehidupan sehari-hariku. Sebagai ilustrasinya, akan kucoba untuk kuuraikan.

Hidupku di Jakarta. Kuliah dua hari dalam seminggu, datang ke Cak Nun, datang ke acara-acara, ke PBNU, ke perpustakaan, menulis, membaca, ngajar bocil-bocil, ke pasar, tidur, nyuci, nyetrika, bersih-bersih asrama. Hidupku berputar pada kehidupan penuh ilmu. Cieeee, padahal tidur mulu. Gaya temen. Setidaknya, aku merasakan bahwa apa yang kujalani di sini adalah kehidupan semu. Kehidupan yang masih tertutup oleh hijab-hijab diriku sebagai manusia. Seolah aku berada di ketinggian, dan aku ingin sekali turun, menginjakkan kakiku di bumi. Tidak hanya awang-awang penuh bayang. Abstrak.

Sedangkan di rumah, cuma bersih-bersih rumah. Kalau mau, aku bisa ikut Bapak mencari rumput, membersihkan kandang ayam dan kambing, memperhatikan kehidupan kambing-kambing yang digembala Bapak, menemani simbah, dll. Aku masih bertanya-tanya bagaimana supaya hidupku bisa memberikan sedikit manfaat dalam kehidupan orang lain. Aku semakin tidak tahu apa-apa yang selama ini menjadi kehidupan asalku, desa dan pertanian. Aku sangat awam dan tidak tahu kapan harus menanam padi, menanam jagung, memberi pupuk, menyingkirkan rumput, memberantas hama, dan lain-lain.

Itu baru pekerjaan sawah. Belum istilah-istilah benda pertanian. Aku tidak tahu banyak. Aku tidak berdaya dan memiliki tenaga yang cukup untuk bertahan di sawah dalam waktu yang lama. Aku tidak bisa berada di sawah seharian. Gampang capek, atau mungkin tidak terbiasa. Mentok-mentok setengah hari. Pagi berangkat, Dzuhur sudah harus pulang karena bosan. Aku pernah berpikir, bagaimana nasib sawah-sawah Bapak kalau aku dan adikku tidak bisa diandalkan.

Maksudku, Bapak dan petani lain di desaku adalah pahlawan negeri ini. Sungguh, ini bukan hanya sekedar buat pantas-pantasan. Kalau kami para kaum muda desa tidak bisa meneruskan perjuangan para tani, bagaimana pergerakan hasil bumi bisa tetap berjalan dan berputar? Dari petani ke tengkulak. Dari tengkulak ke masyarakat umum. Kalau dari sumber pertama, petani tidak lagi menggarap sawah, apakah suplai beras ke berbagai daerah bisa merata? Aku tak yakin.

Makanya tolong dan tolong, hargai petani dengan membeli hasil tanamnya secara layak. Juga mengenai pembangunan pabrik yang terus-terusan dilakukan, coba pikirkan kembali. Alam akan marah kalau kalian berbuat sekenanya. Pabrik semen di Kendeng, bubarkan!!! Ngawur aja kalau berkehendak. Sekarep-karepmu dewe. Kalau semua kau tanami bangunan, bisa-bisa kalian akan bergontok-gontokan, berdarah-darah gara-gara merebutkan sebutir nasi. Apa kalian mau seperti itu?? Apa gunanya duit banyak kalau nggak ada yang dapat dibeli, bahkan hanya beras yang sekarang sedang kau remehkan.

Lho. Lho. Kok jauh banget. In nggak apa-apa, namanya juga orang curhat. Ya ngalor-ngidul gini deh. Lagian nggak ada yang melarang. Santai wae.

Jembatan. Oh ya, jembatan. Penghubung. Titik yang mempertemukan antara dua hal yang awalnya tidak bertemu. Belajar Islam Nusantara, keilmuan yang masih sangat muda. Kalau manusia, mungkin belum TK. Aku tidak sedang ngeles, hanya minta permakluman-permakluman sedikit, nggak banyak. Wkwkwk. Nggak beda sih tujuannya. Jenis ilmu yang bisa mengantarkan kita untuk menelusuri jejak-jejak zaman, watak dari moyang kita. Ketika sudah mengetahui watak dasar, kita bisa mengenali diri sendiri yang sebenarnya tidak berbeda jauh dari moyang kita. Kan kita memiliki gen dari mereka.

Istilah Islam Nusantara menjadi sensitif ketika NU mengusungnya menjadi tema besar ketika Muktamar ke-33 di Jombang. Istilah yang debatable, bisa diperdebatkan oleh orang se-Nusantara karena semua orang memberikan definisi sendiri-sendiri. Islam Nusantara dipahami sesuai dengan apa yang dimaui, lha karena mereka kaget dan shock terhadap definisi yang dibuat sendiri, mereka mengkritiknya. Lalu, yang disalahkan tetap Islam Nusantara.

Misalnya ada orang yang bilang bahwa Islam Nusantara adalah madzhab baru. Orang ini ngeyel bahwa Islam Nusantara adalah sesat karena madzhab baru. Orang tersebut mendefinisikan Islam Nusantara berdasarkan seperangkat pemikiran yang telah tersusun dalam kepalanya. Anehnya, mereka mengkritik definisi tersebut. Siapa sih yang bilang kalau Islam Nusantara madzhab baru. Nggak ada kali, kecuali mereka sendiri. Lucu banget kan??

Kemarin aku menulis berita dengan judul “Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa”. Hasil wawancaraku dengan Pak Agus Sunyoto. Di acara Ngaji Sejarah Sesi Tiga, Pak Agus Sunyoto hanya menyatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah Madzhab baru. Kemudian aku mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian menjadi judul berita tersebut. Pertanyaan yang mengarah karena kemauan dari yang bertanya.

Tulisanku diedit Mas Abah dan diterbitkan di NU Online. Kucek seberapa orang yang membacanya. Tetap ada perdebatan, bahkan di kalangan internal NU sendiri. Apalagi di kalangan luar, tentu perdebatannya semakin sengit. Aku mencoba mencari simpul-simpul dari perdebatan itu. Selama akademisi Islam Nusantara tidak turun gunung dengan mempublikasikan percikan-percikan ide dan semangat Islam Nusantara, kesalahpahaman orang-orang semakin menjadi-jadi. Apa yang dipelajari dalam rangka membangun fondasi keilmuan Islam Nusantara, harus diberitakan ke penjuru dunia. Kalau tidak, wacana Islam Nusantara akan direbut oleh kalangan-kalangan tertentu. Paahal kita tahu sendiri, para pengkaji atau scholar dianggap sebagai pihak karena berbicara berdasarkan fakta dan data.

Seandainya Islam Nusantara ditafsirkan dengan katanya dan katanya, maka tinggal nunggu kehancurannya sahaja. Di sinilah, pentingnya sebuah media untuk menyalurkan informasi, wacana dan setitik ilmu islam Nusantara kepada publik, masyarakat luas. Konten beritanya didapat dari mana? Ya dari dialektika yang terjadi di kalangan akademisi. Diskusi dan berbagai macam kajian lainnya. Bisa juga dari ruang-ruang kuliah. Sementara itu, dinamika Islam Nusantara di kalangan kampus, dalam hal ini STAINU Jakarta, sangatlah kompleks. Kalau tidak diceritakan, siapa yang tahu?

Meski masih dalam tataran ide, wacana dan keilmuan, setidak-tidaknya sudah ada penghubung antara akademisi dengan masyarakat umum. Sedangkan dari masyarakat umum menuju praktek-prakteknya, harus ada yang menghubungkan lagi. Entah masyarakat umum itu yang menjadi pelaku dari kesejarahan, proyek dan nilai-nilai dari Islam Nusantara. Islam Nusantara memang memiliki banyak gawe. Diantaranya mencari dan menyulam sejarah Islam di Nusantara, counter terhadap globalisasi yang mengalir deras supaya identitas kita tidak terkikis dan sebagai perwujudan dari Islam yang penuh kasih kepada alam.

Dengan peta tersebut, kita bisa berbagi tugas. Kalangan akademisi sebagai penyulam dan pencari jejak-jejak sejarah Islam di Nusantara. Masyarakat umum termasuk akademisi sebagai model percontohan masyarakat yang ramah dan penuh santun. Juga bisa membawa diri dalam menghadapi dunia global. Membayangkan hal ini, aku bahagia. Dimana keilmuan tidak hanya menjadi pembicaraan kaum elit saja. Tapi kita semua, warga Indonesia bergandengan tangan dan berbiacara dengan lantang bahwa “inilah kami, Islam Nusantara, masyarakat Indonesia.”

Lagi-lagi kita semua harus bertahan dan bersabar karena Islam Nusantara adalah perjalanan yang panjang. Hasilnya belum bisa kita rasakan saat ini. Kita baru menanam benihnya, belum tahu kapan harus memanennya. Kamu baru menyiapkan fondasi sebuah bangunan, belum tahu kapan bisa menikmati bangunannya. Aku merasa begitu hidup. Wkwkwk. Emang selama ini nggak hidup?

Bukan begitu, tulisan-tulisan yang sangat sederhana ini semoga bisa menjadi salah satu dari material bangunan Islam Nusantara. Entah menjadi semen, pasir, air, kapur, batu-bata atau batunya. Semoga.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s