Adikku Lisa

Aku dan Lisa terpaut jarak 11 tahun. Aku memiliki adik ketika kelas enam MI, menjelang Ujian Akhir Sekolah. Saat Mamak hamil, aku malu karena para tetangga menggodaku dengan bilang “cie sing ape ndue adhi.” Sedangkan aku nggak suka menjadi pusat perhatian. Kalau ada ibu-ibu yang bilang demikian, tentu yang lain akan ikut menengok ke arahku. Hal itu biasa terjadi ketika kami sedang berkumpul dan bermain.

Orang-orang tua ngerumpi, sedangkan anak-anak kecil bermain di halaman rumah. Jadi kangen masa-masa itu. Masa dimana para orang tua turut mendampingi anak kecil yang bermain. Dengan dampingan, kami merasa termotivasi saat bermain. Orang tua akan ikut menyoraki ketika ada pertandingan Tampel, Gobak Sodor dan permainan lain yang membutuhkan banyak personil. Orang tua hanya perlu duduk-duduk di teras sembari menyaksikan kami bermain.

Lisa baru berusia beberapa bulan ketika aku harus meninggalkan rumah karena mondok. Mamak tidak ikut mengantarkan aku ke pondok karena Lisa masih bayi. Aku diantar Bapak. Kami menumpangi angkutan desa dan turun di jalan Pasar Bangsri. Kemudian Bapak mengangkat koperku sampai pondok.

Aku tidak banyak bersentuhan dengan Lisa karena aku intensif berada di rumah selama 11 tahun. Sedangkan 13 tahun selebihnya kuhabiskan waktuku di kota orang lain. Bahasa terharunya adalah merantau. Meski demikian, aku sering merasa bangga melihat perkembangan Lisa yang terasa sangat cepat. Bayi, balita, TK, MI dan Mts. Lisa pun menjadi sosok remaja yang lumayan membanggakan. Meski tidak suka dengan anak kecil, sebenarnya Lisa anak yang baik. Sudah mengerti beberapa perkara yang harus dilakoni sebagai remaja penghuni bumi. Wadaw!!!

Lisa sering menelfonku, bertanya ini-itu. Mungkin ia sedang meminta pertimbangan terkait hidupnya di pesantren. Tidak jauh dari pertanyaan seputar pondok dan sekolah paginya. Lisa juga menjadi anak yang mudah menampakkan rasa kasihnya kepada orang tua. Suatu perkara yang tidak kupunya. Lisa sangat perhatian terhadap Mamak, selalu sigap ketika Mamak memanggilnya, dll. Intinya, Lisa adalah anak idaman para orang tua. Lisa bisa bercerita apa saja mengenai hidupnya kepada Mamak. Perkara kedua yang nggak kupunya.

Sebagai perbandingannya, aku adalah anak yang jaim dan malu kalau sampai termehek-mehek di hadapan orang tua. Aku ingin dikesankan sebagai anak yang mandiri dan kuat. Sebenarnya ingin perhatian, tapi untuk mengungkapkannya itu, aku tidak bisa. Pun mengenai hidupku, aku jarang sekali bercerita kepada Mamak. Mulai masalah ekonomi, makan, teman, wong lanang, kampus, dosen-dosen dsb. Dari dulu pun, aku tak pernah bercerita mengenai guru-guruku di pondok. Semuanya kusimpan sendiri. Aku hanya tidak ingin dikasihani Mamak. Mamak memang suka kasihan padaku.

Mungkin ketika di Bangsri, aku tak ingin membebani orang tua, sehingga aku tidak pernah bercerita apapun kepada mereka. Alasannya karena hidupku penuh keterbatasan. Meski tidak melulu soal kesedihan, batasan antara keterbatasan dengan kesedihan sangat tipis. Untuk memiliki mukena, buku, baju dan sepatu, aku harus menabung beberapa bulan. Aku tidak mungkin meminta hal-hal itu kepada Mamak karena untuk membayar Syahriah dan SPP sekolah saja, orang tuaku sudah pontang-panting. Hutang sana-sini.

Aku tidak bisa jajan saban hari. Mungkin seminggu sekali, ketika habis olahraga. Itu pun Cuma seribu. Jajan adalah hal yang jauh dengan kehidupanku. Di Aliyah pun begitu. Ketika teman-teman lain makan di warung, aku entah ngapain saat itu, yang jelas tidak jajan. Aku senasib dengan Encop. Aduuuh, kalau diceritakan kok ngenes banget ya hidupku. Aku aja sampai terharu dan ingin mewek. Wkwkwk.

Karena tidak jajan sudah menjadi tradisi, kebiasaan atau habbit, sampai saat ini pun aku jarang jajan. Yang penting makan nasi dan kenyang. Jajan yang kumaksud adalah makanan sampingan, cemilan yang dimakan tidak dengan tujuan untuk mengenyangkan. Hanya karena suka memakannya saja. Mamak bahkan lebih parah lagi ketika mengenang masa-masa sulit ekonomi keluargaku pas aku seusia Lisa kini. Kalau Lisa dikirim jajanan dan uang yang cukup, aku tidak. Mamak bilang kalau beliau gelo dan sepertinya merasa bersalah. Wkwkwk. Kalau sudah bercerita, beliau berkaca-kaca. Kenapa hidupku tidak semakmur Lisa.

Dari situ, aku meraba-raba dan menebak penyebab yang membuatku sulit bercerita apapun kepada Mamak. Awalnya karena takut membebani, selanjutnya karena aku menjadi nggak terbiasa bercerita sehingga bingung bagaimana untuk memulainya.

Kembali ke Lisa. Saat pulang kemarin, Lisa dijemput Bapak dari pesantrennya. Kulihat Lisa semakin santun saja. Mungkin karena efek kehidupan di pesantrennya. Mamak bercerita saat menjenguk Lisa di pondok. Mamak naik ke kamar Lisa di lantai tiga. Tepatnya di kamar baru, sebelah aula. Mamak melihat ada seorang anak yang belajar, wajahnya tidak terlihat karena tertutup buku. Mamak membatin, siapa anak itu?, saat anak-anak lain tidur siang, satu anak itu belajar sendiri, berbeda dengan anak-anak lain. Tak disangka-sangka, ternyata anak itu adalah Lisa. Mamak jadi shocking sodaa

Mamak tentu terharu. Di sisi lain, Mamak merasa khawatir kalau Lisa belajar terlalu serius, takutnya Lisa akan terbebani. Mamak bilang kepada Lisa bahwa ia tidak harus memforsirkan diri dalam belajar. Biasa-biasa saja.

Mamak bilang kalau beliau menanam pohon Mahoni untuk jaga-jaga kalau Lisa kuliah. Mamak ingin menyekolahkan Lisa dengan uangnya sendiri. Karena dalam pandangan Mamak,  jurusan yang ditawarkan donatur beasiswa, tidak terlalu keren. Mungkin Mamak belajar dari kasusku yang sekolah di Tafsir Hadits dan Islam Nusantara. Jurusan yang terlalu melangit, jauh dari angan-angan. wkwkwk.

Mamak meminta Lisa supaya ia bersekolah di SMA sambil mondok. Eh Lisa nggak mau, bahkan ia sudah memiliki pandangannya sendiri. Padahal ketika aku kelas satu Mts, kerjaanku hanya nangis-nangisan sepanjang waktu. Tidak pernah berpikir untuk suatu keilmuan atau jurusan yang ingin kuambil kelak saat MA. Lisa bilang bahwa ia pengen masuk MAK. Aku langsung ngakak seketika. Tahu sendiri lah, apa respon Mamak. Beliau geram dan sedikit kecewa. Mamak hanya perlu curhat di dalam doanya “Tuhan YME, kenapa anak-anak hamba suka pada ilmu-ilmu langit. Kenapa tidak ilmu bumi saja. Berilah petunjuk kepada mereka berdua. Minimal, satu diantaranya Engkau beri hidayah. Kembalikan pada jalan-Mu yang lurus.”

Ternyata Lisa lebih ekstrim dariku. Belum genap setahun, ia sudah berkeinginan untuk belajar di jurusan Keagamaan. Lisa mengaku kalau ia berat meninggalkan Madrasah Diniyah yang ada di pesantren. Hal-hal yang tidak pernah kupikirkan ketika aku seusianya. Mamak bercerita kalau Lisa pernah bilang kalau aku ini mungkin akan belajar lagi. “Menowo Mbak Eli ki pengen sekolah terus Mak,” katanya. Aku jadi terharu.

Sa, teruslah belajar menjadi anak yang semakin baik dan semakin baik. Aku pun sedang belajar. Kita sama-sama belajar.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Februari 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s