Buyut Girun

 

Beliau adalah salah satu orang yang sangat dekat denganku di masa kecil. Aku banyak berhutang budi pada Buyut Girun. Aku dimong, ditungguin ketika bermain, dipanggil ketika jam makan siang tiba, dimarahin karena kenakalan-kenakalan kami dan masih banyak lagi.

Aku tidak tahu nama asli beliau. Girun adalah nama anak pertamanya yang sedo. Di desaku memang begitu kalau memanggil orang. Misalkan buyut+nama anaknya, makdhe+nama anaknya, mak+nama anaknya, mbah+nama anaknya.

Buyut Girun adalah buyutnya Mbak Idha, teman kecilku. Sebenarnya yang dimong itu Mbak Idha. Tapi karena aku ini temannya Mbak Idha, makanya aku ikut dimong juga.

Ketika musim hujan tiba, beliau datang ke sekolah kami. Buyut Girun mengantarkan payung kepada kami. Istilah jawanya ngeteri payung. Sebelumnya, kami sudah murung duluan melihat hujan turun, sedangkan kami tidak membawa payung. Kedatangan Burut Girun benar-benar sesuatu yang membahagiakan, penuh solusi. Betapa kami merasa diperhatikan, disayangi dan diingat. Jangan sampai kami ini kehujanan.

Jarak antara rumah dengan sekolahan cukup jauh. Apalagi desa yang berada di lereng gunung, tentu jalannya naik-turun, curam menghujam. Bagaimana orang yang sudah sepuh jalan kaki sejauh itu?

Buyut sakit beberapa hari atau beberapa minggu, aku tidak tahu.

Kenapa aku selalu cuek kepada mereka?

Juga kepadamu, Yut.

Buyut, apalah artinya menulis ini, kalau aku tak pernah menunjukkan rasa sayangku di hadapanmu. Kenapa aku masih berbelit-belit?

 

Jakarta Pusat, 19 Februari 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s