Mbah Ledhung

 

Sewaktu kecil, aku sering berbaur dengan para simbah, orang yang sudah sepuh. Mulai dari Mbah Ledhung, simbahku, adik-adik simbah (Mbah Lis, Mbah Surah, Mbah Ibun, Mbah Mun), Buyut Kari, Buyut Girun, dan lain-lain. Terutama ketika ada tetangga kami yang memiliki hajatan. Entah itu ngunduh mantu atau nyunatin anaknya. Para sesepuh berada di sebuah ruang belakang, memasukkan nasi dan jajanan ke dalam kom atau tas orang yang buwoh. Mereka disediakan kinang, susur, apu, dan daun sirih.

Sebagai anak kecil yang kerjaannya cuma muter-muter bawa duit mengerubungi penjual mainan, sesekali aku membuntuti simbah karena Mamak sibuk mlandang. Aku nggak boleh ngributi. Jadilah aku berada di dalam grup simbah-simbah. Sampai akhirnya aku selalu antusias jika mendengar cerita yang keluar dari orang sepuh.

Sedangkan dengan Mbah Ledhung, aku memiliki kenangan tersendiri. Beliau adalah salah satu tetangga kami yang menjual jajanan untuk anak kecil. Setiap Jum’at, Mbah Ledhung ke pasar untuk kulakan barang belanjaan. Rumah beliau berada di depan sekolahan SD. Beliau menyediakan ciki-ciki untuk anak SD. Aku sendiri sekolah di MI, kalau Jum’at libur. Sepanjang pagi, kami menunggui Mbah Ledhung pulang dari pasar. Kami menunggunya di depan rumahnya. Kalau beliau turun dari angkutan desa, kami akan lari mengejar dan berebutan membawakan barang belanjaan beliau. Aku tidak tahu persis apakah aku dan teman-temanku memang anak baik, atau karena mengharap balasan dari Mbah Ledhung.

Beliau adalah pedagang yang dermawan. Aku sering membeli ceriping ketela yang dibuat beliau sendiri dengan harga seratus rupiah. Rasanya masih teringat bagaimana bentuk dan rasa ceriping Mbah Ledhung. Ketela itu dipasah dengan bentuk memanjang. Mbah Ledhung biasanya melebihi takaran ceripingnya ketika aku datang ke rumah beliau saat beliau sedang menggoreng ceriping di dapurnya. Masih terekam pula, bagaimana Mbah Ledhung duduk di dingklik, menggoreng ceriping.

Saat kelas empat, aku mulai sering—meskipun tidak rutin, puasa Senin-Kamis. Alasannya? Kecil-kecil kok sudah rajin beribadah, alim banget sih jadi anak! Tidak lain karena Pak Sukron selalu bertanya siapa yang puasa pada hari itu, hari Senin. Anak-anak yang berpuasa, akan mengacungkan tangan. Sungguh bangga rasanya ketika aku menjadi salah satu anak yang mengangkat tangan. Seakan seperti anak baik-baik, alim, solihah, dan membanggakan. Intinya, aku berbesar kepala dengan puasaku itu. Bisa dinilai sendiri bagaimana kualitas puasa anak-anak sepertiku yang jauh dari rasa tulus. Puasa hanya untuk gaya-gayaan saja. Wkwkwk

Di suatu waktu, aku puasa nyunnah. Mamak tidak puasa, beliau memasak sayur rembayung (daun kacang). Rembayung itu dikelo bening, tentu seger memakan sayur itu. Salah satu sayur yang kugemari, campuran rembayung, kacang dan labu siam. Aku akan sangat lahap memakannya tanpa nasi, bisa nambah berkali-kali. Apalagi makannya di mangkuk kecil dengan sendok yang kecil gemuk. Aku syuuka. Tiba-tiba aku diam-diam makan, eh ketahuan sama Mamak. Disuruh mbatalin nggak mau, jaim. Tapi akhirnya makan juga.

Kalau pas hari puasa, aku tidak jajan di sekolah. Sore harinya ke rumah Mbah ledhung, jajan dua ratus rupiah. Mbah Ledhung membukakan lemari tempat dagangannya disimpan. Lalu beliau bertanya apakah aku puasa. Dengan jumawa dan kepala tegak, aku menjawab, “Nggih Mbah.” Tidak perlu waktu lama, Mbah Ledhung akan menggratisiku beberapa jajanan. Setiba di rumah, aku dimarahin Mamak kenapa aku menerima pemberian orang yang sudah sepuh, tidak punya rasa kasihan. Aku hanya perlu ngeles di hadapan Mamak kalau aku hanya menerima pemberian. Apa salahnya menerima? Belaku.

Aku pernah sakit yang mengharuskanku opname di rumah sakit. Kalau tidak salah, ketika aku Mts. Mbah Ledhung datang ke rumahku dan membawakan berbagai macam jajanan. Lagi-lagi, aku suka. Tapi Mamak berusaha menolak. Eemmm, yang menang sih Mbah Ledhung. Memaksa Mamak untuk menerimanya.

Aku akrab dengan cucu-cucu Mbah Ledhung, dulu ketika masih bocah ingusan. Kak Tohar, Mbak As, Mak Zum, Mbak Zah. Pak Ma’ruf, salah satu guru favoritku, adalah putra Mbah ledhung.

Kok bisa-bisanya lebaran kemarin tidak berkunjung ke rumah beliau? Padahal kalau badan ke rumah, Mbah Ledhung memelukku dan menanyaiku ini-itu, soal hidupku. Aku sangat durhaka kepada banyak orang yang menyayangiku. Abai terhadap mereka. Semoga nanti segera liburan, dan aku pulang. Ngapunten sanget nggih Mbah. Aku ini bukan siapa-siapamu, tapi entah karena apa, njenengan mengasihiku sebagaimana engkau mengasihi cucu-cucumu.

Bahkan ketika di rumah beliau ada cucu dan cicitnya, aku langsung disambut sedemikian rupa. Mengalahkan cucu, cucu ipar dan cicitnya. Mbah, ngapunten sanget nggih. Mugi saget dolan maleh.

 

Jakarta Pusat, 19 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s