Mikoku

 

Miko adalah salah satu bocah yang pernah kubersamai ketika di Madrasah Diniyah Ali Maksum. Mungkin tahun lalu. Aku menjadi wali kelas D2 yang aduhai ramai. Abiyu, Adam, Sulthon, Miko, Ima, Asiyah, Vivia, Deny, Rozaq, Hamam, Humam dll. Aku memiliki cerita yang sangat personal dengan masing-masing bocah. Entahlah, kenapa aku menjadi orang yang sangat sentimentil jika berhadapan dengan bocah-bocah cilik.

Mengenai Miko, duh, dulu aku saban hari berantem sama doi. Mungkin, aku ini musuhnya. Pun Miko menjadi musuhku. Kami selalu beradu mulut ketika masa-masa awal kebersamaan kami. Aku yang masih amatiran dalam mendampingi bocah, ketemu sama Miko yang buandelnya minta ampun. Yang kumaksud bandel di sini adalah anak yang nggak bisa mengikuti tata kerja belajar ngaji secara wajar. Tentu aku kurang tepat melabelinya bandel atau nakal. Hanya saja, diksi ini untuk memudahkan saja dalam menerjemahkan maksudku.

Miko tidak mau mengaji, biang kerusuhan, enggan menulis dan semacamnya. Aku ini seolah sebagai guru yang tak dianggap. Jadi ingat lagu nih. “Sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa mencoba bertahan.” Selama itu pula aku mencoba bertahan dan bersabar menghadapi Miko.

Karena sama-sama labilnya, aku sering kalap dan lepas kontrol ketika menegur Miko. Ceritanya sudah pernah kutulis sebelumnya. Aku sering marah-marah dan emosi. Memperlakukan Miko dengan seperangkat peraturan. Aku tak pernah berpikir untuk mengambil hatinya. Justru aku melukai perasaan Miko terus-terusan. Padahal kalau kita sudah diterima seorang bocah, hatinya sudah berhasil kita ambil, bocah itu akan menuruti apa yang kita kehendaki.

Seiring berjalannya waktu, aku dan Miko melewati berbagai macam peristiwa. Sampai-sampai aku menjadi orang yang bisa berdekatan dengan Miko.

Kini ia naik kelas 1 Awwaliyah. Aku mendapatkan cerita dari mbak Pita. Mbak Pita juga kerap mengirimiku poto-potonya Miko. Kata mbak Pita, setiap bertemu Mbak Pita, Miko selalu bertanya apakah aku masih lama sekolah S2-nya. Berkali-kali Mbak Pita menjawab kalau aku membutuhkan 300 hari lebih untuk menyelesaikan sekolah S2. Lagi-lagi Miko mengulangi pertanyaannya. Ketika Miko mulai membuka mulutnya, Mbak Pita buru-buru menutup mulut Miko sembari bilang “masih 300 hari lebih Mik”.

“Bu Pita, Bu Elisa masih lama nggak S2-nya?”, Kata Miko.

Entah bagaimana ceritanya, Miko menjadi seperti itu. Aku pun tak kalah mellownya, kenapa bocah itu yang selalu malang-melintang di dalam pikiranku. Rasa-rasanya aku menjadi semakin semangat. Harus! Jika mengingat hal ini, aku ingin belajar sungguh-sungguh. Betapa aku masih dipercayai orang lain. Kenapa tidak melakukan yang terbaik?

Ketika mau boyongan, aku pamitan pada temen-temen pondok. Aku juga ke pondok anak. Di sana ada Ima, salah satu bocah D2 yang mondok di MTPA. Sesampai di kamarnya, ia langsung menghambur ke tubuhku dan memastikan apakah aku akan boyong beneran. Sebelumnya, Lila sudah bercerita padanya kalau aku akan boyongan. Lalu aku menyalaminya. Ima tiba-tiba menciumku dengan ciuman yang dalam, khas anak-anak kecil. Di situ, aku merasa terharu.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

23 Februari 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s