Antara Kota dan Desa

 

Aku terhenyak mendengar penuturan Pak Abdul Moqsith Ghozali, dosen kami di kelas Fiqih Nusantara kemarin. Kira-kira demikian. Pemikiran-pemikiran maju dari seorang tokoh muncul ketika tokoh tersebut tinggal di kota. Kehidupan di kota menawarkan tantangan-tantangan yang lebih menantang. Adapun di desa, siklus kehidupan dan permasalahannya ya begitu-begitu saja. Akan selesai dengan pendekatan pesantren salaf. Ini yang tidak kupahami sebelumnya.

Aku selalu menuntut desaku memiliki kemajuan seperti di kota-kota. Dalam pendidikan, ekonomi, dan daya juang. Keinginan seperti itu tidak buruk, hanya kurang bijak dalam menghadapi situasi. Harusnya aku melihat banyak sisi, bagaimana kondisi desaku saat ini, bagaimana masyarakatnya, bagaimana kondisi alamnya dan sebagainya. Aku baru ngeh setelah diberitahu Kang Ndun dan Bapak. Sebenarnya Bapak sudah berulang-kali memberikan masukan-masukannya. Hanya aku yang masih bebal dan belum bisa menerima. Aku tak pernah mendengarkan orang-orang yang selama ini hidup dan bergelut dengan urusan desa. Pokoknya ya pokoknya.

Keadaan alam desa yang dingin, membuat orang-orang desa selalu bermalas-malasan. Karena enak banget kan tidur berselimut sambil menonon TV di kala hujan dan dingin. Intinya tidak keluar dari rumah. Kehidupan para petani yang pas-pasan, memutar otak untuk mencari hutang tidak memungkinkan mereka untuk berpikir bagaimana perpustakaan bisa berdiri. Jangankan perpustakaan, buku wajib di sekolah saja sulit terbeli. Yang paling penting adalah bisa menyekolahkan anaknya, bisa bayar SPP, bisa bayar para kuli di sawah, punya duit untuk nyawah, ada duit buat beli pupuk, bisa makan, bisa kasih uang jajan ke anak. Atau harapanku terlalu ketinggian?

Ya Allah, betapa kehidupan di desa sangat memprihatinkan. Tidak memberikan keluwesan dan kesempatan-kesempatan yang lebih baik. Desaku adalah gambaran kecil kehidupan di desa. Mungkin terjadi juga di desa-desa lain. Tidak beda jauh. Belum yang ada di luar Jawa, bisa jadi lebih memprihatinkan karena jauh dari pusat pemerintahan. Lalu apa kerjanya pejabat-pejabat, politisi-politisi, orang-orang kaya, pemodal-pemodal.

Jadi teringat  lagunya Cak Nun, di kala kita di ambang keputusasaan.

Akhirnya kutempuh/ Jalan yang sunyi mendendangkan lagu bisu/ sendiri di lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ Cinta yang takkan kutemukan bentuknya

Kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku/ biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu/ Kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku/ biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku

Mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu/ Mungkin engkau butuh kematianku untuk menegakkan hidupmu/ Ambillah! ambillah… akan kumintakan izin pada Allah yang memilikinya/ Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan kurindukan

Kehidupan ini terasa tidak seimbang. Ketidakseimbangannya sangat jauh. Aku mengetahui sedikit karena temenku mengajar di tempat pendidikan elit. Ia bercerita tentang orang tua muridnya yang pejabat. Pejabat yang memiliki istri simpanan. Satu minggunya mendapat jatah 10 juta. Itu uang siapa kalau bukan uang rakyat? Juga para pemodal yang mengeruk kekayaan dari hari ke hari. Satu orang bisa menyelamatkan negara yang sedang collaps.

Semakin terang lirik Jalan Sunyi ini, beberapa orang memang memerlukan darah orang lain untuk melepas dahaganya. Juga membutuhkan kematian seseorang untuk menegakkan hidupnya sendiri. Ibarat kata, ada seseorang yang hanya bisa hidup dan survive melalui kematian saudaranya. Ngeri nggak sih melihat setitik warna dunia ini? Aku tak berdaya. Mau bagaimana lagi? Apa rahasia dari semua ini Gusti? Selalu terngiang kata-kata Meisin, “kita memang memiliki dunia ini. Tapi kita tidak bisa memiliki rahasia-rahasianya.”

Pak Moqsith bercerita bagaimana jika beliau kembali ke desa. Apa yang akan beliau ajarkan kepada masyarakat? Hal ini adalah ilustrasi singkat mengenai orang-orang desa yang sudah belajar di kota-kota jauh. Ilmu seolah menjadi entitas yang jauh dari kehidupan orang desa. Lalu jika kita kembali ke rumah, apa yang masih bisa diperbuat? Kita semakin terasing dan terasing. Kita gagap menghadapi dan menjalani kehidupan di desa yang serba terbatas. Karena apa boi? memang ada kesenjangan antara kota dan desa.

Iwan Fals punya lagu yang mengisahkan kehidupan di desa dan kota. Bang Iwan mengkritik dan mengharap pemerintah untuk menyejajarkan kota dan desa. Lalu apa lagi? Entah, aku tidak memiliki pemikiran yang cemerlang untuk memecahkan persoalan ini. Sekedar wacana, tawaran, atau ide pun aku tak mampu. Apalagi lebih dari itu. Aku hanya bisa menulis secara amburadul seperti ini.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

01 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s