Bocil-bocilku

 

Pagar besi membunyikan suara treng-treng. Tanda kalau bocah-bocah sudah tiba di tempat kami. Sebentar kemudian pasti ada yang panggil-panggil “Kakaaak.” Aku langsung mengintip bocah-bocah itu dari jendela kaca di lantai dua. Oi-oi, mereka sudah datang. Selorohku pada teman yang kebetulan berada di dekatku.

Mereka datang ketika azan Maghrib berkumandang. Buru-buru mereka masuk ke asrama karena terdengar suara petir yang membuat mereka ketakutan. Tampak payung di tangan mereka. Hanya momen seperti itu, kenapa hati ini langsung bahagia? Aku langsung teringat guru ngajiku di rumah, Bu Subi. Betapa kami sangat dekat dengan beliau.

Kami meminta mereka mengambil wudhu dan memakai mukena. Sekitar tujuh bocah yang hadir. Seperti biasa, kami shalat, wiridan, membaca yasin, ngaji, nulis, dan seterusnya. Kami belum sempat takbir ketika Epan meminta izin mau pulang sebentar untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Kami memintanya untuk mengurungkan niatnya karena hujan telah menderas. Lagian, kalau mau pulang sebentar, ngapain Epan membawa serta tasnya. Kami berbisik-bisik dan suud dzon kalau si Epan mau pulang dan kabur karena nggak punya temen cowok. Hanya ada Azmi yang masih berusia dua tahun. Barangkali Epan merasa tidak nyaman karena nggak punya teman laki.

Epan balik lagi ke asrama dengan membawa seplastik pisang coklat. Ya Allah, bahkan kepada bocah cilik pun kami telah berprasangka buruk. Padahal ia merasa ada yang tertinggal. Kata Epan, ibunya membelikan piscok buat dibawa ke asrama.

Cerita bocah-bocah Betawi tidak jauh berbeda dengan cerita bocah-bocah Jawa. Mereka adalah anak-anak yang masih bersih dan jernih. Kita tidak patut mengotorinya.

Kepada Hana, aku seperti menaruh harapan besar padanya. Semoga kelak ia bisa mengajari bocah-bocah mengaji. Hana adalah anak kelas empat. Bacaan Iqra’nya sudah bagus, hanya perlu dibenerin dikit-dikit terkait makhrajnya. Mereka adalah penyejuk hati yang sudah terlanjur memanas.

Nada. Anak ini berusia tiga tahunan. Badannya tambun. Rempong banget kalau ke asrama. Nada membawa tas mukena yang berisi sajadah tebal dan mukena. Ia juga membawa meja lipat dan tas gendong. Suka njaili temennya. Kalau dibalas, langsung mewek. Sedikit-sedikit mukul. Pernah aku bertanya pada nada apakah ia memang suka mukul? Dasar aku yang sama anehnya, nanyain hal begituan pada anak kecil. Pertanyaan yang sama tidak warasnya dengan yang bertanya. Dulu, saban hari Nada minta diceritain Kancil yang ketangkep Pak Tani. Tiap hari seperti itu. Mau nggak mau, aku mengarang cerita lain yang tidak sama dengan yang tertulis di dalam buku. Kalau sudah berkehendak, Nada maunya cepet dipenuhi. Seperti ketika memintaku untuk membacakan cerita Kancil. Padahal bocah-bocah lain belum mengaji. Ketika ia mengaji menggunakan meja lipatnya, aku nggak boleh meminjamnya. Habis ngaji, meja lipatnya langsung ditarik dan dilipat lagi. Nampaknya ia belum bisa berbagi dengan temannya, kecuali dengan kakak sepupunya, Epan. Kalau kita bilang akan menunda keinginannya, Nada langsung mengayunkan tangannya ke badan kami, mukul. Sengaja aku menggodanya karena geregetan dengan kecengengannya. Sedikit-sedikit nangis. Kubilang padanya, “nangis dulu ih, nanti tak bacakan ceritanya.” Tahu sendiri lah apa reaksi Nada selanjutnya. Tangannya naik dan mengayun.

Kemarin sore, aku menggelitiki tubuh Nada sepanjang kuis. Kebetulan Pipit yang menghandle bocah-bocah itu. Kugelitiki Nada di sekujur tubuhnya. Kaki, telinga, badan, perut, pipi. Wkwkwk. Bocah kok nggemesin banget. Kali itu Nada tidak benar-benar memukul. Entah karena lingkungan sini yang agak liar, anak-anak ikut-ikutan liar. Bisa terdeteksi dari ujaran verbalnya, juga tangannya yang ringan bermanuver kemana-mana.

Aku mencoba mengamati Nada. Sebenarnya memukul adalah bahasa yang digunakan Nada untuk mengkomunikasikan maksudnya. Mungkin ia agak kesulitan mengungkapkan maksud hatinya dengan bahasa lisan sehingga tangan dan ekspresi marahnya menjadi bahasa untuk berkomunikasi. Misalkan nih ya, ada anak yang duduk di atas sedangkan kami telah mewanti-wanti supaya semua anak duduk di bawah. Tiba-tiba Nada memukul anak yang duduk di atas. Mungkin maksud Nada adalah meminta temannya untuk duduk di bawah. Atau ketika ia berkeberatan meminjamkan barang-barangnya, sekonyong-konyong memukul temannya. Mungkin Nada melarang temannya untuk meminjam kepemilikannya. Bagaimana menghadapi anak yang seperti ini?

Aku melihat bocah-bocah itu pada kehidupan yang sulit. Ada salah satu anak yang tidak berangkat mengaji karena baju panjangnya sedang dicuci. Apakah karena baju yang dimilikinya hanya satu? Juga aku sering memperhatikan mereka memakai baju yang itu-itu saja. Kebanyakan mereka tinggal di daerah sekitar pasar. Wilayah menengah ke bawah barangkali. Aku senang menjadi bagian dari hidup mereka. Juga mereka telah menjadi bagian dari hidupku.

Duh bocil-bocilku. Bermain lah, berbuat lah salah, teruslah belajar. I’m with you. Tantanglah dunia ini. Berilah warna pada semesta. Aku sayang kalian.

Asrama Mahasiswa, Matrman Dalam II, Jakarta Pusat

03 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s