Jakarta Kota Kepentingan

 

Aku diajak Du menjadi penerima tamu di acaranya PBNU yang melakukan kerjasama dengan tiga kementrian. Setiba di lantai delapan, aku memperkenalkan diri pada temannya Du. Sebut saja Ika. Sebentar kemudian, aku langsung mendapat saran dari Kak Ika supaya aku mempertebal bedak dan memodifikasi bentuk kerudungku. Padahal sebelumnya aku sudah dikomentari Neli. Ia menyarankan aku  untuk memodel kerudungku. Iya deh, kukasih bros kecil di bagian kiri. Lha kok masih aja mendapat masukan-masukan.

Aku memang orang yang sepi, sulit berada di keramaian. Rasanya tidak nyaman saja, ingin kabur dan melarikan diri. Aku merasa berada di dunia lain yang bukan duniaku. Di sisi lain, ini bentuk kepesimisanku. Kenapa aku sulit mengatasi keramaian? Kenapa tidak mau belajar beradaptasi? Belajar membuka diri, membuka perbincangan, dan welkam saja. Terkadang, aku nggak bisa memahami alur berpikirku.

Apalagi di acara-acara seperti itu. Acara yang menghadirkan awak media untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi. Kementrian sepertinya secara sengaja mengundang media.

Aku menangkap pembicaraan-pembicaraan selintas. Setiap terlibat di acara apapun di kota ini, aku selalu memberontak pada diriku yang lain. Di Jakarta, aku melihat betapa orang-orang di sini sangat pragmatis. Kalau tidak ada timbal baik atau keuntungan, orang-orang enggan berturut serta. Misalnya ada seminar mengenai suatu keilmuan, ruangan tempat seminar bakalan sepi kalau tidak dijanjikan uang terlebih dahulu. Inilah bedanya Jakarta dengan Jogja. Orang-orang bergerak jika mendapatkan keuntungan praktis, jangka pendek.

Aku muak melihat orang-orang yang saling berbisik. Datang ke sebuah acara karena ada maunya. Terlebih jika ingin terlihat oleh orang penting. Itu terbukti dari obrolan seseorang yang bilang bahwa pihak A,B,C menulis tanda tangan karena memiliki kepentingan. Tapi orang-orang yang ingin besar, bisa hidup dan tinggal di Jakarta. Menemui orang-orang besar dan lain sebagainya. Bagaimana pun juga tidak dapat dipungkiri bahwa memang mudah memperluas jaringan di Jakarta.

Sayangnya, aku adalah orang yang selalu sinis melihat dunia. Berjalinan hubungan dengan seseorang karena ada udang dibalik terigu. Aku tidak terlalu suka. Juga ketika ada lobi-melobi, mengatasnamakan tokoh besar atas diri kita. Kita berdiri di belakang seseorang. Sungguh itu bukanlah orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kurang PD dalam menjalani kehidupan. Barangkali penilaianku belum tepat dan kurang pas karena hanya mengedepankan satu sisi. Aku belum melihat sisi-sisi yang lain.

Jadi teringat Pak Radhar yang kecewa pada orang-orang besar yang menjual idealitasnya pada urusan politik. Itu terlalu murahan dan rendahan. Menjual NU hanya untuk urusan begitu. Aku melihat Pak Radhar dan Pak Manshur sebagai orang-orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Mungkin karena itulah aku menjadi orang yang merasa dekat dengan kedua guruku tersebut. Aku memiliki unit kecil yang sama dengan guruku. Entah itu idealitasku atau kekeras-kepalaanku. Batasnya sangat tipis. Atau aku saja yang terlalu saklek, tidak bisa luwes dan bijak.

Aku melihat bapak-bapak bule yang ada di kerumunan peserta. Aku seperti mengenalnya, tapi siapa. Aku baru ngeh setelah beberapa menit kemudian. Aku langsung googling dengan kata kunci “Martin Van Bruinessen.” Oi-oi, itu sepertinya Pak Martin. Beliau tampak ngobrol dengan mas-mas, lalu turun entah ke lantai berapa. Kupastikan bahwa orang tersebut benar-benar Pak Martin. Dengan emosi yang naik-turun, aku memberanikan diri bertanya pada si Mas.

“Mas,” panggilku. Si Mas tidak mendengarku sehingga aku mengeraskan suaraku.

“Tadi Pak Martin?”

“Iya”

“Kemana beliau?”

“Nggak tahu, mungki ke Kesekjenan”

“Kesekjenan di lantai berapa?” Aku tambah geregetan karena tidak mendapat jawaban yang to the point.

“Lantai tiga mbak.” Aku turun ke lantai tiga. Kebetulan ada bapak-bapak yang mengantarkan makanan ke Kesekjenan. Aku berpura-pura ingin membantunya untuk membawakan piring sambalnya. Padahal aslinya biar bisa masuk ke ruang Kesekjenan, mau nyari Pak Martin.

Celingak-celinguk, aku tidak bisa menemukan sosok Pak Martin. Aku bertanya pada bapak-bapak. Beliau menjawab kalau tidak melihat bapak-bapak bule. Turun ke lantai satu juga nihil. Tidak kutemukan beliau di sana. Terakhir aku bertanya pada Pak Satpam apakah beliau melihat bapak-bapak bule yang sudah sepuh memakai baju batik warna kuning.

Jawaban Pak Satpam membuatku lemes dan gelo. Ternyata Pak Martin sudah pulang saudara-saudara. Kenapa aku langsung bergegas dan bungah mencari Pak Martin? Pertama, karena aku tidak suka berada di antara politisi makanya aku senang mendapati seorang akademisi. Kedua, aku sedang membaca buku beliau yang berjudul “Kitab Kuning, Tarekat, dan Pesantren.” Aku ingin bertanya-tanya lebih lanjut kepada beliau. Kukiran pak Martin tidak tinggal di Indonesia. Makanya aku seneng banget. Padahal buku tersebut diterbitkan pada tahun 1995 untuk pertama kalinya. Ketika aku berumur dua tahun. Lha kok sekarang baru membaca. Selama ini kemana aja El?? Waktu di Jogja juga pernah diseminarkan. Kenapa aku tidak nyadar kalau apa yang dilakukan Pak Martin adalah sumbangan besar pada keilmuan Nusantara.

Kuceritakan hal itu pada temenku. Lha kok si teman malah memiliki emailnya karena Pak Martin pernah mengajar di CRCS. Rasa-rasanya tuh gimana gituu..

 

Asrama Mahasiswa, matraman Dalam II, Jakarta Pusat

26 Februari 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s