Setelah “Kitab Kuning, Tarekat, dan Pesantren”

 

Kemarin baru merampungkan bukunya Pak Martin. Terkait apa-apa yang berhubungan dengan Nusantara, kenapa selalu buram dan abstrak? Beda jika itu milik negara lain seperti Timur Tengah misalnya. Aku nggak tahu apa-apa yang pernah terjadi di Indonesia. Semuanya gelap. Padahal baru membicarakan satu-dua abad yang lalu. Sedangkan moyang kita sudah hidup di bumi Nusantara ribuan abad yang lalu. Kami tak tahu apa-apa Gusti. Hal ini yang membuatku jengkel, sedih, semangat, dan geregetan.

Mengenai masuknya Islam ke sini saja masih diperdebatkan. Apa yang membuat kita buta pada sejarah hidup moyang kita? Sudahlah. Kembali lagi ke Pak Martin.

Ahli ke-Indonesiaan banyak banget. Greg Fealy, Mark Woodward, Martin Van Bruinessen, Howard Federspil, dan lain-lain. Kita belum tergerak untuk menjelaskan diri kita sendiri sehingga orang lain yang membantu kita untuk mengurai benang kusut diri kita. Federspil menulis tafsir-tafsir yang ada di Indonesia. Kita selalu kalah jauh dengan mereka. Entahlah. Untuk menjelaskan fenomena dibalik kitab kuning, kenapa harus orang lain yang menjelaskannya? Setidak-mampukah diri kita? Padahal kita berinteraksi secara intens dengan kitab kuning.

Apakah bangsa kita masih berada pada urusan sandang, papan, dan pangan? Sehingga kita tidak bisa memikirkan yang lebih luas lagi, jangkauan panjang. Bisa jadi demikian. Kita tidak hendak menyalahkan siapa-siapa, tapi kenapa seperti ini? Kami harus bagaimana lagi? Yo bergerak sebisa-bisanya.

Pak Martin menulis beberapa aspek yang berhubungan erat dengan dunia pesantren seperti kitab kuning dan tarekat. Beliau paham sampai detail-detailnya. Sejarahnya, apa yang terjadi, siapa pelakunya, kapan waktunya, toko-toko kitab, penerbitan, kenapa itu terjadi, kitab yang digunakan di pesantren-pesantren di Indonesia (dalam bidangnya  masing-masing seperti fiqih, bahasa, tauhid) dan lain-lain.

Aku tidak akan bercerita mengenai isi bukunya karena aku sudah lupa. Hehehe. Hanya ingin sedikit mengulas proses pencarian dan penelitian Pak Martin. Ulasan ini berangkat dari anasir-anasir yang kuperoleh setelah membaca cerita Pak Martin di bukunya.

Pak Martin mendatangi toko-toko kitab yang tersebar di Indonesia. Bahkan sampai ke Singapura dan Thailand juga. Juga ke penerbitan-penerbitan. Diakui atau tidak, toko buku yang selalu sunyi sesunyi diriku ini menyimpan segudang misteri. Dari mana buku-buku didapat, sejak kapan, kenapa buku-buku tertentu yang dijual. Meskipun aku sering ke toko-toko buku, sebelumnya aku hanya datang karena suka aja. Aku belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai toko buku. Aku baru nyadar kalau toko buku merupakan penyangga peradaban ketika Pak Radhar bilang bahwa setiap pergi ke suatu kota, beliau pasti akan mendatangi toko buku loak. Pak Ginanjar pernah dianggap aneh ketika beliau membeli buku-buku “pinggiran” di salah satu toko kitab. Pak Ginanjar ketika di Mesir, sampai blusukan di salah satu penerbit yang hampir tumbang. Beliau mencari kitab-kitab warisan ulama Nusantara.

Sumber tulisan Pak Martin diantaranya adalah informan langsung. Wawancara ke pihak-pihak terkait. Kebayang nggak sih, Pak Martin keliling dari satu kota ke kota yang lain. Mendatangi satu per satu informannya. Betapa kerja lapangan bukanlah kerja ringan. Setelah berkeliling mencari data, beliau menarasikannya, menganalissinya, dan mengeditnya (membaca ulang). Hasilnya bagaimana? Orang-orang seperti beliau adalah pembuka jalan bagi para pengkaji setelahnya.` Terkadang kita sudah ditunjukkan jalannya, namun membaca saja kita ogah-ogahan.

Selanjutnya adalah pesantren dan kitab yang dikaji. Apakah Pak Martin mengidentifikasi satu per satu kitab-kitab tersebut? Pak Martin datang ke pesantren yang tersebar dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, luar Jawa. Beliau bertanya satu-satu kemudian mengolah datanya ke dalam bukunya. Sungguh kerja akademik yang waow. Ini adalah sejarah yang berdasarkan data dan fakta. Tidak hanya sejarah yang berbentuk narasi. Sedangkan aku  mau melakukan apa aja belum tahu. Masih bingung.

Sementara ini baru mengumpulkan tulisan-tulisan yang membahas kitab kuning. Semoga nanti menemukan masalah dan formulasinya.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

01 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s