Why???

 

Barusan membaca artikel-artikel tentang kepribadian orang-orang introvert di internet. Introvert adalah karakter seseorang yang cenderung menutup diri. Ternyata banyak sekali penjelasannya.  Ada salah satu blog yang memiliki ciri khas atau ikon sebagai curhatannya orang introvert. Di media-media online pun banyak ceritanya. Mulai dari sifat, pekerjaan, hubungan sosial, keluarga, asmara, dan lain sebagainya. Selain introvert, ada juga KAP. Apa itu KAP? Komunitas Anak Pendiam. Wkwkwk. Ternyata orang pendiam juga butuh diakui keberadaannya. Eksistensinya tidak boleh diabaikan. Hahaha.

Setelah membaca itu semua, aku memberi kesimpulan pada diriku sendiri bahwa aku juga tergolong orang yang introvert plus pendiam. Duh nyesek banget dah. Berikut yang terjadi padaku:

  1. Tertutup

Mamak kemarin bilang bahwa beliau lebih mengetahui tetek-bengek kehidupan Lisa dari pada kehidupanku. Sampai barang-barang yang dimiliki Lisa pun Mamak tahu. Karena apa? Lisa bercerita apapun kepada mamak. Sedangkan aku lebih suka memendam segalanya. Aku selalu berpikir bahwa apa yang kualami tidak perlu diceritakan pada Mamak. Mamak juga kapok menyanyaiku macam-macam karena jawabanku pasti “ya begitulah.” Padahal kalau aku mau sedikit lebih terbuka, aku bisa membagikan pengalamanku pada mamak.

 

Tidak hanya kepada mamak, dengan orang lain pun aku cenderung bungkam. Kecuali dengan teman-teman yang sudah akrab. Atau kepada teman-teman yang sudah kuanggap nyaman. Rasa nyaman ini barangkali muncul karena kami memiliki orientasi, visi, dan misi yang sama. Enak aja kalau curhat kepada si teman itu. Di sisi lain, aku tidak terlalu suka jika bergantung pada orang lain. Kurasa, curhat adalah salah satu dari kebergantungan dengan orang lain. Logikanya, orang curhat atau bercerita kepada orang lain untuk melegakan perasaan, atau meminta pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan.

 

Nah kan?? Kita mengharapkan orang lain untuk memikirkan hidup kita. Makanya aku membatasi diriku untuk tidak selalu curhat. Kalau sudah kecanduan, bahaya. Apalagi dengan salah satu orang. Lha orang tersebut harus memikirkan hidupnya sendiri kok. Kenapa aku merepotkannya?? Ketika mau mengirimkan WA atau semacamnya, aku berpikir ulang. Sebisa-bisanya menekan ego supaya aku tidak mengeluhkan hidupku.

 

Encop pernah bilang kalau aku bisa bersikap sedikit terbuka ketika MA. Padahal saat itu pun aku tidak berani ngobrol di kerumunan orang banyak. Aku memiih menjadi pendengar. Kecuali ada salah seorang teman yang mengajakku bicara face to face. Aku lebih bisa mengendalikan diri jika demikian. Ketika di Mts, aku mengisolasi diriku dari orang luar, teman-temanku sendiri.

 

  1. Suka Menyendiri dan Mensunyikan Diri

Meski aku hidup secara komunal dengan teman-teman selama di pondok, aku memiliki tempat-tempat untuk berduaan dengan diriku sendiri. Di aula, depan kamar, depan konblok, poskestren, luar kamar, lantai tiga, depan poskestren, depan kamar. Intinya tempat yang membikin hati ini nyaman. Duilee. Entah ngapain aja aku selama itu. Beberapa tahun hidup dalam siklus yang begitu-begitu saja. Tapi aku benar-benar happy dengan cara hidup yang barangkalai sangat membosankan menurut orang lain.

 

  1. Seneng Nulis

Entah karena aku suka nulis terus jadi orang yang introvert atau karena introvert makanya aku merasa “gue banget” saat menulis. Yang jelas, aku tak pandai mengungkapkan segalanya dengan bahasa lisan, sehingga aku meminjam bahasa tulisan untuk sekedar curcol dan menumpahkan segala sampah pemikiran dan perasaan. Betapa aku sangat enjoy jika apa yang kurasa, apa yang kupikir, apa yang kulihat, apa yang kugalaukan, apa yang kuhadapi kutulis. Aku nggak bisa mengilustrasikan sebagaimana apa yang kualami. Bahkan bisa lebih dari sekedar enjoy, plong, berada di dalam duniaku sendiri. Jika mulut kita hanya bisa diam, lalu dengan cara apa lagi untuk mencurahkan segalanya?

 

  1. Sulit Mengekspresikan Perasaan

Tumbuh dalam keluarga yang duatar membuatku tak kalah datarnya. Tapi memang begitu sih gambaran keluarga di desa-desa. Nampaknya tidak perlu mengumbar perasaan. Masih teringat ketika kedatanganku untuk pertama kalinya di komplek Q dengan Heni dan Encop. Kami mencarter mobil untuk tiga keluarga. Sewaktu pulang, kami salim kepada para orang tua. Lha kok yang menciumi kami adalah ibunya Heni. Sedangkan orang tuaku dan juga orang tua Encop merasa tidak perlu melakukan hal itu. Sebenarnya ketika tiba di rumah, aku ingin menghamburkan diri ke tubuh Mamak dan Bapak. Memeluk dan berlindung di balik kebesaran mereka. Tapi aku selalu canggung dan malu. Akhirnya aku hanya salim dan menaruh barang di kamar. Hanya mesem-mesem saja.

 

Lucunya ya ketika Mts, saat perpisahan. Orang tua beserta murid yang dapat sepuluh besar diminta naik ke panggung. Saking terharunya, Bapak melakukan sujud syukur dan menciumku saat kami di panggung. Nggak terharu bagaimana? aku nggak pernah berada di angka lima besar saat di kelas, lha kok bisa tiga besar se-sekolahan. Kuakui, betapa saat itu aku ingin membahagiakan orang tuaku yang terseok-seok dalam menyekolahkanku. Barangkali bisa menebus rasa lelah Mamak dan Bapak dengan kehidupan yang ala kadarnya.  Lucunya lagi, uang yang kudapat tidak dikasihkan Bapak padaku.

 

Waktu pulang kemarin, aku dan Lisa bareng-bareng balik ke perantauan. Aku salim dengan Mamak seperti biasanya. Em-em.. Lisa ternyata tidak hanya salim, tapi juga dicium Mamak. Aku hanya melirik sedikit saja. Betapa Lisa adalah anak yang hangat. Aku tidak bisa sehangat Lisa ketika bersikap kepada Mamak. Hiks, kok rasanya ngenes sendiri. Rasa-rasanya aku menjadi anak yang dingin sedingin es batu yang baru dikeluarkan dari kulkas. Klotak-klotak atos rek.

 

  1. Lebih Banyak Diam

Ketika memasuki wilayah sosial baru, aku mendapat penilaian dari orang-orang yang baru kenal sebagai orang yang pendiam dan nyungkani. Iyalah begitu. Aku tidak bisa langsung terbuka dengan setiap orang. Aku membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memperoleh hubungan yang cair. Seperti ketika di pondok, aku gampang akrab dengan banyak orang karena kami tinggal bareng dalam waktu yang lama. Kita mengetahui sifat, kekurangan, kelebihan, dan kepribadian masing-masing. Dengan demikian, kita bisa saling memahami dan menerima. Kita pun bisa bebas menunjukkan diri kita seperti apa. Tidak malu-malu lagi.

 

Sifat pendiamku berpengaruh di banyak kesempatan. Ketika kuliah, di rumah, di asrama, di tempat-tempat kerja, dan lain-lain. Aku memang suka memperhatikan dan mendengarkan orang lain yang bicara. Di waktu-waktu seperti itu, terkadang menjadi orang yang tidak berdaya guna karena hanya bisa diam dan membuka telinga lebar-lebar. Tanpa bisa nimbrung dengan leluasa.

 

  1. Beraktifitas Secara Psikis

Suatu waktu, Kak Kasan mengomentariku sebagai orang yang berpikirnya kenceng. Semula, saudara-saudara yang lain bilang dan mencandaiku kenapa aku kurus banget. Juga halus. *Prikitiew

Lalu aku mengenang, meraba-raba kegiatanku selama ini. Ternyata memang benar. Dibanding kerja fisik, aku sering banget melakukan olah pikir. Apa-apa kuamati dan kupikir. Hal-hal kecil seperti kejadian di pasar, orang-orang, bocah-bocah yang mengaji, keadaan Jakarta, dosen-dosen, dan apapun lah. Makanya aku merasa memiliki cerita yang sangat personal dan intim kepada setiap orang, tempat, dan kejadian. Lha wong aku memang suka mengamati. Seperti pengamatanku kepada mas Abah, mas Zia, Pak Maol, dan Mbah Manaf. Setelah mengamati, aku mencoba menganalis. Dan jadi deh tulisannya. Cuma begitu aja tata kerja duniaku.

 

Kalau kerja pun, aku ingin berkecimpung di nuansa kerja yang penuh kesunyian seperti ngeblog, menulis, dan jualan online. Kerja yang tidak mengharuskanku bertemu dengan banyak orang. Duh-duh, kok malah tambah mengisolasi dan mengasingkan diri. Tidakkah aku mau belajar untuk bergaul dan berkomunikasi? Sudah kucoba yoo, tapi aku merasa tertekan dan tidak nyaman. Ingin kabur aja jadinya. Mungkin belum terbiasa aja sih kataku.

 

  1. Garing awkward

Siapa sih yang tidak suka kekonyolan dan kelucuan dalam menjalani kehidupan ini? Meski demikian, tidak semua orang  tercipta dalam keadaan lucu yang sempurna. Ada beberapa orang yang garing dan krik-krik. Aku salah satunya. Digodain temen-temen, nggak bisa mengerjai balik. Diledekin macem-macem, aku tidak bisa meledek balik. Paling hanya senyum-senyum. Entah bagaimana, apakah aku perlu waktu khusus untuk belajar mengeluarkan joke-joke yang tidak lucu itu. Seperti skak mat atau mati kutu.

 

Ketika keluarga besar berkumpul dan saling melempar lelucon, aku hanya senyum dan tertawa sahaja. Tidak menyumbang kelucuan apapun. Sungguh aku tidak mampu. Aku hanya bisa mengapresiasi kelucuan. Wkwkwk.

 

Hal ini beda ketika goda-menggoda di grup WA, aku mudah melakukan serangan balik terhadap lawan. Sekali-dua kali seranganku mematikan juga. Hahaha. Sudah kubilang sebelumnya kalau aku lebih akrab dengan bahasa tulis. Yasudah, jangan nangis gitu dong El.

 

  1. Tempat Sunyi

Beberapa kali jalan dengan teman di tempat ramai. Ujung-ujungnya pingin nangis karena merasa cepat bosan dan lelah. Kok bisa begitu ya? Padahal kami berangkat sama-sama, pulangnya pun bareng. Ketika di mall, pasar, tempat pariwisata, pusat perbelanjaan, dkk. Aku juga nggak bisa merasa at home di tempat seperti itu. Aku lebih demen pada toko buku, perpustakaan, pasar buku loak, dan semacamnya. Tempat yang tidak terlalu ramai dah. Aku bisa saja pergi ke tempat keramaian, tapi sendirian aja. *Lho-lho. Entahlah, memang sukanya begitu.

  1. Tidak Bakat Menjadi Artis

PD banget ih, emang siapa yang mau jadiin artis? Sebelum mengetahui potensi orang, jangan memandang dengan sebelah mata dong. Dulu ketika di pondok, aku menjadi artis lho. Pemeran terbaik di beberapa acara drama. Sering menang pulak. Kata teman-teman, aktingku bagus bak artis senior. Wkwk. Tapi aku memang tidak berniat menjadi artis karena mempertimbangkan kejiwaanku.

Kalau jadi artis, hidupku tidak tenang dan bahagia. Hanya jadi pusat perhatian pun aku tidak suka, apalagi jadi artis. *Maaf Pak Sutradara, aku belum bisa menerima tawaran Anda. Pernah Mamak bercerita kalau beliau senang dengan pembawaan salah satu tetangga kami yang selalu mau memimpin acara berjanjen. Ialah Mbak Zah. Mbak Zah ini anak remaja idola Mamak karena berani tampil di depan umum. Lha aku? Tidak bisa atau belum bisa seperti Mbak Zah. Mamak juga pernah memintaku melakukan ini atau itu, hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman dan orang banyak.

Ketika aku bercerita bahwa aku begini dan begini, Mamak nampaknya tidak suka. Beliau tetap menyarankanku menjadi “seseorang” versi Mamak. Di situlah aku bimbang. Kata salah satu teman, jika kita menuruti orang tua, kita yang tidak semangat. Giliran menuruti keinginan sendiri, bisa jadi kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak memenuhi keinginan orang tua. Jadi teringat dek Khotim. Wkwkwk. Kasusnya hampir-hampir sama denganku.

Sebelum kita bisa membuktikan kepada orang tua bahwa dunia kita bisa mendatangkan kesejahteraan secara finansial, orang tua akan tetap mengarahkan kita memasuki dunia yang diangankan. Apapun itu, semoga Mamak ikhlas menjadi mamakku yang tidak bisa diandalkan ini. Sory Mak *salim

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

02 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s