Suatu ketika aku telpon-telponan dengan Encop. Membicarakan banyak hal. Ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. Encop nyeplos kalau ia kangen dengan kehidupan di Jogja, terutama saat-saat sulit. Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan masa-masa sulit adalah ketika kita nggak punya duit, kehabisan gitu. Lumrah sekali, anak perantauan yang kehabisan bekal. Lha wong yang di rumah saja tidak mesti pegang duit.

Ingatanku jadi kembali ke masa-masa itu. Bahkan mundur ke belakang lagi. Ketika kami memulai kehidupan di Bangsri sebagai santri yang juga sekolah di Mts. Hasyim Asy’ari. Kehidupanku di Mts. ini sangat berkesan di antara tahun-tahun dalam hidupku yang lain. Bagaimana aku menekan segala keinginan, bahkan bukan hanya keinginan. Kebutuhan-kebutuhan yang kurasa perlu pun aku tidak berani menginginkannya. Aku harus menabung beberapa bulan terlebih dahulu untuk membeli mukena, sepatu, buku, dan lain-lain.

Aku tidak bisa jajan saban hari. Paling bagus juga seminggu sekali sehabis jam olahraga. Beli es campur dan batagor. Masing-masing seharga lima ratus rupiah. Sampai Aliyah pun masih begitu, tidak memiliki cukup uang untuk jajan. Sama seperti Encop. Kami memang senasib seperjuangan. Selain nggak punya duit, aku selalu balapan hafalan Alfiyah dengan Encop. Kami diwajibkan menghafal 300 bait. Kami memiliki buku nadzam kecil yang biasa kami bawa kemana-mana. Targetku adalah menghafal lima bait dalam dua hari. Aku dan Encop saling mendahului. Rasanya panas banget kalau aku didahului Encop. Encop juga merasa begitu.

Kami melanjutkan hidup di kota pelajar, kota impian, Jogjakarta. Kehidupan kami tidak berubah secara signifikan, apalagi masalah duit. Sama saja. Tidak ada peningkatan. Meski kami bisa mandiri dari orang tua, kami tetap tidak bisa mandiri dari orang se-Indonesia. Ibaratnya, kami berdiri tegak di atas keringat rakyat Indonesia. Karena apa? Kami mendapat beasiswa dari uang rakyat yang disalurkan melalui Kemendikbud. Nah, beasiswa yang ditangani pemerintah ini tidak keluar secara rutin. Seringkali telat. Di waktu-waktu telat seperti itulah kami merasa waow banget. Hidup ala kadar. Hanya untuk makan saja, kami mensiasatinya sedemikian rupa biar tidak terlalu mengeluarkan banyak uang. Ngirit. Padahal kalau beasiswanya cair, kita merasa menjadi orang yang sangat digdaya. *Dasar duitt. Jadi teringat lagunya Alam.

Selama hidup di Jakarta, kurasa aku mengalami hidup yang berkecukupan. Cukup untuk makan dengan aman. Meski tidak berani makan makanan yang aneh-aneh dan mahal. Sekedar makan nasi yang lengkap dengan lauk dan sayurnya. Aku melihat teman-teman yang lain, meski tidak semuanya, mereka seperti mengalami kehidupan yang sulit. Aku membayangkan kalau kehidupan mereka sama sulitnya dengan kehidupanku pada masa-masa yang telah berlalu.

Sampai akhirnya aku juga mengalami masa-masa kritis. Duit beasiswa telat lagi. Sebenernya kalau aku bisa mengatur keuanganku dengan baik, aku bisa hidup dengan stabil. Terlalu berlebihan kalau punya duit banyak. Beli buku nggak kira-kira, juga menitip-nitipkan uang pada orang lain. Tapi kalau tidak begini, hidup kita kurang menantang. Pengalaman adalah guru terbaik di sekolah kehidupan.

Duitku tinggal beberapa puluh ribu sebelum dikirim dua temanku. Kini, sehabis dari Jogja, duitnya sudah habis lagi. Duh… Kalau liat buku memang kagak bisa nahan. Di Fatin habis 160 ribeng. Di FC Adab habis 50 ribeng. Di OBJ habis 40 ribeng. Lengkap sudah penderitaan dan kebahagiaanku. Seneng karena mendapat buku yang selama ini kucari-cari. Sedih karena duitku bener-bener habis.

Aku punya teman bapak-bapak dan ibu-ibu yang akan sangat mudah membantuku. Namun aku gengsi lahyauuu. Jadi nggak berniat meminjam uang ke mereka. Mentok-mentoknya mungkin nanti mengadu ke Mbak Niswah. Hahaha. Tapi aku sudah lama tidak mengetahui kehidupan Mbak Niswah paska menikah. Cerita ke orang tua, jelas tidak mungkin. Bapak dan Mamak pasti akan pontang-panting nyari duit.

Mereka harusnya sudah menikmati masa paroh bayanya dengan memperbanyak amalan-amalan. Tidak direpoti dengan urusan-urusan macam begini. Sudah sepuh, masih saja mencari nafkah untuk sekolah anaknya. Harusnya Lisa sudah menjadi tanggungjawabku. Kalau Mamak sampai tahu, beliau pasti sedih sendiri. Aku pantang menceritakan cerita kesedihan kepada Mamak. Meski aku yang sedih dan berada dalam keadaan sulit, Mamak akan merasa lebih sedih lagi. Meratapi anaknya dan juga dirinya sendiri. Mamak menanggung kesedihan yang dobel-dobel.

Mamak tidak tahan mendengar cerita-cerita kesedihan yang dialami anak-anaknya. Ketika Lisa selalu bilang ke Mamak kalau ia nggak pernah makan siang di Pondok, Mamak menyetop cerita Lisa. Selain itu, Lisa juga sering bilang kalau makanan di Pondok rasanya nggak enak. Mamak jadi sebel sendiri. Makanya aku nggak mau bercerita hal-hal semacam ini. Terlalu sensitif bagi seorang ibu.

Dalam keadaan ini, aku menjadi pribadi yang lebih pendiam dan nelangsa sendiri gara-gara nggak punya duit. Mungkin tidak terlihat secara lahirnya, namun di dalam hati jelas ada perasaan semacam nelangsa ini. Nelangsa secara diam-diam. Ketika Mbak Dewi mengajakku belanja ubi, kacang, pisang di pasar Pal Meriam, aku membeli ikan asin karena tergoda. Mbak Dewi sendiri membeli sayuran yang akan dimasak sop. Karena sopnya terlalu asin, ikan asinnya nggak jadi digoreng.

Sampai akhirnya aku ke Jakarta kembali, ikan asin itu masih ngadem di kulkas. Tidak terpikir kalau ikan asin akan menjadi juru selamatku. Betapa dengan hal-hal kecil seperti ini, kita bisa merasa senang bukan main. Benar-benar mensyukuri apa yang kita punya. Sebenernya malu juga kalau tiap hari menggoreng ikan asin. Baunya sangat menyengat dan menusuk indra penciuman, hidung. Tercium sampai pojok-pojokan asrama. Tadi ketika buka dengan indomie rasa ayam bawang, nasi, dan ikan asin, aku sangat menikmati suap demi suap nasi yang masuk ke mulutku. Jarang-jarang kan menikmati makanan sedemikian nikmatnya?? Aku memang seringkali abai.

Siasat selanjutnya adalah puasa. Lumayan, kalau puasa, kita nggak akan kepikiran urusan makan. Bisa fokus melakukan apapun. Beda ketika nggak puasa, perut kita tidak akan menahan lapar dengan kuat. Itulah psikologi kita yang sedang puasa dan tidak puasa. Bisa-bisa, kalau tidak puasa dan kita hanya makan sekali dalam sehari, asam lambung kita akan naik. Magh deh.

Kemudian aku membuka kaleng yang berisi uang recehan. Wadaaaw… ternyata uang receh yang sering kita remehkan saat kita memiliki uang kertas, bisa menolong kita dalam masa-masa gentingku. Tinggal dihitung dan ditukarkan ke Indomaret. Dengan begini saja rasanya bahagia banget. Dan kita akan sangat kangen dengan masa-masa seperti ini. Suatu saat ketika kita tidak sedang mengalami masa ini. Roda kehidupan akan selalu berputar. Kita harus siap menghadapi keadaan apapun, apapun.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

13 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s